Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 182 Riri mengamuk


__ADS_3

Kuliah di jam kedua Dina sekelas lagi dengan Caca dan Berta. Dina duduk bersama Ratna di depan kelas menunggu Dosen datang. Dina menunduk, merasa malu dengan kejadian yang baru saja terjadi.


Meski bukan dirinya yang salah tapi Dina tetap merasa malu, bertengkar dengan kakak tingkat karena cowok, yang sebenarnya tak perlu diributkan.


"Din...aku baru dengar dari teman-teman, kamu tidak apa-apa?" seseorang datang menyapa Dina.


Dina mendongak menatap siapa yang mengajaknya bicara "aku tidak apa-apa kak" Dina memaksakan senyumnya


"yakin kamu tidak apa-apa?"


"yakin kak..."


"Bimo dimana? Di tempat kamu?" tanya Vito teman dekat sekaligus teman kos Bimo. Dina menjawab dengan anggukan


"jadi dari tadi kamu berbohong Din?" tanya ratna pelan dan dijawab anggukan oleh Dina


"aku hanya kasihan dengannya Na....semalaman ternyata dia tidur di mobil di depan kosku"


"aku sudah tahu Din...aku yang semalam memberitahu dia kalau Riri di kos, waktu itu katanya dia baru mengantar kamu pulang" ucap Vito


Dina menghela nafasnya "kenapa sih aku harus dilibatkan dengan masalah rumit begini?"


"permasalahannya sebenarnya ada di kamu....kalau kamu mau menerima Bimo lagi, dia akan memperjuangkan hubungan kalian" terang Vito


"kenapa aku?" Dina makin bingung dan merasa tersudut


"kemarin Bimo cerita om Ivan menyuruh Bimo membawamu ke hadapannya sebagai pacarnya, kalau dia tidak bisa membuktikan ucapannya, papanya tidak bisa membantunya"


"kenapa rumit sekali " Dina mengusap wajahnya "aku sudah punya pacar kenapa aku harus dilibatkan dengan semua ini, apa tidak bisa kamu membantunya, mencari ayah dari bayi Riri mungkin" Dina menatap Vito dengan tatapan memohon


"apa?! Jadi kak...." Caca berteriak berjalan menghampiri Dina, tapi sebelum Caca melanjutkan ucapannya, Ratna dengan sigap membungkam mulut Caca.


Dina menganggukkan kepalanya dia tak mau banyak bicara karena ia takut Riri akan semakin marah kepadanya. "Bagaimana kak? Bisa kan?"


Vito menggaruk kepalanya yang tak gatal "aku sebenarnya bingung, kenapa kamu jadi rebutan banyak cowok sih Din...? Cantik? biasa saja"


"mana kutahu kak! Memangnya siapa? Aku tidak merasa ada yang menyukaiku" Dina mencebik


"ah....kamu tidak tahu saja, itu anak-anak kosku sering meributkan ingin mendapatkan kamu" Vito terkekeh

__ADS_1


"memangnya kamu pernah ke kosnya kak Vito Din?" tanya Berta yang baru datang


"iya Din...aku penasaran" Caca menimpali


"beberapa kali, malah pernah seharian dia tidur di kamarnya Bimo, entah apa yang mereka lakukan di dalam" Vito menaikturunkan alisnya


"sembarangan kalau bicara, aku menganggap mas Bimo itu kakakku ya..." ucap Dina kesal


Vito tergelak melihat wajah Dina yang kalau marag malah membuat Dina terlihat lucu dan menggemaskan. Benar yang dikatakan teman-teman kosnya, Dina itu tidak cantik tapi dia itu menarik.


