
"papamu kok tahu namaku, tahu dari mana Den?" Dina kembali bertanya karena tadi belum sempat dijawab oleh Dendy.
"i..itu...kemarin kamu pernah telepon ke rumah terus yang angkat papaku kan? makanya papaku tahu namamu" kilah Dendy yang tidak ingin Dina tahu apa yang terjadi sebelum dia resmi berpacaran dengan Dina.
"jadi...hanya masalah Nana kamu jadi seperti ini Din?" tanya Dendy lembut menatap Dina yang duduk di sebelah kirinya mencoba mengalihkan perhatian Dina tentang keluarganya yang sudah tahu tentang dia.
Dina hanya menjawab dengan gelengan kepala, terdengar helaan nafas panjang dari Dina seperti hendak mengatakan sesuatu tapi rasanya berat.
"ada apa Din? Cerita saja aku akan mendengarkan" ucap Dendy lembut
"masalah sekolah Den" ucap Dina dengan nada tak bersemangat.
"memangnya ada apa? Kamu terancam di keluarkan begitu hmm..."
"bukan itu...memangnya aku salah apa sampai dikeluarkan dari sekolah" ucap Dina mencebik
"ya terus...ada apa, kamu sampai lesu tak bersemangat begitu" Dendy mencoba bertanya dengan nada lembut agar Dina tidak merasa takut untuk bercerita
"aku gagal Den..." ucap Dina kembali tertunduk
"gagal? Memangnya ada apa?" tanya Dendy penasaran
"aku enggak lolos program unggulan kampus 'B' Den...aku gagal " Dina menunduk memegangi kepalanya dengan kedua tangannya
"memangnya kamu ambil jurusan apa hmm....?" tanya Dendy sambil membelai punggung Dina dengan tangan kirinya
"kedokteran"
"memangnya yang daftar berapa? Yang lolos berapa?" tanya Dendy masih sambil membelai punggung Dina
"tidak ada satupun yang lolos" Dina masih tertunduk lesu
"berarti kamu tidak gagal Din, bukan kamu saja yang tidak lolos tapi semua yang ikut program tidak ada yang lolos" Dendy mencoba menghibur Dina
"iya memang sih... tapi tetap saja kecewa Den, itu yang selama ini aku kejar, dari kelas satu berusaha mempertahankan nilai-nilaiku agar bisa masuk kedokteran dengan jalur program unggulan" Dina menegakkan tubuhnya memandang Dendy yang menatapnya dengan tatapan teduh.
"jadi kamu mau jadi dokter Din?" tanya Dendy " kalau kamu jadi dokter aku mau jadi pasienmu, tiap hari aku sakit juga enggak apa-apa asal kamu dokternya" ucap Dendy dengan nada menggoda
"hah...kamu itu ya....malah mau sakit tiap hari" Dina mencebik sambil memukul-mukul lengan kiri Dendy
"awh....sakit....sakit Din..." ucap Dendy dengan menahan tawanya
"habisnya....kamu menyebalkan, mana ada orang mau sakit tiap hari" ucap Dina kesal
"ya...kan biar kamu bisa merawat aku tiap hari " ucap Dendy tersenyum jahil, sedangkan Dina mencebik
__ADS_1
Dendy menarik Dina kedalam pelukannya, Dina menyandarkan kepalanya di bahu kiri Dendy dengan mata terpejam.
Dendy melingkarkan tangan kirinya di bahu Dina dan membelai lengan kirinya. Mencoba memberi kenyamanan untuk Dina. Dendy akhirnya mengetahui Dina sosok yang selalu ceria, selalu tersenyum terlihat selalu tegar, punya sisi rapuh yang tidak semua orang mengetahuinya.
Dina merasa tenang, nyaman dan lega berada dalam pelukan Dendy. Ia merasa mungkin dia sudah benar-benar jatuh cinta kepada Dendy. Dendy yang selalu tenang dan sabar, dan tahu kapan harus bercanda dan serius perlahan telah masuk ke hatinya.
Dendy membiarkan Dina merasakan ketenangan, karena memang niatnya menghibur Dina, menjadi pendengar setia akan keluh kesahnya. Dia terus membelai Dina, menyalurkan perasaannya agar Dina tahu ketulusan dan kesungguhan perasaannya.
Saat mereka hanyut dalam perasaan mereka, terdengar suara motor berhenti di depan pagar rumah Dendy. Dendy melirik ke arah pintu pagar, ternyata adiknya sudah pulang les.
