
Curhat sedikit...
Otor sedih...sudah nulis ini dari semalam tapi tidak lolos-lolos review entah kenapa, otor tidak tahu...hiks...hiks...
Lanjut ya bestie ....
......................
Putra yang dari tadi hanya diam dan berwajah datar merasa tidak tega dengan Dina. Ia tadi mendengar Yuni yang menjelek-jelekkan Dina karena tulisan yang ada di papan tulis di kelasnya. Bagaimanapun juga Putra menaruh hati pada Dina sudah sejak lama.
Flashback On
Putra yang baru datang tidak sengaja mendengarkan teman-temannya berdiri di depan papan tulis membicarakan Dina. Pandangannya tertuju pada papan tulis, Putra melihat tulisan yang membuat dadanya sesak.
"Dina itu perebut pacar orang, itu buktinya" Yuni tiba-tiba datang dan menjelek-jelekkan Dina.
"apa benar Yun...?"
"tidak mungkin..."
Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman sekelas Dina.
"jangan mengada-ada kamu Yun!" bentak Putra
"siapa yang mengada-ada, pacar Dina yang sekarang hasil merebut pacar orang" ucap Yuni ketus
"kamu tidak tahu yang sebenarnya, jangan menyebarkan fitnah lagi, sudah cukup Dina tertekan di kelas ini!" Putra geram, sudah begitu lama tapi Yuni masih saja menjelek-jelekkan Dina
"kamu sudah mulai terperdaya dengan Dina ya...?" Yuni terkekeh
"terserah kamu mau bicara apa, tapi yang jelas Dina tidak seperti yang kamu ucapkan!" ucap Putra berlalu meninggalkan Yuni dan teman-teman sekelasnya yang masih berdiri di depan kelas.
Flashback off
Dina merasa aneh kenapa Putra hanya diam dan tatapannya ke arah papan tulis seolah ada yang membuatnya kesal dan marah. Dina masih belum menyadari tulisan yang ada di papan tulis. Dina duduk masih memandangi Putra yang terdiam.
"kamu kenapa Put? Kalau aku salah tolong beritahu dimana salahku" ucap Dina menghela nafas dan mulai duduk menghadap papan tulis.
Seketika Dina membulatkan matanya melihat apa yang tertulis di papan tulis. Dina terkejut dan sedetik kemudian ia tersenyum sendiri, wajahnya merah merona. Dina masih menatap tulisan yang ada di papan tulis.
Hanya tulisan "DINA I LOVE YOU FROM DENDY" yang ditulis dengan besar dan indah, dibingkai dengan lambang hati sudah membuat hati Dina berbunga-bunga. Hal yang sangat sederhana tapi mampu membuat dia terbang ke awan. Dina menyukainya, hal sederhana tapi penuh makna.
"itu yang membuat anak-anak kelas kita memandangmu dengan tatapan yang bermacam-macam makna" ucap Putra datar masih menatap papan tulis
__ADS_1
"memangnya kenapa Put, hanya tulisan biasa aku rasa semua juga pernah menulis seperti itu, kadang di meja kadang di kursi ada pula yang di dinding" ucap Dina dengan wajah berseri-seri
Ia memikirkan, kapan Dendy masuk ke kelasnya, apakah semalan sewaktu datang ke studio. Ah...manis sekali Dendy memberikan kejutan kecil untuknya.
"tulisannya memang biasa, tapi bumbunya yang tidak biasa" ucap Putra tanpa menatap Dina
Dina menatap Putra menautkan kedua alisnya, bingung dengan perkataan Putra.
"bumbu? Maksudnya Put?"
"Yuni masih saja menjelek-jelekkan kamu Din, dia masih menuduh kamu merebut yang namanya tertera di papan tulis"
"oh...pantas saja...semua sepertinya memandang rendah padaku" ucap Dina datar
"kamu tahu ceritanya bukan? Jadi jangan salah paham lagi terhadapku" Dina beranjak dari tempat duduknya.
Dina merasa lelah, sudah sekian lama tapi masalahnya dengan Yuni sepertinya tak kunjung berakhir. Dina sudah memilih diam karena jika ia meladeni Yuni hanya akan buang-buang waktu dan tenaga.
