Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 184 Masih tanda tanya


__ADS_3

Dina makan dengan santai, ia tidak tahu akan diajak kemana oleh Bimo. Meski ada sedikit kekawatiran dalam hatinya, Dina berusaha untuk setenang mungkin. Peristiwa hari ini memberinya pelajaran berharga, ketenangan sangat dibutuhkan dalam menghadapi masalah. Jangan sampai iku-ikutan emosi, karena hanya akan memperkeruh masalah.


"sudah selesai makannya?" tanya Bimo lembut


"sudah..." Dina menghabiskan minumnya


"ayo..." Bimo mengulurkan tangannya hendak menggandeng tangan Dina. Namun Dina tak menghiraukannya. Mereka berjalan beriringan keluar rumah makan.


Bimo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dina tidak tahu dirinya akan dibawa kemana. Ia malas bertanya, karena ia tahu Bimo pasti akan menjaganya seperti yang sudah-sudah.


Dina tak pernah merasa takut ketika bersama Bimo. Ia sangat percaya Bimo akan selalu menjaganya seperti selama ini. Dina tahu dia bisa merasa tenang tak ada gangguan di kampus karena Bimo yang selalu berada di dekatnya.


Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di sebuah rumah kecil namun terlihat mewah. Bimo mematikan mesin mobilnya "ayo turun..." ucap Bimo sambil membukakan pintu mobil untuk Dina.


"rumah siapa ini mas?"tanya Dina sambil memperhatikan sekeliling


"nanti kamu akan tahu" Bimo menggandeng tangan Dina masuk ke dalam rumah


Bimo membuka pintu rumah yang tidak terkunci "selalu saja teledor" gerutu Bimo


"duduklah..." Bimo masuk ke dalam kemudian kembali keluar bersama Riri


"kenapa kamu mengajak dia Bim?!" Riri berang


"oh...jadi ini rumah kak Riri?" ucap Dina datar


"iya...!"


"Ri!!" bentak Bimo


"apa?! Kamu membelanya lagi?! Dia yang sudah mempermalukan aku di kampus Bim!"


"mempermalukan kamu?! Justru kamu sendiri yang mempermalukan diri kamu sendiri!" Bimo dengan tatapan penuh amarah


"sskarang aku tanya, siapa ayah dari bayi kamu?!" Bimo sambil menunjuk-nunjuk wajah Riri


"kamu Bim...apa kamu lupa?!" teriak Riri frustasi


"jangan bohong kamu! Aku sudah lama sekali tidak bertemu dirimu!" Bimo semakin marah

__ADS_1


"aku sudah jujur sama kamu Bim!"


"mas...kalau aku di sini hanya disuruh melihat pertengkaran kalian berdua lebih baik aku pulang saja" Dina beranjak dari duduknya


"iya...pulang saja sana!!" teriak Riri


"kapan aku melakukannya denganmu hah?! Sudah setahun lebih, kenapa kamu baru hamil sekarang?!" Bimo semakin marah


"kamu lupa Bim?! dua bulan yang lalu waktu aku ke kosmu!" ucap Riri dengan senyum kemenangan


Bimo mencoba mengingat-ingat semua yang ia lakukan beberapa bulan yang lalu.


"sudahlah mas...kalau kamu memang ayah dari bayi itu akui saja!" ucap Dina datar


"bukan...bukan aku Din...aku bersumpah itu bukan bayiku" Bimo merasa tersudut karena belum berhasil mengingat semua yang ia lakukan.


"kapan kamu ke kosku? Seingatku aku selalu berada di kos Dina, kalau tidak aku tidur di kos Romi, kadan aku tidur di kantor" Bimo mencoba mengingat-ingat


"Sewaktu kita habis rapat himpunan Bim!" Riri mencoba meyakinkan Bimo yang ingatannya tidak terlalu baik


Bimo mengingat-ingat kejadian dimana dirinya pulang dari rapat himpunan.


"jangan berkilah...aku terbangun di kamar kamu!" Riri merasa yakin kali ini Bimo tak akan bisa mengelak


Tawa Bimo menggelegar memenuhi isi ruangan "sejak kapan kamu jd bodoh?" Riri bingung kenapa Bimo menertawakannya.


