Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 174 Pulang


__ADS_3

Hari jumat sore, Dina pulang kuliah dari kampus jam empat lebih lima belas menit. Dina jalan dengan sedikit tergesa-gesa, ia ada janji dengan Widi jam lima.


Sesampainya di kos Dina segera mengemasi barang-barangnya dan merapikan kamarnya sambil menunggu dijemput. Ia sudah tak sabar untuk pulang, ia sangat merindukan Dendy.


Pukul lima lebih lima menit, Widi menjemput Dina di kosnya. Dina bergegas keluar kamar dan mengunci pintu kamarnya. Ia naik ke boncengan Widi "agak cepat sedikit ya...takut kemalaman"


"oke..." ucap Widi menyalakan mesin motornya kemudian melajukan motornya dengan kecepatan agak tinggi.


Satu setengah jam kemudian mereka telah sampai di rumah Dina. Dina turun dari boncengan Widi dan melepas helmnya.


"aku langsung pulang ya...sudah malam" ucap Widi


"iya...terima kasih ya..." ucap Dina dengan senyum mengembang


"aku balik hari minggu, kamu mau bareng tidak?" tanya Widi


"hmm....boleh...tapi agak sorean ya... Jam empat atau lima gitu ya..." ucap Dina


"baiklah...aku pulang dulu ya..." Widi melajukan motornya keluar dari halaman rumah Dina


Dina masuk ke dalam rumahnya di sambut oleh adik-adiknya yang selalu ada saja yang ingin diceritakan kepada kakaknya yang selama satu minggu tidak mereka temui.


"Nino...biarkan kakakmu mandi dulu..." mamanya Dina menyela pembicaraan Dina dan adik-adiknya


"nanti ya...kakak capek mau mandi dulu, tadi dari kampus belum sempat mandi" ucap Dina masuk ke dalam kamarnya kemudian keluar lagi ke kamar mandi


Dina keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, kemudian ia ke meja makan duduk di samping Nino yang selalu saja ribut minta duduk di sebelah Dina jika makan.


"tadi pulang diantar siapa?" tanya papanya Dina


"dengan Widi pa..." ucap Dina sambil mengisi piringnya dengan nasi


Mereka makan dalam diam hanya suara dentingan sendok beradu dengan piring, papanya Dina akan marah jika ada yang ribut di meja makan.


Setelah selesai makan malam Dina membereskan meja makan kemudian ke dapur untuk mencuci piring.


"memangnya kosnya Widi dekat denganmu?" tanya mamanya Dina


"ya....jauh sih ma..." ucap Dina sambil mencuci piring

__ADS_1


"kenapa bisa menjemput kamu?" tanya mamanya Dina


"kan searah dia pulang ma...kan lumayan dapat tumpangan gratis" Dina terkekeh


"oo...iya... Ma....besok minggu depan Widi mau mengantarku membeli ponsel, tapi uangnya kurang" ucap Dina lirih di akhir bicaranya


"memangnya kurang berapa?" tanya mamanya Dina


"kira-kira lima ratus ribu ma..." ucap Dina


"ya sudah...nanti mama tambah, tapi bulan depan uang bulananmu tidak mama tambah ya..." ucap mama Vera lembut


"iya ma...tidak apa-apa" ucap Dina dengan senyum mengembang.


Dina mencuci tangannya kemudian ia kembali ke ruang keluarga menemani adik-adiknya yang sedang menonton tv.


Keesokan harinya seperti biasa Dina berangkat ke studio sekitar pukul sepuluh siang. Sesampainya di studio Dina terkejut dengan kondisi studio yang terlihat semakin lama semakin tidak terawat.


"Lex...kenapa studio menjadi suram begini?" Dina memperhatikan sekeliling


"mau bagaimana lagi Din, tinggal aku sendiri yang mengurus, kamu atau Widi ke sini paling kalau akhir minggu" ucap Alex tak bersemangat


"mereka itu datang kalau mereka sedang mau saja, yah...begitulah...apalagi pak Har sekarang sudah tidak menjadi pendamping OSIS lagi.....pendanaan studio ini juga berkurang" ucap Alex lesu


"ya bagaimana lagi Lex..." Dina mulai mengatur daftar lagu yang akan ia putar


"aku juga sepertinya tahun ini masuk kuliah Din jadi pasti lebih tak terurus lagi" ucap Alex dengan nada sendu


Dina menghela nafasnya, tidak ada adik-adik kelasnya yang mau untuk melanjutkan jerih payah mereka. Apalagi dengan kepala sekolah yang baru, nasib SMAX fm seperti di ujung tanduk.


Setelah membantu Alex bersiaran selama tiga jam Dina berpamitan untuk pulang. Seperti biasa Dina menyempatkan untuk mampir ke rumah Dendy.


"Den..." ucap Dina mematikan mesin motornya di depan pintu pagar


Dendy bergegas membukakan pintu pagar untuk Dina "masukkan saja motormu"


"iya..." Dina menuntun motornya masuk ke halaman rumah Dendy "di rumah semua?"


"iya..." Dendy menutup pintu pagar rumah

__ADS_1


"di teras saja ya...aku capek banget..." ucap Dina kemudian duduk bersandar di kursi teras rumah Dendy


"memangnya kamu dari mana?" tanya Dendy lembut


"seperti biasa jadwalku setiap hari sabtu" Dina terkekeh


"iya...yang jadi orang sibuk" Dendy meledek Dina


"apa sih...?" Dina mengerucutkan bibirnya "bagaimana sudah benar-benar sehat?" tanya Dina


"sudah...sudah...sudah bisa makan apa saja" Dendy tergelak


"kemarin kenapa enggak bilang kalau sakit? Aku jadi merasa menjadi pacar yang tidak peduli dengan pacarnya yang sedang sakit" Dina mengerucutkan bibirnya


"tidak ada yang tahu aku di rumah sakit Din...aku mau titip pesan ke siapa?" tanya Dendy


Dina menghela nafasnya, ia merasa bersalah karena tidak menjenguk atau menemani Dendy di rumah sakit.


"tidak perlu merasa bersalah, kamu kuliah di kota J aku tidak mau membebani pikiranmu, kamu sehat tidak sakit saja aku sudah bahagia" ucap Dendy


"iya....lain kali kabari aku kalau kamu ada apa-apa, jangan aku tahu dari orang lain" ucap Dina lirih.


Mereka berdua mengobrol sedikit lebih serius dari biasanya. Dina mulai menceritakan pengalamannya sewaktu mendaftar hingga menghadapu tes masuk perguruan tinggi.


Meskipun Dina sudah menceritakannya dulu, tapi kali ini ia bercerita lebih rinci lagi karena sebentar lagi Dendy juga akan masuk kuliah. Dina berharap ia bisa kuliah di kampusnya.


"kuliah di kampusku saja...nanti aku bantu mendaftar dan mencari kos" ucap Dina


"entahlah...masih bingung mau kuliah dimana" ucap Dendy berbohong


Dendy sudah memantapkan untuk mendaftar di kampus J tinggal menunggu persetujuan papanya. Karena sampai sekarang ia belum benar-benar berani meminta ijin untuk mendaftar di kampus yang sama dengan Dina.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2