Dina berjalan ke kelasnya Ani. Semua teman-teman sekelas Ani ramah dan menerima Dina dengan tangan terbuka. Dina merasa senang dan selalu terhibur jika berada di kelas Ani. Sampai-sampai teman-teman Ani menyuruhnya pindah kelas saja.
Dina bercanda dengan Ani dan teman-temannya di depan kelasnya. Tiba-tiba saja ada yang memanggil namanya. Ia kenal betul dengan suara itu.
"Din..." Gilang menghampiri Dina
"siapa Din?" Gilang pura-pura tidak tahu
"jangan pura-pura" ucap Dina kesal
"hanya uji nyali Din" Gilang terkekeh
"pantas saja ditelpon belum sampai rumah" Dina mencebik
"tante Tari menyuruh kamu mampir hari ini" ucap Gilang
"oh...lihat nanti ya...soalnya aku mau daftar bimbingan belajar " ucap Dina
"aku hari ini diantar dan dijemput Dendy" ucap Gilang berjalan masuk ke kelasnya.
Bel tanda masuk sudah berbunyi, semua siswa bergegas masuk kelasnya masing-masing. Dina duduk di sebelah Putra yang sekarang wajahnya sudah tidak sedatar waktu Dina baru datang.
Dina duduk dan memandang papan tulis yang ternyata sudah bersih. Tulisan dari Dendy tadi sudah dihapus bersih tak berbekas. Dina menatap Putra yang sedari tadi ternyata sedang memperhatikannya.
"Anto yang menghapus" ucap Putra seolah tahu apa maksud tatapan Dina. Dina hanya menghela nafasnya, merasa lega karena sudah dihapus, tadi ia buru-buru keluar kelas karena merasa tidak nyaman dengan tatapan teman-teman sekelasnya.
__ADS_1
Setelah semua urusan Dina selesai, ia berjalan ke arah studio. Di sana sudah ada Alex dan Widi yang sedang menunggunya.
"Din...jangan lupa hari ini kamu gantikan Joni ya..." ucap Alex
"iya...tapi aku mau pergi dulu dengan Anto dan Widi sebentar" ucap Dina
Dina, Widi dan Anto pergi meninggalkan studio. Mereka pergi ke salah satu tempat bimbingan belajar yang sudah cukup terkenal di kotanya. Dina pergi membonceng Widi, sedangkan Anto mengendarai motornya sendirian.
Setelah mengisi beberapa formulir dan membayar biaya untuk bimbingan belajar mereka mendapatkan jadwal bimbingan mereka satu setengah bulan ke depan. Setelah semua selesai mereka bertiga kembali ke studio.
Dina menepati janjinya ke Alex untuk menemaninya siaran. Sedangkan Anto dan Widi hanya mengamatinya dari jauh. Mereka berdua sama-sama menaruh hati pada Dina, tapi Anto tidak mau mengakuinya.
Telepon studio berdering, dengan sigap Dina mengangkatnya karena telepon itu terletak di meja siar.
"halo dengan Dina di sini, ini dengan siapa? ada yang bisa dibantu?"
^^^☎️ ada, ini Dendy^^^
"oh...ada apa Den"
^^^☎️mampir ke rumah ya...^^^
"iya, sebentar lagi aku selesai"
^^^☎️kutunggu sayang^^^
Dina meletakkan gagang teleponnya mengakhiri panggilan telepon dari Dendy. Ia melanjutkan siaran hingga jam istirahat kedua selesai. Setelah selesai membereskan barang-barangnya Dina keluar studio dan berjalan ke tempat parkir.
Dina mengendarai motornya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah Dendy. Dalam hatinya bertanya-tanya kenapa tadi pagi Gilang mengatakan bahwa mamanya Dendy menyuruhnya ke rumah. Dan siang ini giliran Dendy yang mengingatkan untuk mampir ke rumahnya.
Seingat dia, sewaktu membantu mamanya Dendy memasak tempo hari, ia tidak diberitahu apa-apa, kenapa hari ini semua orang menyuruhnya ke sana. Apakah akan ada acara, atau ada masalah yang melibatkan dirinya. Ataukah ia telah berbuat suatu kesalahan yang tidak ia sadari. Semakin memikirkannya Dina semakin tidak menemukan jawaban.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
.
__ADS_1
Jangan lupa ritualnya ya bestie...