Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 144 Jalan-jalan


__ADS_3

Keesokan harinya, Dendy pagi-pagi sekali sudah bersiap-siap. Mamanya heran, masih jam tujuh pagi kenapa anak sulungnya itu sudah bersiap.


"pagi sekali kak...!" ucap mamanya Dendy


"iya ma...mau ke rumah Dina..." jawab Dendy


"memangnya Dina bernagkat ke kota J jam berapa?" tanya mamanya Dendy


"sore ma..." ucap Dendy sambil mengambil nasi


Dendy memakan sarapannya dengan cepat. Mamanya hanya geleng-geleng kepala melihat anak sulungnya itu buru-buru makan. Setelah selesai makan ia mengambil jaket dan kunci motornya.


Dendy melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah Dina. Hanya lima belas menit ia telah sampai di rumah Dina.


Masih pagi sekali untuk dia sampai di rumah Dina. Tapi demi rasa rindunya ia tidak memikirkan jam berapa sekarang. Bahkan semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan ia harus bangun pagi-pagi agar bisa ke rumah Dina tidak terlalu siang.


Dendy memarkirkan motornya di tempat biasa ia memarkirkan motornya. Baru ia melepas helmnya, ia sudah melihat Dina keluar dari rumahnya.


Dengan senyum mengembang Dina berjalan menghampiri Dendy yang masih duduk di atas motornya.


"kenapa pagi sekali?" tanya Dina dengan senyum mengembang


"kenapa? Tidak boleh?" tanya Dendy dengan tatapan teduhnya


"boleh..boleh...mau keluar atau di rumah saja?" tanya Dina


"keluar yuk...kita jalan-jalan mumpung kamu pulang" ucap Dendy


"sebentar! aku ganti baju dulu..." ucap Dina kemudian bergegas masuk ke dalam rumah dan berganti baju.


Sepuluh menit berlalu, Dina sudah keluar dan berdandan rapi. Tidak seperti biasanya Dina memakia pakaian kasual, kali ini Dina berpakaian lebih feminim.


Sengaja berdandan untuk orang yang ia sayangi. Karena tidak setiap hari ia bertemu dengan Dendy. Dendy menyalakan motornya dan menunggu Dina naik ke boncengannya.


Dendy melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Ia mengajak Dina ke danau di dekat sekolah Dina dulu. Ia ingin menghabiskan waktu yang tidak banyak itu dengan Dina.


Mereka telah sampai di danau yang mereka tuju. Dendy memarkirkan motornya di tempat parkir. Kemudian ia berjalan menggandeng tangan Dina. Ia mengajak Dina ke tepi Danau dan duduk di sebuah kursi taman yang tak jauh dari tepi danau itu.


"bagaimana di kota J ?" tanya Dendy


"biasa saja..." jawab Dina singkat "lagipula aku belum sempat kemana-mana, baru juga satu minggu berada di sana" Dina terkekeh


"ya...mungkin saja kamu jalan-jalan dengan siapa gitu..." ucap Dendy dengan nada cemburu


"iya jalan kaki dari kos ke kampus" jawab Dina sambil terkekeh


Ia tidak memasukkan ucapan Dendy ke dalam hatinya. Ia tahu Dendy cemburu, maka dari itu ia tidak menanggapi ucapan Dendy dengan serius.

__ADS_1


"cowok-cowoknya pasti tampan-tampan" Dendy masih dengan anda cemburu


"mulai lagi....sudah ah...lebih baik kita pulang daripada membahas hal-hal yang tidak penting" ucap Dina sambil berdiri dari duduknya


"iya...iya...maaf...jangan marah dong...!" Dendy merengek


"kamu itu...masih saja bahas yang tidak-tidak" Dina mencebik


"iya maaf sayang....aku hanya takut..." ucap Dendy lirih menyesal


"kamu itu....tahu begini kemarin aku tidak pulang" Dina mencebik


"jangan begitu....terus aku bagaiman kalau kamu tidak pulang?" Dendy merengek


"dhuh...kenapa seperti pacaran dengan adik bayi ya..." Dina tergelak


Mereka berdua bercanda, saling mengolok, saling mencibir, tapi tidak ada yang dimasukkan dalam hati. Mereka berdua menyadari jika mereka saling membutuhkan satu sama lain.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Dendy mengajak Dina makan ke warung bakso langganan mereka. Dendy memesankan apa yang menjadi kesukaan Dina.


