Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 180 Mendengarkan


__ADS_3

Bimo menangis, beberapa hari terakhir ia merasa bebannya terlalu berat, ia tak tahu harus menceritakan pada Dina atau tidak. Dan yang menjadi kekurangan Bimo adalah ia sering tak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.


"mas kenapa menangis?" tanya Dina datar


"aku tidak apa-apa Din" bohong Bimo


"baiklah...jika mas baik-baik saja, aku masuk dulu..."Dina membalikkan badannya, hendak masuk ke dalam kosnya tapi tangannya ditahan ileh Bimo.


"temani aku ke taman dekat kampus kita..." ucap Bimo dengan nada sendu


Dina mengerutkan keningnya "mau apa mas...?"


"aku ingin mencari ketenangan.."


"kalau mas ingin tenang lebih baik mas pulang ke kos dan tidur...bukan ke taman" gerutu Dina


"ayolah Din....temani aku..." ucap Bimo dengan wajah penuh permohonan


"baiklah..."


Bimo membukakan pintu mobil untuk Dina setelah memastikan Dina duduk Bimo menutup pintunya dan masuk ke sisi pengemudi. Bimo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Bimo mengajak Dina duduk di kursi taman yang ketaknya tak jauh dari mobilnya terparkir.


"Riri hamil" ucap Bimo datar


"lantas apa hubungannya denganku?" tanya Dina ketus


"memang tidak ada...." ucap Bimo dengan raut wajah penuh beban


"itu anak mas?" tanya Dina menatap Bimo dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Bimo.


"lantas kenapa mas menangis?"


"dia mengaku kalau bayi itu anakku" ucap Bimo dengan nada marah

__ADS_1


"mamanya menyuruh aku bertanggung jawab"


"terus orang tua mas bagaimana?" Dina memperhatikan Bimo yang tampak kacau


"awalnya mama papa percaya jika bayi itu anakku, tapi...aku menceritakan semuanya, termasuk tentang kamu" Bimo menoleh ke Dina


"aku?" Dina mengerutkan dahinya


"iya...terpaksa aku berbohong jika aku telah memiliki pacar dan itu kamu"ucap Bimo dengan wajah bahagia


"namun ternyata mamaku tak percaya, dia beranggapan aku hanya mencari alasan untuk lari dari tanggung jawab" ucap Bimo dengan raut wajah berubah sedih


Dina tak menyangka jika Riri bisa senekat itu, dan menuduh Bimo menghamilinya. Dina tidak tahu hubungan Bimo dengan Riri di belakangnya, hanya saja yang ia tahu Bimo banyak menghabiskan waktunya menunggu dan menemaninya.


"aku berusaha berbicara dengan papaku, karena aku anggap kami sama-sama pria dan bisa berpikir dengan logika, dan papaku percaya padaku" ucap Bimo dengan tatapan menerawang jauh.


"berarti selesai dong masalahnya..." ucap Dina


"mamaku bersikeras aku tetap harus bertanggung jawab, dan menikah dengan Riri, karena cerita Riri begitu meyakinkan mamaku" ucap Bimo dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya


"aku tidak tahu Din...tapi sumpah...itu bukan anak aku Din, kamu harus percaya aku!" ucap Bimo dengan raut memohon


"mas tidak perlu bersumpah kepadaku, tidak perlu meyakinkan aku, apapun itu aku hanya bisa berdoa semoga mas baik-baik saja" ucap Dina menarik kedua sudut bibirnya ke atas


Bimo menghela nafasnya "aku tetap harus menceritakannya padamu Din, agar kamu tidak salah sangka, kamu orang yang paling aku sayang"


"setelah kejadian waktu itu, aku tidak pernah lagi menyentuh dia atau siapapun itu, apalagi sejak kamu muncul lagi di hidupku, aku sama sekali tak ingin memberikan perhatiannku selain padamu"


"terima kasih karena mas sudah berusaha menjelaskannya padaku, tapi aku tidak bisa membantu mas dalam masalah ini, hanya mas yang bisa menyelesaikannya" ucap Dina datar


"selama ini aku sangat berharap kamu mau kembali padaku, aku berusaha memperbaiki kesalahanku" Bimo menatap Dina dengan nada sendu


"dari awal aku sudah mengatakannya, aku tidak menjanjikan apapun pada mas, karena aku sendiri memiliki pacar dan mas tahu itu" terang Dina


Bimo merasa dunianya seakan berputar tak tentu arah. Mendapati kenyataan jika dirinya harus mempertanggung jawabkan sesuatu yang tak pernah ia lakukan.

__ADS_1


Keluarganya sekarang sedang berantakan. Papa mamanya bertengkar hanya karena dirinya. Ia tak tahu jalan mana yang harus dia tempuh, menikahi Riri bukanlah keputusan yang tepat untuknya apalagi Riri hamil bukan dengan dirinya.


"Din...tolong bantu aku, setidaknya bicaralah dengan Riri agar dia mau membatalkan semuanya" Bimo memohon pada Dina


"mas tahu sendiri aku tidak mengenalnya, dan juga setiap dia bertemu dengan aku seolah-olah aku musuh besarnya, bagaimana aku bisa bicara dengannya?!" ucap Dina dengan nada kesal


"papaku telanjur tahu kalau aku kembali bersamamu Din...aku sudah tidak tahu bagaimana menghadapi ini semua" ucap Bimo frustasi "sejak mengenal Riri masa depanku hancur, aku kehilang semuanya...buat apa aku hidup kalau tak ada yang peduli padaku lagi"


Bimo terisak, ia kembali menangis di hadapan Dina, suatu hal yang tak pernah Dina lihat dari Bimo. Yang Dina lihat dari Bimo, selalu terlihat tegas, tidak banyak berbicara, dan setiap apa yang dilakukannya penuh pertimbangan.


Dina tahu Bimo benar-benar terpuruk, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalas semua kebaikan Bimo padanya beberapa bulan terakhir.


Yang bisa Dina lakukan adalah menjadi pendengar setia. Jika ia membantu Bimo berpura-pura menjadi pacar Bimo hanya akan menambah masalah baru baginya.


Ia tak mau menghianati Dendy, dan belum lagi dirinya harus menghadapi mamanya Bimo yang dari dulu tidak pernah ramah kepadanya.


"maaf mas...aku tidak bisa membantumu, aku hanta bisa menjadi tempatmu bercerita jika kamu ada masalah, mas tahu posisiku bagaimana" ucap Dina tenang


"maafkan aku Din...selalu membuat masalah untukmu" ucap Bimo dengan raut wajah begitu kacau


"lebih baik mas bicara baik-baik dengan Riri, mungkin dia mau membatalkan semuanya"


Bimo menggeleng "aku sudah melakukannya Din...tapi dia tidak mau"


"apalagi aku yang bicara mas, tadi saja dia melihatku dengan tatapan penuh kemenangan mana bisa aku bicara padanya" ucap Dina dengan nada kesal.


Dina selalu kesal jika harus berhadapan dengan Riri, ia tak tahu apa salah dirinya pada Riri sehingga dirinya dimusuhi Riri. Padahal yang seharusnya marah adalah dirinya.


Karena Ririlah Bimo memutuskan Dina tanpa alasan, tapi kini terbalik Dina yang disalahkan atas sikap Bimo yang acuh pada Riri.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2