Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Bab 151 Sehari bersama Bimo (1)


__ADS_3

Setelah puas berkeliling Dina terlihat kelelahan. Ia mengajak Bimo untuk duduk sebentar di salah satu kursi yang terdapat di dekat setiap eskalator.


Bimo tersenyum, melihat hari ini Dina begitu bahagia. Begitu lepas tertawanya, ia melihat Dina seperti burung yang lepas dari sangkarnya. Ia bahagia bisa menjadi bagian yang membuat Dina bahagia hari ini.


Dina terlihat sangat lelah, wajahnya sayu, tapi terpancar binar bahagia dari matanya.


"masih mau lanjut atau kita pulang? atau kita mau makan dulu?" tanya Bimo seperti seorang kakak yang menjaga adiknya bermain


"masih ingin jalan, tapi aku capek mas..." rengek Dina


"mau aku gendong?" tanya Bimo menggoda, Dina mencebik mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Bimo.


"atau kita pulang istirahat dulu setelah nanti agak sore kita jalan lagi?" tawar Bimo


"iya...sepertinya aku butuh tidur mas...lelah sekali...." jawab Dina


"ya sudah ayo pulang dulu..." ajak Bimo tapi Dina sepertinya tak ada tenaga dia masih bersandar di dinding


"tempat parkir jauh tidak mas?" tanya Dina


"hmm....tidak terlalu jauh...hanya turun satu lantai jalan sedikit sudah sampai" terang Bimo


"mau aku gendong?" tanya Bimo dengan nada tegasnya


"memang kuat?" tanya Dina dengan nada mengejek


"ayo naik..." Bimo berbalik badan dan menunduk agar Dina bisa naik ke gendongannya


"tapi malu...pasti dilihat banyak orang...aku jalan sendiri saja..." Dina bangkit berdiri


Bimo mengikuti Dina berjalan dengan membawa barang belanjaan mereka, ia memastikan Dina tidak jatuh karena kelelahan. Sesampainya di tempat parkir Bimo langsung menyalakan motornya. Dina pun naik ke boncengan Bimo.


"pegangan aku takut kamu jatuh" Bimo menarik tangan Dina dan melingkarkan di pinggangnya. Dina menurut,ia sudah sangat lelah dan mengantuk, ia memeluk erat pinggang Bimo dan meletakkan kepalanya di punggung Bimo.


Dalam perjalanan, beberapa kali Bimo merasakan pegangan Dina mengendur. Bimo dengan sigap menarik tangan Dina lagi agar tetap melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


Tepat di lampu merah dekat dengan kos mereka, Bimo menarik tangan Dina dan mengeratkannya di pinggangnya untuk yang ke sekian kali.


"Din...kamu tidur...?" tanya Bimo tapi tidak dijawab oleh Dina.


Lampu hijau menyala, dengan kecepatan rendah Bimo melajukan motornya dan sambil memegang tangan Dina agar tidak terlepas. Dari arah lampu merah lebih dekat ke kos Dina daripada kos Bimo. Sesampainya di depan kos Dina, kos tampak sepi tidak ada yang bisa ia mintai tolong. Bimo menepuk-nepuk paha Dina agar bangun tapi Dina tak meresponnya.


Bimo memutuskan untuk membawa Dina ke kosnya. Ia berpikir akan lebih mudah bagi Dina untuk beristirahat. Sesampainya di halaman kosnya ia melihat Vito teman satu kosnya sedang menyalakan motornya.


"To...tolong gua dong...!" panggil Bimo


"eh...apa Bim...?!" Vito melihat ke arah Bimo


"lu ke sini tolong pegang dulu cewek gua, gua mau turun sebentar, awas! Jangan macam-macam!"


Vito menghampiri Bimo, dan kemudian memegang bahu Dina. Bimo turun dari motornya perlahan agar Dina tidak terbangun.


"tolong bukakan pintu kamar gua, kuncinya jadi satu dengan kunci motor" ucap Bimo pelan sambil memegang tubuh Dina.


Perlahan Bimo menurunkan Dina dari motornya agar Dina tidak terbangun. Bimo menggendong Dina ala bridal style membawanya ke dalam kamarnya.


