Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 120 Hari yang mendebarkan


__ADS_3

Dendy mulai memikirkan semua kemungkinan yang bisa ia lakukan beberapa hari terakhir. Ia akan berkorban agar hubungannya dengan Dina berjalan dengan baik. Dendy ingin menebus semua kesalahan yang telah ia perbuat terhadap Dina. Selain itu alasannya yang lain karena dia juga tidak bisa berhubungan jarak jauh.


Tapi ia belum mengutarakan apa yang ia pikirkan ke Dina maupun kepada kedua orang tuanya. Karena merasa waktunya belum tepat. Ia sekarang masih kelas dua, jika sekarang ia mengutarakan apa yang dia pikirkan, ia takut akan ada penolakan dari kedua orang tuanya.


Perlahan isakan Dina mulai tak terdengar, Dendy mengendurkan pelukannya. Ia menatap wajah Dina yang terlihat sedih, bahkan air matanya belum benar-benar berhenti mengalir dari matanya.


"sudah...? Sudah lega?" tanya Dendy dengan senyuman teduhnya menatap Dina. Dina hanya menganggukkan kepalanya.


"aku lapar...mau menemani aku makan?" tanya Dendy lembut


Dina mendongakkan kepalanya menatap Dendy, seketika ia merasa bersalah. Dia tadi tertidur dan Dendy ikut menemaninya dalam keadaan perut kosong belum makan.


"ayo aku temani" Dina bergegas bangun


"kanapa buru-buru" Dendy terkekeh


"kamu belum makan sejak tadi, nanti kamu sakit" ucap Dina sedikit mengomel


"tidak apa-apa Dina sayang...aku masih merindukannmu" ucap Dendy teduh sambil membelai rambut Dina


"sudah ayo..." Dina berdiri dan menari tangan Dendy


"iya...iya...." ucap Dendy tertawa kecil mengikuti langkah Dina menuruni tangga dan berjalan ke meja makan.


Dina membuka tudung saji, dan menyiapkan makanan untuk Dendy. Tadi sebelum mamanya Dendy pergi, sudah berpesan kalau Dendy pulang suruh langsung makan. Kemudian ia duduk di sebelah Dendy menemani Dendy makan.


Sesekali Dendy menyuapkan makanannya untuk Dina. Dan Dina 'pun menerimanya dengan senyuman. Ini yang Dina suka dari Dendy, ia begitu lembut memperlakukan Dina, apapun yang sedang Dendy lakukan selalu masih bisa memperhatikan Dina.


.


.


Hari-hari berlalu, mereka berdua semakin lengket, setiap hari Dina menyempatkan waktu untuk mampir ke rumah Dendy setelah dari studio.

__ADS_1


Hari ini adalah hari penentuan, Dina dari pagi sudah tidak sabar untuk mengetahui apakah dirinya lolos tes masuk perguruan tinggi negeri atau tidak. Dina pergi ke warung internet, mengecek apakah nomor tes nya lolos atau tidak.


Dengan perasaan yang tak menentu, ia mulai membuka situs tes penerimaan perguruan tinggi negeri. Lama ia menunggu halaman situs terbuka, tapi tak kunjung terbuka. Mungkin karena banyaknya yang mengakses situs tersebut jadi halaman tak kunjung terbuka.


Karena sudah lama ia menunggu tak kunjung terbuka, Dina memutuskan untuk menutup halaman tersebut. Kemudian Dina keluar dari warung internet, dan pergi mengendarai motornya ke studio. Sesampainya di studio, ternyata dalam keadaan kosong tidak ada siapa-siapa di sana.


Dina memutuskan untuk siaran sebentar, karena peralatan sudah menyala, tapi ditinggalkan oleh krunya entah kemana. Ketika sudah di meja siar waktu terasa begitu cepat, yang niatnya hanya sebentar malah sampai berjam-jam Dina baru menyudahi siarannya.


Sampai ia menyudahi siarannya, teman-temannya belum juga datang. Ia memutuskan untuk pulang, tapi sebelum pulang ia mampir dulu ke rumah Dendy. Ia ingin sedikit mengurangi rasa tak menentunya karena belum bisa mengetahui apakah ia lolos atau tidak.


Sesampainya di rumah Dendy, ternyata Dendy sudah pulang dan ia sedang berada di teras. Seolah dia tahu Dina pasti akan ke rumahnya.