"eh...ngomong-ngomong ini sudah lebih lima belas menit kenapa dosennya belum datang ya?" Ratna melihat sekeliling


"sepertinya kosong, kalau lima belas menit tidak datang ya berarti kosong" ucap Vito santai


"kalau kosong aku pulang saja..." ucap Dina


"duh.....yang sudah ditunggu di kos" ledek Vito


"apaan sih kak?" Dina kesal "jadi bagaimana yang tadi kak? mau bantu kan? Bukan demi mas Bimo, tapi demi aku bagaimana?" Dina mengedipkan matanya


"sejak kapan kamu jadi genit begini Din?" protes Caca


"pacar? Pacar dari mana?!" Dina memukul Vito memakai tasnya, karena dari tadi ia digoda terus.


"Bimo sendiri yang bilang begini.... Ehem...ehem....tes..tes" suara Vito dibuat-buat seperti Bimo "awas ya lu Vit...jangan berani dekati Dina, Dina itu cewek gua" Vito bergaya seperti Bimo kalau sedang berbicara


"jatuh deh...pasaranku" bahu Dina melemas


"itu Dendy mau dikemanakan... Dindin..." ucap Berta kesal


Dina terkekeh "bercanda...."


"ini sudah pasti kosong....dari tadi Dosennya tidak tampak batang hidungnya" ucap Vito sambil melihat ke arah tangga


"sudah ah...aku pulang....kasihan mas Bimo, belum aku kasih makan" ucap Dina bangkit berdiri


"tolong kanda Bimo dijaga dan dirawat baik-baik ya dinda... " ucap Vito sambil berlari meninggalkan Dina dan ketiga temannya.


Dina dan ketiga temannya berjalan menuruni anak tangga. Caca dan Berta merasa ada kabar yang belum mereka dengar. Mereka berdua mencerca Dina dengan berbagai pertanyaan.

__ADS_1


Mau tidak mau Dina menceritakannya dari awal. Sampai mereka di tangga terakhir, di sana sudah ada Riri dan beberapa temannya menunggu Dina.


"dimana Bimo?!" tanya Riri sambil berkacak pinggang


"kakak kan calon istrinya kenapa tanya aku yang bukan siapa-siapa dia" jawab Dina acuh berlalu meninggalkan Riri dan teman-temannya.


Tiba-tiba rambut Dina ditarik dari belakang "katakan dimana dia?!" teriak Riri


"aku tidak tahu kak!" ucap Dina sambil memegang rambutnya


"ada apa ini Din?" tiba-tiba Dodi muncul kemudian ia menarik tangan Riri agar melepaskan cengkraman tangannya pada rambut Dina


"aku tidak tahu Dod? Kakak ini marah-marah menanyakan ayah dari bayinya kepadaku" sontak semua yang berada di sekitar mereka menatap Dina tak percaya, begitu juga dengan Dina


"sialan kamu Dina!" Riri berlari meninggalkan kerumunya yang tadi mengelilingi mereka.


"Din...kamu jadi pulang bersama kami?" tanya Caca dan Berta yang melihat Dina terpaku berdiri di sebelah Dodi


"Dina biar aku yang mengantarnya ya..." ucap Dodi mencoba menebar pesona pada teman-teman Dina. Semua membubarkan diri, tinggalah Dodi dan Dina. Dodi mengajak Dina ke kantin, Dina terlihat syok dan tak banyak bicara.


Dodi memberikan teh botol untuk Dina "minumlah..."


"terima kasih Dod.." Dina meminum tehnya


"kamu baik-baik saja? Siapa cewek tadi Din...?"


Dina masih diam, ia masih sangat syok dengan kejadian baru saja, dua kali dalam satu hari Dina begitu dipermalukan oleh orang yang sama.


Dina benar-benar merasa malu, tak pernah terbayangkan dalam hidupnya akan dicaci dan dibentak oleh orang yang tak ia kenal. Selama ini ia selalu berusa untuk baik ke semua orang.


Tapi ternyata bersikap baik kepada semua orang tak selamanya mendapat balasan yang sama. Dina merenungi semuanya, apakah keputusan yang salah ia mau dekat dengan Bimo padahal hubungan mereka hanya sebatas teman.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2