"To barang-barang gua yang di atas motor bawa ke dalam ya..." ucap Bimo pelan


Bimo melepas sepatu yang dipakai Dina kemudian ia melepas jaket Dina perlahan-lahan agar Dina tidak terganggu tidurnya. Vito masuk lagi ke kamar Bimo dan meletakkan barang-barang Bimo di dekat pintu.


"cewek baru Bim...?" tanya Vito


"bukan...cewek gua dari dulu ya ini..." ucap Bimo yang memang mengatakan ke semua orang kalau Dina adalah pacarnya.


"oh..gua pergi dulu...! selamat menikmati" Vito menahan tawa dan berlari keluar kos.


Bimo menutup dan mengunci pintu kamarnya. Ia tidak ingin ada cowok lain yang menatap Dina, apalagi teman-teman satu kosnya yang ia tahu suka membawa pacar-pacar mereka menginap berhari-hari.


Ia memandang wajah Dina yang tertidur pulas di tempat tidurnya, di kamar kosnya. Apalagi sejak tadi ia mendengar suara-suara aneh dari kamar sebelahnya. Sebagai cowok normal ia terpancing, tapi sebisa mungkin ia menahannya, ia ingin mendapatkan Dina dengan cara baik-baik.


Perlahan Bimo membelai dahi dan kepala Dina kemudian ia mengecup dahi Dina dengan penuh rasa sayang. Kecupannya turun ke hidung dan berakhir di bibir Dina.

__ADS_1


Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mencium pipi Dina dan dibalas dengan tamparan oleh Dina, akhirnya sekarang ia bisa dengan leluasa mencium Dina. Bimo mengecup bibir Dina berkali-kali kemudian ********** dengan mesra


Semakin lama ia semakin terbawa suasana, ia mulai merebahkan dirinya di samping Dina. Memeluknya dan kembali lagi ******* bibir Dina dengan penuh hasrat.


Bimo mulai membelai tubuh Dina yang begitu mungil bila dibandingkan dengan dirinya masih belum melepaskan lumatannya. Lama ia melakukan hal itu seketika ia teringat ucapan Dina. Ia melepaskan ******* bibirnya dan kemudian ia memeluk Dina dengan erat, akhirnya dia pun juga tertidur dengan memeluk Dina.


Dina mengerjapkan matanya, sedikit menggeliatkan tubuhnya. Tubuhnya terasa berat, ia melihat ke arah samping Bimo tidur dengan lelap, kemudian ia melihat ke bawah tangan Bimo memeluknya seperti takut Dina akan menghilang. Kemudian ia mengedarkan pandangan ke sekitar, ternyata ia berada di kamar kos Bimo.


"andaikan waktu itu kamu tidak meninggalkanku tanpa alasan mas...andaikan kamu tidak menorehkan luka yang dalam bagiku, kita tidak akan seperti sekarang, maafkan aku tidak bisa memberikan harapan lebih padamu" gumam Dina sambil menatap Bimo


Bimo sebenarnya sudah terbangun sejak tadi ketika merasakan tubuh Dina menggeliat. Ia juga mendengar perkataan Dina, ia menitikkan air matanya.


"bahkan dalam tidurmu pun kamu menangis, beban berat apa yang sedang kamu tanggung mas...?" gumam Dina yang ia pikir Bimo masih tertidur


Bimo sudah tidak bisa menahan lagi perasaannya, ia pun berpura-pura menggeliatkan badannya dan membuka matanya.


"sudah bangun?" tanya Bimo dengan suara seraknya


"iya..." jawab Dina dengan tersenyum kemudian ia duduk


"aku bahagia, bangun tidur melihat kamu ada di sampingku" ucap Bimo dengan tersenyum tipis "aku ingin setiap hari setiap aku bangun dan akan tidur selalu melihatmu di sampingku selamanya sampai kita tua nanti"


Dina menatap Bimo dengan penuh tanda tanya "mas Bimo melamarku?"


"iya..." ucap Bimo dengan senyum tipisnya


Dina tidak menanggapinya, ia malah bingung jaket dan sepatunya sudah terlepas dari tubuhnya.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2