"kamarku jarang aku kunci, kalaupun aku kunci, kuncinya aku tinggal di rak sepatu, jadi siapapun bisa masuk ke kamarku"


Riri bungkam, ia tak tahu jika kamar Bimo itu jarang terkunci. Ia mulai berpikir siapa yang telah menidurinya. Sejak tadi Dina hanya menyimak pembicaraan mereka, Dina semakin tak mengerti apa yang dibahas.


Dina bingung, selama ini Bimo selalu bersamanya, ketika tidak bersamanya dia tidur di kampus kadang di kantor, kantor siapa Dina bertanya-tanya dalam hatinya.


"tapi tetap saja kamu yang harus bertanggung jawab Bim! Karena kamu aku seperti ini!" teriak Riri histeris


"lebih baik kamu cari dulu siapa ayah dari bayi kamu, dan satu lagi jangan suka minum-mimum, menyusahkan!" Bimo beranjak dari duduknya


"dan satu lagi, jangan sekali-sekali ganggu Dina, atau kamu tahu akibatnya!" Bimo menarik tangan Dina


Dina hanya diam, hari ini ia benar-benar dibuat bingung. Bukan dirinya yang punya masalah namun ikut rerlibat dalam masalah apa entah Dina tidak tahu.

__ADS_1


Bimo mengajak Dina ke sebuah rumah yang terlihat besar dengan halaman yang luas. Nampak beberapa mobil dan motor terparkir di halaman. Setelah mematikan mesin mobilnya, Bimo membukakan pintu untuk Dina.


"ayo masuk...." ucap Bimo sambil mengunci pintu mobilnya


"ini rumah siapa lagi mas?" Dina mulai tidak nyaman


"ini kantor papaku, sekarang papa tinggal di sini" ucap Bimo lembut


"aku tahu kamu bingung...papa dan mama tinggal terpisah, mama masih di rumah lama" Bimo membuka pintu depan rumah. Mereka masuk ke dalam rumah, Dina menatap sekeliling semua perabot ditata seperti layaknya kantor.


"kenapa sepi?"


"mungkin sedang istirahat..." Bimo berjalan ke sebuah ruangan, Dina mengikutinya dari belakang


Bimo membuka pintu "ayo masuk...."


"eh Bim....tumben jam segini sudah kemari..." ucap seseorang yang sedang membaca kertas-kertas tanpa menatap mereka berdua


"pa...ini Dina...." ucap Bimo


Orang yang dipanggil papa oleh Bimo kemudian sejenak terdiam kemudian menatap ke arah Dina dan Bimo. "Kalian duduk dulu, papa selesaikan pekerjaan papa sebentar"


Bimo dan Dina duduk di kursi tamu yang ada dalam ruangan itu. Dina diam, pikirannya dipenuhi tanda tanya.


"ini kantor papa yang sekarang, papa dipercaya oleh bosnya untuk memimpin cabang perusahaan di kota ini" ucap Bimo lembut


Papanya Bimo mendengar ucapan anaknya yang tidak seperti biasa dia berbicara. Begitu lembut dan terdengar sedikit takut. "Dan Bimo juga salah satu karyawan om..." papanya Bimo beranjak dari meja kerjanya kemudian berjalan menghampiri Dina dan Bimo.


"bukan karyawan, aku cuma bantu-bantu di sini Din" Bimo mulai kebingungan ia berusaha menjelaskan


"iya tapi tetap om gaji..." papanya Bimo terkekeh "tapi seringnya makan gaji buta alasannya menemani pacaranya"


Dina hanya tersenyum menanggapi ucapan-ucapan papanya Bimo. Sekarang terjawab sudah kenapa Bimo sekarang bisa memberikan barang-barang yang mewah kepadanya.


Awalnya Dina merasa tak enak hati menerima pemberian Bimo, takutnya uang yang dipakai untuk memberinya barang-barang itu adalah hasil meminta pada orang tuanya.


Dina semakin merasa tidak nyaman, papanya Bimo menyebut dirinya pacar Bimo, padahal dirinya dan Bimo hanya berteman saja tidak lebih, apalagi disebut Bimo makan gaji buta karena menemani dirinya.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2