
Setelah menghabiskan nasi goreng yang dibuatkan oleh Bimo, Dina bergegas mandi. Setelah ia pikir-pikir lagi karena belum mengenal kota J, mau tidak mau Dina menerima tawaran Bimo untuk mengantarnya.
Lagipula Caca sudah menelponnya, Caca dan Berta pergi berdua karena ternyata rumah nenek Caca dan rumah Berta berdekatan. Dengan berat hati Dina harus pergi sendirian ke toko buku.
Setelah selesai bersiap, Dina keluar dari kamarnya dan mengunci pintu sekalian. Bimo masih setia menunggu Dina yang sedang mandi dan bersiap. Tempat makan yang tadi mereka pakai pun sudah dibereskan oleh Bimo.
"sudah Din...?" tanya Bimo yang melihat Dina sudah selesai bersiap-siap
"sudah mas..." jawab Dina datar
"mampir ke kosku dulu ya..." ucap Bimo berdiri dan memakai jaketnya
"mau apa?" tanya Dina masih dengan sikap datarnya
"mengembalikan kotak makanan ini Dina..." jawab Bimo berusaha sabar dengan perilaku Dina
"oh...ya sudah ayo, nanti keburu siang" ucap Dina keluar dari tempat kosnya
Bimo mengikuti Dina keluar dari kosnya, dan ia menaiki motornya yang terparkir di depan pintu kosnya sedangkan Dina mengunci pintu rumah kosnya.
"sudah siap?" tanya Bimo sewaktu Dina sudah berada diboncengannya
"iya..." jawab Dina singkat
Bimo melajukan motornya dengan kecepatan sedang, tak butuh lama mereka telah sampai di depan kos Bimo yang ternyata hanya beda dua gang saja dengan kos Dina.
"kamu tunggu di sini saja ya...aku tidak akan lama" ucap Bimo
__ADS_1
"iya..." jawab Dina singkat
Bimo hanya bisa menghela nafasnya kasar, ia harus lebih bersabar lagi. Ia sangat mengenal watak Dina. Dina tidak akan bersikap acuh seperti itu jika tidak ada yang telah benar-benar membuatnya sakit hati.
Bimo masih merasa beruntung karena Dina masih mau pergi bersamanya meskipun dengan keterpaksaan. Ia yakin lambat laun Dina akan membuka hatinya lagi untuknya.
Lima menit kemudian Bimo sudah keluar lagi dari kosnya. Ia menghampiri Dina yang masih berdiri di sebelah motornya.
"mau ke toko buku dulu atau ke perpustakaan dulu?" tanya Bimo dengan tatapan teduh
"hshh...sebenarnya aku pun tidak tahu mau kemana" ucap Dina menghela nafasnya
"hari ini kamu ingin apa atau mau pergi kemana, aku akan antar kamu" ucap Bimo berusaha menahan kesalnya karena ternyata Dina tidak tahu tujuannya "atau ke toko alat tulis saja? Aku tahu tempat yang lumayan lengkap dan harganya terjangkau" tawar Bimo
"iya...aku mau ke sana..." ucap Dina dengan tatapan berbinar
Bimo tahu, hanya dengan hal yang sederhana Dina sudah sangat senang. Tidak perlu mengajaknya ke tempat yang mewah atau pergi ke tempat yang jauh untuk menyenangkan Dina, asal tahu apa yang ia inginkan dan butuhkan itu sudah cukup.
Perjalanan yang mereka tempuh membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit dengan kecepatan sedang. Toko yang mereka datangi tidak terlalu besar tapi lengkap, semua perlatan yang mereka butuhkan ada di situ.
"ayo..sini aku tunjukkan apa saja yang harus kamu beli" Bimo menarik tangan Dina dan menunjukkan bermacam-macam pensil dengan segala ukuran ketebalan, penggaris, rapido, mal untuk menggambar, semua kebutuhan anak-anak teknik Bimo tunjukkan ke Dina.
Dina begitu tercengang, ketika tahu ia harus membeli peralatan menggambar yang begitu banyak macamnya.
"kamu tidak usah membeli semuanya, beli yang kamu perlu saja, sisanya bisa kamu pinjam dari kakak tingkat, atau kalau punya teman anak arsitek atau sipil kamu bisa pinjam ke mereka, tapi itu tidak untuk semester awal, nanti mulai semester dua baru kamu membutuhkan alat-alat seperti itu" terang Dina
"mas Bimo punya?" tanya Dina dengan wajah polosnya, wajah yang selalu disukai oleh Bimo, Bimo tidak akan bisa menolak apa yang Dina minta ketika Dina sudah menampakkan tatapan polosnya seperti itu.
__ADS_1
"aku punya beberapa, tidak semua aku punya, besok kalau kamu sudah mengambil mata kuliah menggambar teknik aku akan meminjamkan apa yang aku punya, yang pasti yang harus kamu punya hanya pensil tidak perlu semua ukuran kamu punya, cukup yang ketebalan 0,7 0,5 dan 0,3 saja dan penggaris panjang dan pendek" terang Bimo dengan menatap Dina yang masih terkesima melihat-lihat alat-alat gambar yang dipajang di etalase.
"ternyata tidak sesederhana yang aku bayangkan ya...sepertinya aku salah jurusan" Dina terkekeh
Bimo tersenyum menanggapi ucapan Dina. Ia tidak ingin membuat Dina tidak nyaman dengan komentarnya, sebisa mungkin ia menahan diri.
Mereka berdua berkeliling melihat-lihat apa saja yang ada di toko itu. Sejenak Dina melupakan kekesalannya kepada Bimo. Ia bengitu senang bisa berada di toko alat tulis itu. Mereka berdua naik ke lantai dua, di sana ada beberapa buku-buku kuliah tapi tidak terlalu lengkap jika dibandingkan dengan toko buku.
Hanya beberapa buku yang sering dicari para mahasiswa yang ada di sana. Bimo merasa bahagia, ia merasa perlahan tapi pasti Dina mulai bersikap lebih baik terhadapnya.
Dina pun juga senang, karena ia bisa melihat-lihat dan mendapatkan penjelasan yang ia butuhkan tentang semua peralatan yang ada di sana. Jika dia pergi bersama teman-temannya belum tentu ia akan tahu banyak hal.
Bimo dengan sabar dan telaten menjelaskan apa saja yang Dina tidak mengerti. Setiap Dina melihat sesuatu, dengan sigap Bimo menjelaskan kegunaannya. Bimo sudah seperti tour guide bagi Dina.
Setelah melihat-lihat di toko itu, Dina memutuskan untuk membeli buku tulis dan alat-alat tulis dasar saja, sisanya besok kalau ia sudah masuk kuliah baru ia tahu apa saja yang ia butuhkan.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lebih lima belas menit. Bimo mengajak Dina untuk makan siang di sebuat tempat makan yang tenpatnya luas dan nyaman. Banyak mahasiswa yang makan di situ karena cocok dijadikan tempat nongkrong untuk para mahasiswa.
Bimo mengajak Dina untuk duduk di sudut tempat makan itu, ia tidak ini terganggu dengan lalu lalang orang-orang. Ia juga ingin menikmati kebersamaan dengan Dina, yang sudah mulai ceria lagi.
Tidak lagi ketus ketika berbicara dengannya. Tidak lagi menatapnya datar. Dina sudah mulai kembali menjadi Dina yang dulu ia kenal.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g