"bagaimana? Kamu lolos tidak?" Dendy berjalan ke depan pagar menghampiri Dina


"entah...aku belum tahu.." jawab Dina dengan raut yang sulit diartikan


"kamu belum melihat pengumumannya?" tanya Dendy


"belum, tadi aku sudah membuka situsnya tapi tidak berhasil" ucap Dina dengan nada sendu


"ah..iya kenapa aku bisa lupa ya..." ucap Dina


"ya sudah aku ke dalam dulu ambil jaket sama helm" Dendy bergegas masuk ke dalam rumah, Dina menunggu di depan pagar rumah Dendy dengan perasaan was-was


"ayo...naik motor kamu saja ya..." Dendy meraih kemudi motor Dina, Dina pun turun dari motornya agar Dendy bisa mengemudikan motornya


Setelah Dendy menyalakan motor Dina, Dina 'pun naik ke boncengan. Dendy melajukan motor Dina dengan kecepatan sedang. Ia tidak ingin membuat Dina semakin kalut kalau ia ngebut.


Sesampainy di tempat tes kemarin, ternyata di sana juga ramai, banyak yang melihat pengumuman tes secara langsung. Dina langsung berjalan tergesa-gesa meninggalkan Dendy yang masih memarkirkan motornya.


Dina langsung berdiri di depan sebuah papan yang sangat besar, di sana tertempel pengumuman hasil tes beberapa minggu yang lalu. Dengan perasaan was-was dan jantung yang berdebar-debar, Dina membaca satu persatu nama dan nomor tes yang tertera di sana.


Semua lembar pengumuman telah ia baca, tapi tak satupun yang menampakkaan nama dan nomor tesnya. Seketika Dina murung, ia tidak berhasil lolos. Pupus sudah harapannya untuk kuliah di fakultas kedokteran.

__ADS_1


Dengn langkah gontai, dia berjalan kembali ke tempat parkir. Dendy yang melihat dari kejauhan Dina seperti sedang sedih, berlari menghampiri Dina. Kemudian ia mendekap Dina, ia sudah tahu dari tatapan Dina yang kosong pasti Dina tidak lolos tes.


"aku gagal Den" Dina terisak di pelukan Dendy. Dendy hanya diam membelai punggung Dina.


Dina kemudian melepaskan pelukan Dendy dan tersenyum kepada Dendy.


"masih ada kesempatan tahun depan" ucap Dina dengan senyum yaang dipaksakan.


"ayo kamu mau kemana, aku temani" ucap Dendy


"aku ingin pulang saja Den..." ucap Dina lirih


"ya sudah ayo..." Dendy menggandeng tangan Dina


Mereka berdua berjalan dalam diam, Dendy tahu Dina pasti sangat sedih sekarang. Menghibur dengan kata-kata apapun tidak ada gunanya. Yang Dina butuhkan sekarang hanya teman bicara, dan pendengar setia.


Dendy dengan sabar menuruti apa mau Dina sekarang. Seperti sekarang tiba-tiba Dina meminta Dendy untuk mampir ke warung bakso favorit mereka.


Dendy yang sudah hendak membelokkan motor yang ia kendarai tidak jadi berbelok. Ia melajukan motor Dina ke warung bakso tempat biasa mereka makan. Sesampai di sana Dina memesan dua mangkok bakso, Dendy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dina kalau sedang marah atau stress, ia akan makan banyak. Pelampiasannya adalah makan, mendengarkan musik dan jalan tak tentu arah. Tapi Dendy bersyukur karena Dina tidak melampiaskan emosinya kepada hal-hal yang negatif.


Setelah pesanan mereka datang, Dina langsung meminta mangkok yang lebih besar, setelah mangkoknya datang ia menuang dua mangkok baksonya itu ke dalam mangkok besar, kemudian menambahkan sambal sedikit banyak. Kemudian ia memakannya dalam diam.


Dendy ingin sekali menegurnya karena Dina memakan bakso dengan sambal yang menurutnya terlalu banyak untuk ukuran orang yang baru saja keluar dari rumah sakit. Tapi ia takut Dina marah, karena suasana hatinya sedang tidak baik.


.


.


B E R S A M B U N G


.

__ADS_1


jangan lupa ritualnya ya bestie...


Please like dan votenya ya...terima kasih sekebon bestie


__ADS_2