"Den, pesankan nasi ya... Aku lapar" Dina tersenyum malu


"iya sayang...sebentar" Dendy berjalan ke pemilik warung untuk menambah pesanannya


Setelah pesanan mereka datang, mereka pun mulai makan, dan seperti biasa Dina tak lupa ritualnya sebelum makan. Dendy hanya memperhatikan, ia merasa tidak ada yang berubah dari Dina hanya penampilannya saja yang sedikit berubah.


"iya..." jawab Dina singkat karena mulutnya penuh dengan makanan


Mereka berdua memghabiskan makanan mereka. Setelah menghabiskan makanan mereka, Dendy membayar makanan yang mereka makan.


Dendy mengantarkan Dina pulang untuk beres-beres sebelum ia berangkat lagi ke kota J. Sesampainya di rumah Dina buru-buru masuk ke dalam rumah. Ia membereskan barang-barang yang akan ia bawa.


Setelah berpamitan dengan mama dan papanya Dina keluar rumah dan menghampiri Dendy yang menunggunya sejak tadi.


"sudah siap...?" tanya Dendy


"sudah...ayo..." ucap Dina kemudian menaiki boncengan Dendy


Dendy melajukan motornya ke arah terminal. Di tengah jalan Dina melihat Bimo menaiki motornya berlawanan arah dengan dirinya. Dina berpikir sepertinya Bimo ke rumahnya.


Mungkin dia ingin mengajak Dina berangkat bersama dengan dirinya. Tapi Dina tidak mau memikirkannya lagi. Ia sekarang bersama dengan Dendy.


Tak berapa lama mereka telah sampai di terminal. Dina turun dari boncengannya Dendy dan berpamitan. Mata Dina berkaca-kaca rasanya berat meninggalkan Dendy tapi bagaimanapun ia juga harus berangkat untuk kembali ke kota J.


"kenapa kamu menangis?" tanya Dendy lembut


"masih kangen...." rengek Dina

__ADS_1


"iya....sama...aku juga masih kangen..." ucap Dendy dengan senyum teduhnya


"kapan ya...ada libur panjang...?" air mata Dina tidak dapat dibendung, akhirnya jatuh begitu saja


"sudah...jangan menangis...nanti aku akan sering-sering telepon kamu" ucap Dendy sambil menghapus air mata Dina dengam kedua ibu jarinya


"tapi tidak sama Den..." Rengek Dina


"iya aku tahu...tapi ini jalan kita, jalan yang juga sudah kamu pilih" ucap Dendy menenangkan Dina


"iya..." Dina mengangguk masih terisak


"sudah...sana nanti kamu kemalaman sampai di kos" ucap Dendy yang sebenarnya juga berat melepas Dina.


"iya...aku berangkat dulu..." Dina berpamitan


"iya hati-hati di jalan...jangan lupa makan ya... jaga kesehatan" ucap Dendy dengan tatapan teduhnya.


Dina melambaikan tangannya dan berjalan meninggalkan Dendy memasuki terminal. Setelah memastikan Dina masuk ke dalam terminal. Dendy melajukan motornya kembali pulang. Sebenarnya ia juga berat melepas kepergian Dina.


Tapi bagaimanapun ia juga harus merelakan dan mendukung keputusan Dina untuk kuliah di kota J. Ia harus menjadi sosok yang tegar ketika Dina terlihat rapuh.


Ia tidak boleh menunjukkan kerapuhannya di depan Dina. Ia ingin Dina tidak terbebani dengan perasaannya. Sebab ia sudah memantapkan hati untul kuliah di tempat Dina kuliah kelak.


Itulah yang disuka Dina, dirinya dan Dendy bisa saling melengkapi satu sama lain. Ketika salah satu emosi, yang lainnya bisa menenangkannya, dan ketika yang satu sedih yang lainnya bisa menjadi penghiburnya.


Itulah sebuah hubungan yang baik, saling melengkapi dan saling mendukung, saling percaya dan saling setia.


.


.


.


B e r s a m b u n g


.


Dukung terus karya ini ya bestie...


Jangan lupa like, vote dan komennya ya


Jangan lupa mampir di karyaku yang kedua 'JADIKAN AKU PACARMU!'


Kisah Toni dan Dina yang akan banyak menguras emosi hihihi...


Terima kasih sekebon bestie...

__ADS_1


__ADS_2