Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 136 Hari ketiga


__ADS_3

Masa pengenalan kampus hari ketiga, Dina sudah siap berangkat. Karena waktu masih menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit, Dina memutuskan untuk merapikan kamarnya terlebih dahulu.


Setelah dirasa sudah cukup rapi, Dina memutuskan untuk berangkat ke kampus. Dina keluar dari tempat kosnya, dia mendapati Bimo sudah duduk di atas motornya yang terparkir di depan pintu tempat kosnya.


"pagi Dina..." sapa Bimo dengan senyum merekah


"kenapa pagi-pagi sudah di sini?" tanya Dina datar


"aku menjemput kamu Din..." ucap Bimo dengan suara tegas dengan senyum merekah


"aku bisa berangkat sendiri mas...." kesal Dina


"selagi aku bisa aku akan jemput kamu setiap berangkat kuliah" ucap Bimo tegas dengan nada tak ingin dibantah


Dina hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, berdebat dengan Bimo dia tidak akan pernah menang. Dari dulu Bimo selalu memaksakan kehendaknya.


Pernah suatu ketika, Dina hendak berangkat kerja kelompok dengan teman-temannya. Tapi Bimo memaksa untuk mengantar Dina. Dina merasa tidak enak dengan teman-temannya karena harus mendengarkan perdebatannya dengan Bimo.


Akhirnya Dina mengalah, dengan sangat terpaksa Dina diantar oleh Bimo. Teman-temannya hanya bisa memaklumi keposesifan Bimo. Dan sepanjang mereka mengerjakan tugas, Bimo duduk tidak jauh dari Dina.


Dina merasa risih sebenaranya, setiap ada kesempatan, Bimo selalu menempel kepadanya seperti lintah. Tapi Dina juga merasa senang, karena keposesifan Bimo, Dina selalu aman dari gangguan cowok-cowok yang suka iseng mengganggunya.


"iya...iya...selalu saja memaksakan kehendak" gerutu Dina yang masih bisa didengar oleh Bimo. Bimo hanya menanggapinya dengan senyuman.


Dina naik ke boncengan Bimo, tapi Bimo tidak segera melajukan motornya.


"kenapa lagi mas?" tanya Dina kesal


"pegangan dulu" ucap Bimo lembut


"lebih baik aku turun saja, aku bisa berangkat sendiri" ucap Dina kesal, mulai menurunkan kakinya


"eh...jangan...! .jangan..! .iya....iya tidak usah pegangan" akhirnya Bimo mengalah daripada Dina marah


"tumben...mau ngalah, biasa juga maksa" gerutu Dina masih bisa didengar oleh Bimo


Bimo melajukan motornya dengan kecepatan lambat. Ia ingin menikmati saat-saat bersama Dina.


"mas... Bisa lebih cepat sedikit tidak?! Aku sudah ditunggu teman-temanku?!"


Bimo tidak menjawab, ia menambah kecepatannya. Ia tahu Dina kesal dengannya, tapi ia tidak mungkin mundur lagi. Ia harus mengejar cintanya. Ia harus bisa mendapatkan Dina lagi.


Setelah semua yang ia lalui, hanya satu tujuannya yaitu memilik Dina lagi seutuhnya. Ia tidak hanya ingin menjadikan Dina pacarnya, tapi calon pendamping hidupnya.


Mereka berdua telah sampai di parkiran kampus. Dina segera turun dari boncengan Bimo, ia tidak mau membuat gaduh teman-temannya. Beberapa kali ia sempat mendengar banyak yang menyukai dan mengagumi Bimo.

__ADS_1


Dina berjalan cepat meninggalkan Bimo. Ia segera menuju lift untuk bisa naik ke lantai enpat. Bimo mengejarnya, dan mensejajari langkah Dina.


"Din...kenapa aku kamu tinggal?!" protes Bimo


"mas itu panitia...tidak seharusnya datang sesiang ini" ucap Dina kesal


"suka-suka aku lah...tidak ada aku acara juga tetap jalan" jawab Bimo asal


"susah ya...bicara sama mas itu" Dina mencebik.


"makanya tidak usah protes, tidak usah membantah "


Dina segera bergabung dengan teman-temannya yang kebetulan juga sedang menunggu lift. Dia hanya ingin menghindari Bimo, yang selalu menempel padanya.


