
Sepeninggal Dina, Dendy kembali duduk di kursi di bawah pohon mangga itu. Melamun, memikirkan apa yang harus dia lakukan lagi untuk mendekati Dina.
Dia merasa Dina tipe cewek yang sulit untuk didekati. Mungkin kalau untuk sekedar berteman Dina tidak begitu sulit didekati, tapi untuk mendekatinya dan dijadikan pacar sepertinya Dendy harus memikirkan cara lain.
Dina seolah-olah membuat benteng untuk dirinya agar tidak ada seorang pun yang bisa lebih dekat dengannya. Setiap Dendy mulai mengambil langkah lebih agresif maka Dina pun juga mulai menjauh, mulai menunjukkan benteng itu.
Meski dengan penolakan-penolakan secara halus. Tapi untuk orang yang memiliki hati yang peka seperti Dendy sudah akan tahu kalau Dina tidak mau didekati lebih dari sekedar teman. Itu yang Dendy belum tahu alasannya apa.
Padahal dari cerita-cerita yang pernah Dia dengar dari kakak sepupunya, Dina pernah berpacaran dengan temannya dan kakak kelasnya. Tapi sepertinya Dina saat ini tidak tertarik dengan siapapun. Bahkan dengan Widi yang dia tahu berusaha mendekati dan begitu perhatiannya dengan Dina. Di depan semua orang 'pun dia tidak ada rasa canggung untuk menunjukkan betapa Widi sangat menyayangi Dina.
Dari yang Dendy dengar dari Dina, mereka hanya bersahabat. Ada rasa kelegaan tapi juga ada rasa yang entah dia tidak tahu apa seperti ada yang mengganjal di dalam hatinya.
Terlalu lama melamun memikirkan Dina, membuat Dendy tidak menyadari kakak sepupunya sudah berada di sampingnya. Gilang sudah duduk dengan santainya, sambil mengamati adik sepupunya yang sedang melamun.
"Sudah..?" Gilang mencoba membuyarkan lamunan Dendy
Dendy menoleh ke arah datangnyaa suara, betapa terkejutnya dia, tidak menyadari kalau Gilang sudah duduk manis di sebelahnya
"sejak kapan mas Gilang di sini?"
"Sejak tadi...sejak Dina berjalan masuk ke vila" jawab Gilang sambil bersedekap di dada dan menatap lurus ke depan
Dendy menghela nafasnya "berati sudah lama ya?" Dendy kembali mengarahkan pandangannya ke depan
"Lumayan...cukup untuk menghabiskan dua batang rokok" Gilang menendang dua puntung rokok yang tadi dia buang di bawah kakinya
"Kenapa melamun?" tanya Gilang serius "Kamu sudah mengutarakan perasaanmu ke Dina?"
"Belum mas, aku belum berani ?" jawab Dendy sambil menundukkan kepalanya
"Hahhhh....." Gilang menghela nafas panjang "terus kenapa kamu melamun?"
"aku bingung harus bagaimana caranya agar bisa mendekati Dina" jawab Dendy dengan nada sendu "Dina seperti membuat tembok tinggi tak kasat mata mengelilingi dia, seolah-olah dia sulit untuk dijangkau siapapun"
__ADS_1
"aku lihat Dia tidak seperti yang kamu bilang" Gilang menoleh ke arah teras karena merasa mendengar suara Dina dari kejauhan
"itu lihat dia dekat dan ramah dengan siapa saja, sebagian besar anak OSIS yang ikut ke sini cowok, dia enjoy malah becanda sama cowok-cowok di teras" Gilang melanjutkan berbicara sambil menatap ke arah teras vila menatap Dina yang sedang asyik bercanda dengan cowok-cowok.
"entahlah mas..."
"Bukannya semalam kamu sudah bisa jalan berdua dan masih dilanjut lagi bernyanyi bersama dengan Dina?" Gilang mengernyitkan dahinya kembali menatap Dendy
"aku juga bingung, semalam benar-benar membuat aku yakin untuk mendekatinya, tapi hari ini...."
