
Pesanan Dina sudah terhidang di atas meja, melihat makanan yang ia pesan rasanya enggan untuk makan. Dendy yang dari tadi memperhatikan Dina merasa heran, kenapa makanannya belum disentuh malah Dina seperti sedang melamun.
"Din..." Dendy mengelus tangan Dina yang duduk di hadapannya
"iya Den..." ucap Dina menatap Dendy
"tidak dimakan?" Dendy bertanya dengan tatapan teduh
"aku enggak berselera..." ucap Dina tertunduk lesu
"aku suapin ya...?"
Dina menjawabnya dengan anggukan kepala. Dendy mulai menggulung mie memakai garpu dan menyuapkannya ke mulut Dina.
"ayo Din...buka mulutnya...aaa..." ucap Dendy menyodorkan mie yang telah digulung di garpu
"dikit...dikit saja Den" ucap Dina seperti enggan membuka mulutnya
"ini juga sudah sedikit Dina sayang" ucap Dendy lembut
"tetap saja kebanyakan Den" Dina mengerucutkan bibirnya
"ih...gemes aku jadi makin sayang" ucap Dendy sambil mencubit hidung Dina
"aw...sakit " Dina cemberut sedang Dendy malah tergelak
"ayo makan, nanti kamu sakit" Dendy membujuk Dina yang cemberut
"kamu sebenarnya ada apa sih sayang...hm" Dendy meletakkan garpunya
"aku boleh tanya sesuatu tidak?" Dina tampak ragu menanyakan ganjalan di hatinya
"mau tanya apa?" Dendy menatap Dina dengan tatapan teduh
"tolong jawab jujur ya Den..."
"aku akan jawab asal kamu mau makan" bujuk Dendy. Dina menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya.
"Den...sebenarnya hubungan kamu sama Nana itu bagaimana sih?" tanya Dina dengan tatapan yang sulit diartikan
Dendy menghela nafasnya, mengapa Dina menanyakan tentang Nana "aku akan jawab tapi lima suap dulu ya" ucap Dendy lembut sedangkan Dina mencebik
"ayo...aa...." Dendy kembali menyodorkan garpu yang terbungkus mie
Mau tidak mau Dina membuka mulutnya menerima suapan dari Dendy. Dendy melakukannya sampai lima suap
"stop...sudah lima suap sekarang ayo jawab..." rengek Dina
Dendy yang mulai menggulung mie akhirnya meletakkannya garpunya dan meraih es jeruk dan meminumnya.
"jadi hal ini yang membuat kamu tak berselera makan?" tanya Dendy meletakkan gelasnya Dina menggelengkan kepalanya
__ADS_1
"terus apa hmm?" tanya Dendy lembut
"apa aku merebut kamu dari Nana?" Dina meneguk es jeruknya
Dendy menghela nafasnya "siapa yang bilang begitu?" tanya Dendy lembut
"Dengar Dina... Tidak ada yang merebut siapa dari siapa" Dendy meraih kedua tangan Dina dan menggengamnya
"terus Nana?" Dina menatap Dendy
"aku sudah pernah bilang ke kamu, aku tidak ada hubungan apapun dengan dia, memang dia mengaku kalau aku dan dia berpacaran tapi aku tidak pernah mempedulikannya" ucap Dendy serius
"kenapa kamu enggak peduli? Padahal dia cantik" Dina cemberut
"kamu cemburu?" Dendy mengulum senyumnya
"siapa yang cemburu?" ucap Dina ketus memalingkan wajahnya ke samping
"Din...dengar baik-baik aku bukan tipe cowok yang suka mempermainkan cewek, kalau iya aku bilang iya, kalau tidak ya aku bilang tidak" ucap Dendy dengan tatapan serius "aku sayang kamu buat apa aku mengejar-ngejar kamu kalau aku sudah punya pacar, cantik lagi" Dendy menggoda Dina
Dina membulatkan matanya, ada rasa marah ketika Dendy memuji cewek lain di hadapannya. Melihat ekspresi Dina Dendy mengulum senyumnya.
