
Keesokan hari nya, matahari sudah meninggi, cahaya hangatnya sudah menyinari bumi. Tidak ada tanda-tanda dari dalam kamar Dina. Mama Vera merasa kawatir, tidak biasanya anak gadisnya itu bangun siang.
Mama Vera yang sedang memasak sarapan di dapur mematikan kompornya. Bergegas berjalan menuju ke kamar Dina. Mama Vera mengetuk pintu kamar Dina tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar. Mama Vera pun masuk ke dalam kamar, dan mendapati Dina masih bergulung dalam selimutnya.
Perlahan mama Vera berjalan mendekati tempat tidur dan menyentuh dahi Dina, terasa panas mendadak mama Vera panik dan langsung keluar dari kamar Dina.
Tujuan pertamanya adalah ke kamar papanya Dina. Mama Vera membangukan Pak Joni papanya Dina, memberitahukan kalau Dina putri sulungnya itu sakit dan meminta agar membuatkan surat ijin sakit untuk diberikan kepada gurunya Dina.
Dengan mata yang masih belum melek sempurna papa Dina berjalan keluar kamar dan menuju kamarnya Dina. Beliau mengecek keadaan Dina dan benar saja badan Dina terasa panas. Papa Dina segera mengambil selembar kertas dan menulis surat untuk wali kelasnya Dina memberitahukan kalau Dina tidak masuk sekolah karena sakit.
Kemudian Papa Dina bergegas mandi dan sarapan lalu berangkat ke kantor dan sebelum ke kantor Beliau mampir dulu ke sekolah Dina mengantarkan surat ijinnya Dina.
Mama Vera membangunkan Dina, agar bisa sarapan dan minum obatnya. Dina hanya bisa diam tanpa melawan, karena dia tahu itu kesalahannya sendiri. Dina tidak kuat hawa dingin jika terlalu lama di udara yang dingin Dina akan mudah jatuh sakit.
Karena Dina mudah sekali jatuh sakit maka dari itu orang tuanya sangat overprotektif . Tidak bisa mudah mengijinkan Dina untuk ikut kegiatan di luar apalagi sampai menginap.
Setelah sarapan dan minum obatnya Dina kembali tidur. Dina ingin tidur seharian ini berharap semoga nanti sore sudah sembuh.
Di sekolah waktu jam istirahat kedua, Gilang yang dari pagi tidak melihat Dina, bergegas ke kelasnya Dina. Sesampainya di kelas Dina Gilang tidak menemukan keberadaan orang yang dia cari. Di papan absen tertulis nama Dina keterangannya sakit.
"eh...Lang...mencari Maya? " tanya salah satu teman Dina
"eh...tidak...aku ke sini mencari Dina" ucap Gilang sambil melihat-lihat ke dalam kelas
"Dina hari ini tidak masuk, sakit Lang"
"oh...ya sudah terima kasih.." ucap Gilang kemudian berjalan kembali ke kelasnya
Sore harinya, sepulang sekolah Gilang bergegas menghampiri Dendy yang sedang mengotak-atik motornya.
"Den...!" Gilang menepuk pundak Dendy
"eh...mas...membuat aku kaget saja"
__ADS_1
"Dina sakit Den..." ucap Gilang sambil berlalu meninggalkan Dendy masuk ke dalam rumah
Dendy terkesiap langsung membersihkan tangannya, mencucinya dengan air dan sabun dan segera menyusul kakak sepupunya itu untuk memastikan apa yang dia dengar barusan.
"mas... "Dendy langsung masuk ke kamar Gilang yang tidak dikunci tanpa mengetuk terlebih dahulu
"eh...!!!" Gilang tersentak kaget baru saja akan melepas bajunya dan mengganti seragamnya dengan baju rumahan tiba-tiba Dendy masuk ke kamarnya "tidak sopan...!" bentak Gilang
Dendy hanya senyum-senyum "tadi mas Gilang bicara apa?" Dendy mencoba membujuk Gilang untuk mengulang apa yang tadi Gilang bilang tentang Dina
"Dina sakit..." ucap Gilang datar sambil memakai kaosnya
"sakit ? mas Gilang yakin?"