"Bim...aku tadi ke kosmu tapi kamu sudah berangkat, tapi jam segini kenapa baru sampai di kampus?" tiba-tiba Riri datang menghampiri Bimo


"aku ada urusan...!" ucap Bimo datar


"aku nanti pulang bareng kamu ya..." ucap Riri


Bimo melirik ke arah Dina yang ternyata sedang menatapnya heran.


"aku tidak bisa...aku sudah ada janji" ucap Bimo datar melihat bagaimana ekspresi Dina.


Acara hari ketiga telah dimulai, yaitu keliling area kampus mengenal kampus lebih dekat. Pendamping kelompok harus selalu mendampingi kelompoknya masing-masing.


Ini kesempatan untuk Bimo bisa lebih memperhatikan Dina lagi, karena mereka akan berkeliling area kampus yang cukup luas dan pastinya akan melelahkan.


Bimo telah siap, ia memasukkan dua botol air mineral ke dalam saku jas almamaternya. Ia membawakan untuk Dina, jaga-jaga jika Dina kehausan atau kelelahan nanti.


Dina berada di barisan paling belakang kelompoknya. Sebelum mereka berkeliling kampus mereka mendapat pengarahan terlebih dahulu.


"tumben kamu bawa air Bim?" tanya Riri


"bukan urusanmu!" jawab Bimo datar


"kamu kenapa sekarang menjadi dingin terhadapku Bim, padahal dulu kita sangat dekat" ucap Riri merengek


"diam, tutup mulutmu!" bentak Bimo. Bimo takut Dina mendengar apa yang diucapkan oleh Riri. Padahal nyatanya Dina mendengar percakapannya dengan Riri cukup jelas karena mereka berdiri hanya berjarak dua meter dari Dina


Para peserta telah mulai berjalan keliling kampus mereka. Kelompok Dina berada di urutan pertama.


"kamu di depan!" Bimo menyuruh Riri untuk berada di sebelah barisan paling depan.


Riri menuruti Bimo, karena ia tidak ingin berdebat dengan Bimo. Bimo berjalan di sebelah Dina. Dina tak menghiraukan keberadaan Bimo. Ia asyik memperhatikan penjelasan para senior mereka.

__ADS_1


"minum dulu!" Bimo mengulurkan botol air mineral yang tadi ia bawa.


"tidak, terima kasih!" ucap Dina tanpa melihat ke arah Bimo


Bimo mengalah, lagi-lagi ia tidak bisa memaksa Dina. Dalam hatinya ada rasa sesal dan kecewa setiap mendapat penolakan dari Dina.


.


Mereka telah selesai berkeliling kampus, kini tiba saatnya acara penutupan yang akan diisi dengan penampilan dari setiap kelompok.


"Din...bagaimana...kita jadinya mau menampilkan apa?" tanya Ardi


"terserah Di..." jawab Dina


"kalau kamu menyanyi saja bagaimana?"


"aku tidak bisa bernyanyi, tapi aku bisa bermain gitar, walau cuma sedikit-sedikit" Dina nyengir kuda


"lagu apa yang kamu bisa?" tanya teman satu kelompoknya


"hmmm...apa ya....Roman Picisan aku bisa, tapi apa kalian bisa nyanyinya?" tanya Dina


"tenang...di kelompom kita ada yang pandai bernyanyi, main drum, dan juga bas" ucap teman yang lain


"oke kalau gitu, kita sepakat menyanyikan lagu roman picisan ya..." ucap Ardi


"oke pak ketua..." jawab anggota kelompok Dina serentak


Bimo hanya mendengarkan apa yang dibicarakan oleh kelompok yang ia dampingi. Ia tersenyum senang, karena kelompoknya hendak menyanyikan lagu yang pernah ia sukai.


Dulu saat Bimo dan Dina masih berpacaran, Bimolah yang mengajari Dina bermain gitar. Dan lagu itulah lagu pertama yang Dina bisa. Kemudian Bimo mendekat ke kelompoknya.


"jadi kelompok kita mau menampilkan apa untuk acara penutupan nanti?" tanya Bimo pura-pura belum mengetahuinya


.


.


.


B E R S A M B U N G


Maaf ya bestie lama tidak update, ada kesibukan di dunia nyata yang harus nona selesaikan.


Yuk jangan lupa ritualnya ya, like komen dan votenya ya, terima kasih sekebon bestie

__ADS_1


__ADS_2