"apa yang membuat kamu tidak yakin ?" Tanya Gilang penasaran
"mas Gilang lihat sendiri, Widi yang sedekat dan seperhatian itu saja hanya dianggap sahabat sama Dina" Dendy benar-benar sedih "sedangkan aku...." lanjutnya
"Den...ini ya aku kasih tahu, Dina bukan tidak bisa didekati, tapi kamu nya saja yang belum berjuang sudah mundur lebih dulu "
" aku sadar diri mas... " jawab Dendy lirih sambil menundukkan kepalanya lagi
"mungkin Dina masih trauma untuk dekat sama cowok"
"Dulu....waktu kelas dua, kelasku bersebelahan dengan kelas Dina, suatu hari aku ingat itu waktu istirahat menjelang jam sore, aku melihat Dina berjalan tergesa-gesa dari arah taman depan kelas kami masuk ke kelasnya sambil menangis " ujar Gilang
"Tidak banyak anak yang tahu karena biasa kalau istirahat jam sore semua pada keluar, aku tidak berani menyapanya, tetapi aku melihat ke arah taman Mas Bimo kakak kelas kami menatap Dina dengan tatapan sendu" lanjut Gilang
Dendy masih mendengarkan dengan serius cerita dari Gilang
"waktu aku pulang sempat bertemu dengan Rina teman sebangkunya, aku menanyakan kenapa Dina menangis dan ternyata Dina diputuskan mas Bimo tanpa alasan yang jelas"
Gilang menceritakan semua yang dia tahu tentang hubungan Dina dan mas Bimo. Siapa mas Bimo dan bagaimana perjuangan mas Bimo untuk mendapatkan hatinya Dina.
Dendy mendengarkan cerita Gilang dengan serius. Dia bisa menyimpulkan mendekati Dina itu gampang-gampang susah. Dina bukan tipe pemilih tapi kalau dia sudah suka dan nyaman pasti akan diterima.
"Sekarang kamu tahu kan kenapa Dina seperti itu?" tanya Gilang menoleh ke arah Dendy
__ADS_1
"Tapi yang aku heran itu si Widi, padahal dia kelihatan begitu gigih mendekati Dina, dulu waktu acara camping antar sekolah aku sudah melihat Widi begitu perhatian ke Dina tapi sampai sekarang ternyata mereka tidak pacaran" terang Dendy pandangannya menerawang jauh ke depan
"memang sudah lama Widi mendekati Dina, kalau tidak salah dari kelas satu, sejak Dina belum berpacaran sama mas Bimo" ujar Gilang
"sudah selama itu tapi belum bisa meluluhkan hatinya Dina, terus aku bagaimana....?" Dendy kembali pesimis membandingkan usaha dia mendekati Dina dengan usaha Widi
"tidak ada yang perlu kamu kawatirkan Den, kalau kamu suka ya dekati terus, aku lihat kamu punya kesempatan kok" Gilang menyemangati adik sepupunya agar tidak pesimis lagi
"yang dari tadi aku pikirin itu ya... itu mas, bagaimana caranya mendekati Dina "
"Cukup jadi diri kamu sendiri saja Den, tidak perlu berubah jadi orang lain, yang aku tahu Dina tidak suka orang yang berpura-pura menjadi orang lain demi menyenangkan dirinya"
"Dina lebih suka cowok yang apa adanya bukan ada apanya..." terang Gilang
Saat Gilang dan Dendy larut dalam pembicaraan serius mereka. Ada sebuah mobil yang memasuki halaman vila. Mobil itu terparkir tepat di depan Gilang dan Dendy duduk. Setelah mematikan mesin mobil pengemudinya turun. Dan tampaklah seorang pria paruh baya yang menjadi pendamping OSIS.
Pria itu adalah pak Har, guru yang dekat dengan Dina dan Widi. Pak Har berjalan menghampiri Gilang dan Dendy yang masih duduk di kursi di bawah pohon mangga.
Gilang pun berdiri dan menyapa pak Har. Terjadi percakapan singkat di antara mereka. Pak Har tidak mengomentari kenapa Gilang berada di sana. Yang pak Har tahu kalau Gilang rumahnya memang beradaa di dekat vila yang disewa untuk makrab jadi merasa jika Gilang main ke vila adalah hal yang wajar.
.
.
.
.
.
.
*Terima kasih bestie... yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel receh ini dukung othor terus ya...tolong like comment vote kirim bunga, kopi atau yang lainnya Dan pencet tombol favorit tentunya.
__ADS_1
Terima kasih sekebon bestie