Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 115 Mulai rukun


__ADS_3

Dina diam, memejamkan matanya, menikmati sejuknya udara pagi dan hangatnya sinar mentari yang menyinari tubuhnya. Dendy hanya memperhatikan apa yang Dina lakukan, ia tidak ingin mengganggunya.


Dina membuka matanya, pandangannya tertuju pada Dendy yang berdiri di sampingnya menatapnya dengan raut penyesalan.


"kamu kenapa diam di situ?" tanya Dina


"aku menemani kamu" ucap Dendy tersenyum tulus


"sebenarnya aku tidak perlu ditemani, aku bisa mengurus diriku sendiri" ucap Dina menatap lurus ke depan


"kamu sedang sakit Dina sayang.... Dan kamu di rumah sakit, kalau kamu di rumah beda lagi ceritanya" jawab Dendy mendekati Dina dan mendekap bahu Dina yang sedang duduk dengan posisi berdiri


Dina membuang nafasnya kasar. Dia sudah lelah berdebat, berdebat hanya akan membuat ia semakin sakit. Saat mereka berdua sedang berada di teras belakang ruang rawat Dina tiba-tiba ada terdengar suara orang membuka pintu.


"Dina..." ucap seseorang yang masuk ruang rawat Dina. Dina hanya menoleh ke belakang dan teryata yang datang adalah Toni. Ia melihat Dina ada di belakang dengan senyum yang terkembang ia berjalan mendekati Dina


"maaf Din...aku terlambat" Toni sampai di ambang pintu belakang ruang rawat Dina. Ketika Toni sudah berada di dekat Dina, betapa terkejutnya dia, melihat Dina sedang berdua dengam Dendy. Dendy yang melihat keterkejutan Toni hanya trsenyum sinis. Ia merasa di atas angin sekarang.


"Dina, kenapa dia ada di sini bukannya ia yang membuatmu sakit?" tanya Toni menahan rasa sakit , marah dan cemburu yang berkecamuk di dadanya


"sudahlah Ton, aku sedang tidak ingin berdebat, aku hanya ingin cepat sembuh" ucap Dina datar


"iya tapi kan...." ucapan Toni seakan melayang di udara melihat Dina membelai tangan Dendy yang sedang memegang pundaknya


"baiklah...aku pulang saja...syukur kamu sudah lebi baik, kalau ada apa-apa kamu kabari aku" ucap Toni membalikkan badan dan berjalan keluar ruang rawat Dina


Setelah kepergian Toni, Dina menarik tangannya kembali. Dia melakukan itu bukan karena sudah melupakan kesalahan Dendy tapi hanya karena ia tak ingin ada keributan di antara Dendy dan Toni. Bagaimanapun juga Dendy masih menjadi pacarnya.


Dina bangkit berdiri dan meraih tiang infusnya dan mendorongnya pelan


"kamu mau apa Din?" tanya Dendy meraih bahu Dina serta membantu mendorong tiang infusnya


"aku capek, aku mau tiduran" ucap Dina


Dendy dengan telaten membantu Dina naik ke brankar, kemudian ia menarik selimut dan menyelimuti Dina sebatas pinggangnya. Dina memejamkan matanya, ia masih enggan berbicara banyak dengan Dendy.


Melihat Dina memejamkan matanya, Dendy menarik kursi mendekat ke brankar Dina. Dendy duduk dan membelai tangan Dina yang bebas dari infus. Dendy merenungi semua kejadian-kejadian yang telah lalu. Rasa sesal yang amat sangat di dalam hatinya.


Dina begitu baik, begitu pemaaf, ia tahu pasti Dina sangat kecewa kepadanya. Dan ia juga akhirnya bisa menepis rasa curiganya terhadap Toni. Dina dengan terang-terangan menunjukkan siapa yang dia pilih untuk berada bersamanya.


Dina tidak tidur, ia hanya pura-pura tidur dari tadi ia melihat Dendy dari sudut matanya. Ia melihat Dendy melamun sambil membelai tangannya, tidak tahu apa yang ia lamunkan. Sepertinya hal yang berat untuknya.


