
Bel tanda istirahat jam sore telah berbunyi, Toni bergegas ke kelas Dina. Sesampainya di depan kelas Dina Toni mencari-cari keberadaan Dina tapi tidak menemukannya. Toni merasa kecewa karena tidak menemukan Dina di kelasnya padahal tadi pagi dia sudah berjanji untuk pergi keluar bersama Toni.
"Tumben ke sini Ton, kamu cari siapa?" tanya Anto teman sekelas Dina yang hendak keluar kelas
"Dina kemana To?" tanya Toni sambil mengedarkan pandangan ke sekitar
"tadi dia diminta tolong wali kelasku membawakan buku-buku ke ruang guru" jawab Toni
"oh...ya sudah aku tunggu di sini saja" ucap Toni duduk di depan kelas Dina
"ya sudah aku tinggal ke kantin dulu, nanti kalau aku ketemu Dina aku beri tahu dia kalau kamu di sini" ucap Anto
"terima kasih To"
"iya sama-sa...eh...itu Dina sudah balik, aku tinggal dulu ya" ucap Anto sambil menepuk bahu Toni, sedang Toni hanya menganggukan kepalanya
"Sudah lama Ton?" tanya Dina menghampiri Toni
"belum Din" ucap Toni beranjak dari tempat duduknya menyambut Dina
"jadi keluar?"
"iya jadi..jadi.." ucap Toni semangat
"sebentar aku ambil jaket dulu, naik motor kamu kan?" tanya Dina
"iya.. tapi motorku aku titipkan di kos sebelah" ucap Toni
Dina masuk ke kelas dan mengambil jaket serta dompetnya, kemudian berjalan menghampiri Toni kembali
"aku ambil helmku dulu di parkiran ya..."
"iya..ayo...kamu tunggu di depan gerbang depan ya, aku ambil motorku dulu" ucap Toni kemudian dia berjalan setengah berlari ke kos-kosan temannya untuk mengaambil motornya
Dina berjalan ke parkiran motornya dan mengambil helmnya yang dia gantung di kaca spion motornya. Kemudian dia berjalan keluar gerbang dan menunggu Toni.
Dari seberang jalan ada tiga pasang mata memperhatikan Dina. Mereka bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Dina dengam memakai jaket dan membawa helm berdiri di depan pintu gerbang seperti sedang menunggu seseorang.
"Mas...itu Dina sedang menunggu siapa?"
"entah...."
"kamu hampiri dia saja Den..."
Ketiga orang tersebut adalah Dendy, Gilang dan Krisna. Dendy yang sengaja ke sekolah Gilang karena memang sebenarnya ingin bertemu dengan Dina.
"Itu yang berhenti di depan Dina siapa mas?" tanya Dendy
"itu seperti Toni...mantan pacarnya Dina?" ucap Gilang sambil menautkan kedua alisnya
"mereka pacaran lagi?" Krisna menyeletuk dari belakang
"entah..." ucap Gilang mengedikkan bahunya
Dendy memandang Dina dan Toni dengan pandangan yang sulit diartikan. Cemburu, marah sedih bercampur menjadi satu.
__ADS_1
Di depan gerbang sekolah...
"ayo Din...naik" ucap Toni membuka penutup helmnya
"iya Ton..."ucap Dina sambil memakai helmnya lalu naik ke boncengannya
Toni melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju ke warung bakso langganannya dengam Dina dulu waktu mereka masih berpacaran.
"Din, pegangan aku takut kamu jatuh"ucap Toni sambil menarik tangan Dina dan melingkarkannya di pinggangnya
Dina tidak menjawab, dan tidak menolak perlakuan Toni. Sebenarnya jauh di lubuk hati Dina, dia masih ada sedikit rasa sayang kepada Toni tapi dia juga masih merasa kecewa dengan sikap Toni dulu.
Motor yang dilajukan oleh Toni sampai di warung bakso favorit mereka. Toni memarkirkan motornya kemudian mematikan mesinnya. Dina turun dari boncengan dan melepas helmnya.
Mereka berdua masuk dan memilih tempat agak jauh dari pintu masuk. Mereka duduk di bangku panjang yang bisa dipakai empat orang. Toni memilih untuk duduk berhadapan dengan Dina agar bisa berbicara lebih leluasa dengan Dina.
Pelayan datang menghampiri mereka, Toni memesankan menu favorit mereka berdua.
"masih ingat menu favoritku Ton?" ucap Dina
"masih...masih...masih ingat sekali "ucap Toni menyunggingkan senyumnya
Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang, seperti biasa Dina selalu menambahkan sambal dan cuka.
"jangan banyak-banyak Din, ingat kamu punya sakit maag..." Toni mengingatkan
"iya Ton...ini cuma sedikit " ucap Dina
Mereka mulai makan bakso pesanan mereka, sesekali diiringi canda tawa.