"aku tahu kamu cemburu, sekarang aku tanya siapa yang bilang kamu merebut aku dari Nana hmm?" Dendy masih menahan senyumnya
"aku jawab tapi mienya kamu yang habiskan ya" Dina mengangkat satu sudut bibirnya
"bagaimana kalau aku satu suap kamu satu suap begitu seterusnya sampai habis?" Dedy tak kalah liciknya agar Dina mau makan
"oke..." Dina mengambil garpu lagi yang ada di tempat sendok garpu di sebelahnya dan mulai menggulung mie dan menyodorkannya ke mulut Dendy
"sekarang ceritakan siapa yang bilang kalau kamu merebut pacar orang?" Dendy menahan kesalnya, ketika Dina bilang kalau ada yang menyebutnya merebut pacar orang
"yuni..." ucap Dina lirih tapi masih didengar oleh Dendy
"yuni?" Dendy mengerutkan dahinya
"yuni teman sebangku aku " ucap Dina tertunduk
"terus?"
"tadi pagi dia bilang, kamu bukan cowok baik-baik" ucap Dina tidak berani menatap mata Dendy dia yakin pasti Dendy marah mendengar hal itu
"maksud kamu?" Dendy mulai menunjukkan rasa kesalnya. Bukan kesal kepada Dina, tapi kesal terhadap apa yang dia dengar
"Yuni bercerita teman dekatnya itu pacar kamu, dan kamu mutusin dia karena suka sama aku" Dina masih tertunduk
"terus apa hubungannya dengan Nana?" nada bicara Dendy mulai meninggi Dina yang mendengar hal itu mengangkat kepalanya menatap Dendy
"waktu aku tanya, cewek yang dimaksud apakah Nana, dia terdiam tidak bisa menjawabnya" Dina menatap Dendy dan melihat ada kilatan amarah di matanya
"benar-benar tidak bisa dibiarkan" Dendy mengepalkan tangannya
__ADS_1
"Den.... " Dina mengusap lembut tangan Dendy yang terkepal. Perlahan-lahan amarahnya mereda.
"Jadi itu yang membuatmu murung dan tak berselera makan? Aku kira karena kamu cemburu" Dendy terkekeh " tapi aku suapin kamu makannya jadi lahap"
"selalu saja godain" Dina mencebik
"kalau mau disuapin bilang saja sayang, tidak usah pasang muka lesu begitu" ledek Dendy
"kamu tuh ya...." ucap Dina sebal
"tapi aku senang kamu cemburu, itu tandanya kamu mulai cinta sama aku" ucap Dendy dengan tatapan teduh
"enggak boleh aku cemburu?" Dina mencebik "sudah-sudah ayo antar aku kembali ke sekolah" Dina beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kasir membayar makanannya.
"ayo sayang...." Dendy menggandeng tangan Dina
Mereka berdua berboncengan kembali ke sekolah Dina. Dendy turun di depan gerbang sekolah Dina bertepatan dengan bel masuk berbunyi. Dendy melambaikan tangannya kemudan berjalan ke arah motornya yang terparkir di depan warung tempat biasa dia menunggu Dina.
"kalian dari mana saja? Motornya ada tapi orangnya entah kemana" gerutu Krisna
"biasalah... Makanya punya pacar " goda Dendy
"Dina kenapa?" tanya Gilang yang tadi sempat melihat Dina lesu
"mas Gilang kenal sama Yuni? " tanya Dendy
"Yuni? Kenal..." ucap Gilang mengerutkan dahinya "memangnya kenapa Den?"
"nanti saja di rumah mas, sudah bel...masuk sana, jangan bolos terus" ledek Dendy
"memangnya kamu, tukang bolos " ucap Gilang melangkahkan kaki keluar warung dan diikuti Krisna.
Dendy segera melajukan motornya untuk pulang. Dendy benar-benar marah mendengar Yuni menuduh Dina merebut pacar orang. Dan lebih marah lagi kepada Nana.
Padahal dia sudah memperingatkan Nana untuk tidak ikut campur dalam urusannya. Sepertinya dia perlu memberikan peringatan lebih keras lagi. Agar Nana tidak mengganggu Dina. Bukan salah Dina kalau Dendy lebih memilihnya. Andaikan Nana bisa bersikap baik mungkin Dendy juga akan tertaril kepadanya.
.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
.
Dukung terus karya ini, please like komen dan votenya ya...
__ADS_1
Kirim juga bunga atau kopi
Terima kasih sekebon bestie