"kamu mikirin apa?" akhirnya Dina membuka suaranya

__ADS_1


Dendy terjaga dari lamunannya "ah...tidak apa-apa" Dendy memutar duduknya menghadap Dina "kamu tidak tidur?" tanya Dendy lembut


"aku sudah kebanyakan tidur Den" ucap Dina


"lantas kamu mau apa?" tanya Dendy


"entahlah....aku juga bingung" Dina menatap langit-langit ruang rawatnya


Dendy masih membelai tangan Dina, ia memperhatikan Dina. Wajah Dina terlihat sedikit tirus tapi tidak sepucat waktu dia mengantarnya pulang. Mungkin benar ada hikmah di balik sakit, Dendy sadar akan semuanya bahwa yang ia tuduhkan kemarin adalah salah.


Ia merasa tak seharusnya ia menuduh Dina seperti itu padahal ia dulu pernah berbuat kesalahan yang lebih berat daripada yang Dina lakukan.


Mereka larut dalam pemikiran mereka masing-masing, sampai mereka tidak mendengar ada yang mengetuk pintu.


"permisi...." ucap orang yang tadi mengetuk pintu


"iya...." Dina menoleh ke arah yang baru saja masuk, ternyata petugas yang biasa mengantarkan makanan


"ini snack nya...." kata orang itu


"terima kasih" ucap Dina tersenyum tulus


Dendy berjalan ke arah meja dimana petugas tadi meletakkan makanan untuk Dina. Kemudian ia mengambilnya dan membawanya mendekat ke brankar Dina


"ayo kamu duduk dulu" Dendy membantu Dina bangun kemudian mulai menyendok bubur kacang hijau


"ayo Din...makan dulu" Dendy menyuapkan bubur ke mulut Dina


Dina makan dengan lahap, entah karena ia lapar atau senang karena Dendy yang menyuapinya. Sesuap demi sesuap bubur masuk ke mulut Dina, dan tidak sampai sepuluh menit bubur itu habis tak bersisa.


"sudah habis Din..." ucap Dendy


"lhoh...sudah habis ya..." Dina melongok ke arah mangkok yang dipegang Dendy


Dendy tersenyum, dua kali ia menyuapi Dina, Dina tidak sadar kalau makanannya sudah habis.


Dendy meletakkan mangkoknya ke meja dekat pintu, kemudian ia kembali duduk di sebelah brankar Dina.


"kamu tadi sudah makan?" tanya Dina lembut


"belum" jawab Dendy tersenyum teduh


"kamu tidak mau makan dulu?" tanya Dina

__ADS_1


"kalau aku tinggal makan kamu sama siapa Dina sayang?"


"aku tidak apa sendiri" ucap Dina


"ya sudah aku ke kantin dulu sebentar" ucap Dendy mengusap kepala Dina


Dendy keluar ruang rawat Dina, ia berjalan ke kantin yang terletak tidak jauh dari ruang rawat Dina. Dendy membeli makanan dan minuman untuknya, kemudian ia kembali ke ruang rawat Dina.


Dendy sebenarnya tidak mau meninggalkan Dina sedetik 'pun, tapi ia juga sudah lapar, karena tadi pagi ia buru-buru ke rumah sakit. Ia ingin membuktikan kepada Dina kalau ia akan bertanggung jawab dan memperbaik kesalahannya.


Dendy sudah tiba di ruang rawat Dina. Ia masuk kemudian ia duduk di sebelah brankar Dina.


"kenapa cepat sekali?" tanya Dina heran, setahu dia Dendy keluar untuk makan


"iya aku membungkusnya" Dendy menunjukkan kepada Dina bungkusan yang ia bawa


"kamu beli apa?" Dina menggeser duduknya dan menurunkan kakinya, ia duduk menghadap Dendy


"eh..kamu mau kemana? " Dendy kaget melihat Dina yang seperti hendak turun dari tempat tidur


"sudah kamu makan dulu saja" ucap Dina tersenyum


"iya..." Dendy membuka bungkusan yang ia bawa


"mie goreng ya...sepertinya enak...boleh minta tidak?" mata Dina terlihat berbinar melihat makanan yang Dendy beli


"jangan dulu sayang....kamu belum sembuh benar, besok kalau kamu sudah sembuh, kita makan mie sepuasnya ...oke" ucap Dendy lembut.


Dendy sebenarnya mau saja membagi makanannya dengan Dina. Hanya saja kondisi Dina yang belum pulih membuat ia tidak tega kalau Dina harus memakan mie goreng yang ia beli.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


Jangan lupa ritualnya ya bestie


Please like, vote dan komennya ya

__ADS_1


Terima kasih sekebon bestie


__ADS_2