"apa Ton?" ucap Dina sambil mengunyah baksonya
"Din...kamu masih sendiri?"
"maksudnya Ton?" Dina mengernyit
"maksud aku...kamu sudah punya pacar?" tanya Toni dengan raut wajah serius
"aku masih sendiri Ton, ada apa?" ucal dina masih dengan nada santainya
"aku ingin kita dekat lagi seperti dulu Din" ucap Toni menatap Dina dengan tatapan memuja
"hhhh...." Dina menegakkan duduknya meletakkan sendok garpunya meneguk jeruk hangat nya
"Ton... kamu ingat tidak dulu tak lama setelah kita berpisah aku sempat menyesal, dan ingin memperbaiki hubungan kita, tapi kamu sama sekali tidak merespon?" ucap Dina
"iya aku ingat..." Toni menundukkan kepalanya
"jujur aku kecewa dengan sikapmu waktu itu, aku sayang kamu tapi apa yang aku dapat? penolakan dari kamu"
"maafkan aku Din..." ucap Toni lirih
"tolong beri aku kesempatan untuk dekat denganmu lagi" lanjutnya
"iya...tapi kalau untuk bersama seperti dulu, aku belum bisa Ton" ucap Dina dengan sorot mata yang sulit diartikan
__ADS_1
"terima kasih Din, aku akan berusaha memperbaiki semuanya, aku berharap kita bisa bersama-sama seperti dulu" ucap Toni dengan semangat dan menggenggam tangan Dina
"kamu masih sayang sama aku Ton?" tanya Dina
"sayang...aku masih sayang sama kamu Din, selama ini aku berusaha menghilangkan perasaan ini tapi tidak bisa " ucap Toni dengan mata berbinar dan masih belum melepaskan genggaman tangannya
"kamu sendiri bagaimana Din?"
"kalau boleh jujur, masih ada rasa sayang di hati ini, tapi aku masih belum bisa kalau kita bersama seperti dulu, ada rasa kecewa di hati ini yang sampai sekarang masih belum bisa hilang" terang Dina
"aku minta maaf kalau sudah membuatmu kecewa, aku akan berusaha membuatmu bisa melupakan rasa kecewamu, aku berjanji" ucap Toni
"sekarang habiskan makananmu" lanjutnya
"iya, tapi tolong lepaskan tanganku dulu " ucap Dina
"eh..iya maaf" ucap Toni melepaskan genggaman tangannya
Mereka menghabiskan makanan dan minumannya dalam diam tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Setelah selesai Toni membayar makanan mereka dan kembali ke sekolah karena waktu istirahat mereka hampir habis.
Sepanjang perjalanan Toni menyunggingkan senyumnya terus menerus, merasa masih memiliki harapan untuk bisa memperbaiki hubungan mereka. Sedangkan Dina mulai berpikir harus bagaimana dia bersikap. Dia masih sayang Toni tetapi ada rasa kecewa yang begitu besar dalam hatinya.
Dan pagi tadi dia mengetahui kalau Dendy juga menyukainya, Dina sebenarnya mulai membuka hatinya untuk Dendy, tapi dia masih bimbang. Dia harus memilih yang mana, Toni yang masih dia sayang tapi sudah menorehkan luka dan rasa kecewa ataukah Dendy yang selalu bersikap manis kepadanya dan menunjukkan perhatiannya tapi dia belum bisa menyayanginya.
Ataukah Widi orang yang selalu ada dikala dia susah dan selalu perhatian tetapi bukan tipenya. Sungguh rumit ketika dihadapkan dengan masalah hati. Di antara mereka bertiga semua punya kelebihannya masing-masing.
Hanya Dendy yang sesuai dengan kriteria yang dia suka tetapi sayangnya dia belum terlalu mengenalnya apalagi memiliki perasaan lebih terhadapnya.
Sedari tadi Dina sibuk dengan pikirannya sendir sampai ia tidak sadar kalau sudah sampai di gerbang sekolah.
"Din...sudah sampai..." Toni menepuk paha Dina
"hah... sudah sampai ya?" Dina terkesiap
"sudah dari tadi, kamu memikirkan apa hmm...? sampai tidak sadar sudah sampai " ucap Toni lembut
"enggak memikirkan apa-apa" ucap dina turun dari boncengan Toni
"ya sudah sana masuk ke kelas... jangan melamun princess "ucap Toni lembut sambil mengusap puncak kepala Dina
Dina berjalan masuk ke dalam kelasnya. Dia tidak sadar sejak tadi ada tiga pasang mata memperhatikannya dari kejauhan. Bahkan salah satu dari mereka merasa dadanya bergemuruh melihat interaksinya dengan Toni.
.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
*Terima kasih bestie... yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel receh ini dukung othor terus ya...tolong like comment vote kirim bunga, kopi atau yang lainnya Dan pencet tombol favorit tentunya.
__ADS_1
Terima kasih sekebon bestie