"kak... kalau sudah di rumah kenapa enggak jemput aku les?" ucap Rio adik Dendy berteriak sambil membuka pintu pagar rumah
Dina bangun dan menegakkan duduknya menatap siapa yang datang, ternyata seorang anak kecil yang dia kira seumuran dengan adiknya Alan.
"kakak enggak ada motor ya...kamu lupa kalau motor kakak ada di bengkel" ucap Dendy kesal karena adiknya datang-datang sudah mengomel
"itu ada motor" ucap adik Dendy menunjuk ke arah motornya Dina
"itu punya kak Dina... Masak iya kakak pinjam buat jemput kamu" ucap dendy tidak mau kalah dengan adiknya
"oh...ini yang namanya kak Dina" ucap Rio polos sambil memandangi Dina dengan teliti
"sudah...sudah....masuk sana, jangan ganggu kakak" Dendy mendorong adiknya agar segera masuk ke dalam rumah
"aku kan cuma mau kenalan denga kak Dina, kenapa malah didorong-dorong" gerutu Rio
"itu adikmu?" tanya Dina
"iya..." jawab Dendy berjalan ke arah tempatnya tadi duduk
"kelas berapa?"
"kelas lima SD, memangnya kenapa?"
"oh...seumuran adikku ternyata" jawab Dina "kenapa kamu tadi enggak bilang kalau harus jemput adikmu?" tanya Dina mengerutkan dahinya
"kalau aku tinggal, kamu sama siapa? Mama sama papaku tidak ada di rumah" jawab Dendy
"kan bisa jemput sama aku... Memangnya dia les di mana?"
"itu di tempat les 'XX' " jawab dendy
"oh...di situ... Adikku juga mau les di situ, tapi sama mamaku katanya besok saja kalau sudah kelas enam"
"kenapa malah bahas Rio sih..." Dendy mengerucutkan bibirnya
__ADS_1
"kenapa memangnya?" Dina mengerutkan dahinya
"ada aku di sini kenapa malah bahas Rio Dina sayang..." ucap Dendy kesal
"cemburu nih...ceritanya" Dina tergelak
Melihat Dina tergelak Dendy merasa bahagia akhirnya Dina tersenyum lagi. Karena dia merasa senang dan gemas Dendy spontan mencium pipi Dina. Dina tersentak kaget dan terdiam, tidak meberikan respon apapapun. Dina teringat, mas Bimo pernah dengan sengaja mencium pipinya dan dia marah besar, tapi dengan Dendy dia tidak tahu harus bagaimana.
Dendy yang melihat perubahan raut wajah Dina, seketika merasa bersalah. Takut Dina marah karena dia mencium pipinya, meskipun tidak ada penolakan waktu ia memeluknya tadi, tapi tetap saja ia merasa takut.
"maaf Din" ucap Dendy dengan nada penyesalan
Dina menoleh ke arah Dendy dan tersenyum. Dina mencoba berdamai dengan hatinya, meskipun terlalu cepat Dendy menciumnya padahal mereka belum lama berpacaran. Tapi dia juga merasa sedikit senang. Dendy juga sudah beberapa kali memeluknya meskipun bukan pelukan yang intim, hanya sekedar pelukan menenangkan dan luapan bahagia.
"sekarang jam berapa Den?" tanya Dina sengaja mengalihkan perhatian menutupi rasa canggung karena tiba-tiba Dendy menciumnya.
"sebentar aku ke dalam dulu, aku lihat jam berapa sekarang" ucap Dendy lembut
Dendy masuk ke dalam rumah dan melihat jam berapa sekarang. Dia masih menetralkan detak jantungnya yang merasa takut Dina marah dengan tindakannya tadi. Tapi melihat Dina tersenyum rasa bersalahnya sedikit memudar.
Dia berjanji kepada dirinya, hanya akan mencium atau memeluk Dina atas ijin Dina, karena Dendy benar-benara takut Dina marah dan menjauh darinya. Dendy benar-benar sudah jatuh dalam pesona Dina.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
Curhat lagi...
Part ini sebenarnya sudah nona buat dari kemarin pagi tapi karena mengetik sambil mnegerjakan kerjaan di dunia nyata jadi hp berkali-kali di taruh tanpa menutup NT
Wakti dibuka ternyata draft hilang, sampai semalam ngetik ulang sudah 700an kata juga tiba-tiba hilang dari draft
Sebelum-sebelumnya setiap yang diketik otomatis tersimpan, kalau sekarang enggak jadi bener-bener bikin ilang mood dan ide.
Yuk bestie...tinggalkan jejaknya ya...
Mumpung hari senin boleh dong nona minta votenya
juga kirim-kirim bunga dan kopi gitu hehehe...
__ADS_1
Terima kasih sekebon bestie...