"ya yakin lah...ada surat ijinnya di sekolah, yang menulis surat juga papanya Dina " jawab Gilang acuh sambil berlalu keluar kamar
"eh..tunggu mas.." Dendy mengejar Gilang dan meraih bahunya untuk menghentikan langkahnya Gilang
"apa lagi Den?" ucap Gilang kesal
"ini jam berpa Den? sampai rumahnya Dina pasti sudah malem, tidak mungkin kan kita besuk orang sakit malem-malem" terang Gilang
"Ayolah mas..."bujuk Dendy
"iya...iya...tapi aku mandi dulu" Gilang meng iyakan permintaan Dendy
Gilang terpaksa mengiyakan permintaan Dendy, daripada semalaman dia tidak bisa tidur karena dibujuk terus-terusan.
Mereka berdua langsung mandi, Mama Tari sampai terheran-heran melihat anak sulungnya dan keponakannya sore-sore sudah kompak mandi cepat-cepat. Biasanya juga mereka berdua mandi malam-malam.
Setelah selesai bersiap, mereka berdua pamit kepada mama Tari dan bergegas pergi naik motornya tujuannya adalah ke rumah Dina. Dalam perjalanan kegugupan melanda Dendy.
"mas kita pulang saja ya?" ucap Dendy setengah berteriak agar didengar Gilang yang membonceng di belakangnya
"pulang Den? "Ucap Gilang setengah berteriak juga. Gilang tak habis pikir tadi Dendy memkasanya untuk mau menemani nya pergi menjenguk Dina, sudah setengah perjalanan tiba-tiba memutuskan untuk putar balik.
"tanggung Den... sudah setengah jalan"
__ADS_1
Dendy tidak menanggapi ucapan Gilang, dia hanya mengurangi laju kecepatan motornya sambil memikirkan baik-baik apa dia jadi ke rumah Dina atau tidak
Sampai di depan rumah Dina mereka tidak segera masuk. Mereka berdebat Gilang ingin masuk ke rumah Dina tapi Dendy mengurungkan niatnya. Gilang beranggapan sudah kepalang tanggung sudah sampai depan rumah Dina kenapa tidak masuk saja sekalian.
Dan Dendy 'lah yang berhasil memenangkan perdebatan tersebut. Saat hendak putar balik tidak sengaja Gilang melihat Widi keluar dari rumah Dina.
"Den, itu Widi baru pulang dari rumahnya Dina" Gilang menepuk bahu Dendy dan menunjuk ke atah rumah Dina dengan dagunya
Dendy pun menoleh ke arah yang dimaksud Gilang. Dan benar saja Dendy melihat Widi sedang menyalakan motornya di halaman rumah Dina. Melihat Widi yang sudah mau pulang dari rumah Dina, tanpa sepatah kata pun Dendy tidak menanggapi ucapan Gilang dan memilih melajukan motornya pulang.
Sepanjang perjalanan pulang tidak ada satu katapun yang terucap dari mulut Dendy. Meskipun Gilang mencoba mengajaknya berbicara tapi Dendy hanya fokus melajukan motornya agar sampai di rumah.
Sesampainya di rumah Dendy memarkirkan motornya kemudian langsung berjalan naik masul ke dalam kamarnya. Gilang hanya mengekorinya dari belakang. Dia paham pasti Dendy merasakan cemburu karena melihat ada orang lain yang sudah menjenguk pujaan hatinya terlebih dahulu.
"kenapa Den?" Gilang ikut masuk ke kamar Dendy dan duduk di tempat tiddurnya Dendy.
Dendy tidak menggubris pertanyaan Gilang, dia malah menyibukkan diri membereskan barang-barang yang berantakan di kamarnya.
"ya sudah...." ucap Gilang kembali bangkit berdiri menepuk bahu Dendy lalu keluar dari kamar Dendy. Gilang hanya ingin memberikan waktu agar Dendy bisa menenangkan hatinya. Menenangkan pikirannya juga.
Gilang paham apa yang dirasakan Dendy, karena dulu dia pernah merasakannya juga. Memang menyakitkan melihat ada orang lain yang lebih dekat dengan pujaan hati kita.
.
.
.
.
.
*Terima kasih bestie... yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel receh ini dukung othor terus ya...tolong like comment vote kirim bunga, kopi atau yang lainnya Dan pencet tombol favorit tentunya.
Terima kasih sekebon bestie
⠀
__ADS_1