Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 114 Bertanggung jawab


__ADS_3

Sebuah hubungan tidak lepas dari ujian. Kita diuji agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Setiap ujian yang kita hadapi tidak akan melebihi kemampuan kita. Begitu pula dengan Dendy dan Dina.


Kesalahpahaman, rasa cemburu yang begitu besar terkadang mengalahkan logika. Bagi Dina mungkin juga ia harus lebih bersabar lagi menghadapi Dendy yang kadang egonya mengalahkan logikanya.


Bagi Dina itulah kekurangan Dendy, yang selalu menyimpulkan semuanya sendiri, menganggap apa yang ia lihat adalah kebenaran tanpa bertanya apa yang sebenarnya pada Dina. Dan Dina memaklumi itu alasannya adalah cemburu.


Memang sulit jika sudah berhadapan dengan kata cemburu, apapun bisa membuat yang benar jadi salah yang salah jadi benar. Tapi Dina juga merasa begitu kecewa karena kepercayaan yang ia harapkan dari Dendy tidak ia dapatkan.


Ia tahu Dendy begitu menyayanginya dari rasa cemburunya yang berlebihan. Tapi Dina juga merasa bersalah karena sikap ramahnya pada semua orang meskipun ia baru kenal, membuat Dendy sangat cemburu.


Ya, dalam hal ini Dina juga menyadari bahwa ia juga salah, terkadang sikapnya seolah-olah memberikan harapan bagi cowok-cowok yang ingin mendekatinya. Hal itulah yang membuat Dendy sangat cemburu. Meskipun dengan Toni ia sudah mencoba menghindarinya tapi siapa saja yang melihat mereka pasti juga akan berpikiran mereka masih memiliki hubungan yang spesial.


Dina tahu, membiarkan Toni menemaninya di rumah sakit adalah juga kesalahannya. Dan sekarang ia menyadari jika sudah memberikan harapan lagi untuk Toni. Meskipun dalam hati kecilnya berkata "aku sedang sakit, dan aku sangat lemah, aku membutuhkan orang yang bisa membantuku, jadi wajar jika Toni membantuku dan aku membiarkannya"


Sedangkan Dendy, ia sudah pasti salah seringkali cemburu buta, sering menyimpulkan semua sendiri dan terlebih hanya karena kesepian mencari pelarian. Tapi Dendy sendiri juga belajar dari setiap kesalahannya. Dia sudah mencoba untuk memperbaiki setiap kesalahan yang ia perbuat, buktinya ia juga menghindari cewek-cewek yang selama ini ingin mendapatkan perhatiannya.


Ia menjadikan Dina prioritasnya bahkan ia juga selalu ingin terlibat dalam setiap kegiatan Dina. Meskipun kadang caranya yang salah tapi itu sudah menunjukkan kalau ia memang bersungguh-sungguh ingin memperlakukan Dina seperti ratu baginya.


Kembali lagi yang terjadi hanyalah kesalahpahaman dan rasa cemburu yang berlebihan. Semua yang berlebihan itu tidak baik, terlalu perhatian juga tidak baik seperti yang Dendy lakukan.


.


.


Dari tadi mereka hanya diam dengan pemikirannya masing-masing, sampai lamunan mereka dibuyarkan oleh kedatangan petugas dapur yang mengantarkan makanan untuk Dina.


"sayang...ayo makan dulu biar perutmu lekas membaik" ucap Dendy lembut sambil mendorong meja makan pasien.


Dina hanya mengangguk, tidak membuka suaranya. Ia masih bingung harus bersikap seperti apa terhadap Dendy. Yang ia heran kenapa sepagi itu Dendy sudah berada di rumah sakit, apakah ia tidak masuk sekolah?


Dendy membuka penutup piring yang berisi nasi tim lembut, kemudian mengambil lauk dan menyendokkan nasinya


"ayo, makan dulu" Dendy menyodorkan sendok yang terisi nasi tim dan lauknya


Dina pun membuka mulutnya dan menrima suapan dari Dendy.


"bagaimana...perut kamu? Masih sakit?" tanya Dendy sambil menyendok makanan Dina


"sudah lumayan, kemasukan nasi ini sudah tidak begitu sakit" jawab Dina


"syukurlah..." Dendy tersenyum

__ADS_1


"kamu mau lauk yang mana dulu yang mau kamu makan?" tanya Dendy


"yang mana saja Den" jawab Dina sudah lebih lembut tidak seketus kemarin


Dendy kembali menyuapkan makanan untuk Dina, Dendy senang Dina makan dengan lahap, bahkan kini tinggal setengah porsi


"kamu tidak masuk sekolah?" tanya Dina


"tidak!" jawab Dendy singkat


"kenapa? Nanti tante Tari marah lho"


"tidak akan, aku sudah minta ijin tadi" jawab Dendy sambil menyuapkan nasi ke mulut Dina


"terus sekolah kamu bagaimana?" tanya Dina dengan mulut masih mengunyah


"kamu telan dulu, baru bicara" ucap Dendy lembut "hari ini pulang pagi di sekolahku ada rapat yayasan, aku bilang ke mama tidak masuk aku mau di sini menemani kamu"


"terus mama kamu kasih ijin kamu bolos sekolah?" tanya Dina sudah mulai terlihat cemas


"awalnya tidak, tapi hari ini pelajaran jam pertama dan kedua olahraga dan jam sembilan sudah dipulangkan makanya akhirnya mama mengijinkan, dengan syarat aku tidak kemana-mana lagi selain ke sini" jawab Dendy tersenyum


"sudah...sudah habis" Dendy menunjukkan piringnya yang kosong


"lhoh...sudah habis ya? Aku kira masih banyak" Dina melihat ke arah piring


"memangnya kemarin-kemarin makanmu bagaimana?" tanya Dendy sambil meletakkan piring yang ia pegang


"tidak berselera, makan satu suap itu rasanya seperti naik dua puluh anak tangga" ucap Dina masih dengan tatapan biasa saja


"berarti karena aku suapi kamu jadi makan banyak" Dendy terkekeh


"eh...tidak begitu juga Den!" Dina salah tingkah


"iya..iya...kemarin kamu masih sakit, dan yang menyuapi bukan aku" Dendy menggoda Dina


"ya sudah seharusnya, kamu yang membuat aku masuk rumah sakit ya kamu harus bertanggung jawab" ucap Dina ketus


"iya...iya...aku akan bertanggung jawab" Dendy mengambil gelas dan diisi air minum dan memberikan kepada Dina "obat kamu yang mana? Aku tidak tahu" ucap Dendy


"oh...sepertinya belum diantar oleh perawat" ucap Dina sambil melihaat di meja sebelah brankarnya

__ADS_1


"aku tanya ke perawat dulu" Dendy berdiri dan berjalan keluar dari ruang rawat Dina


"kalau seperti ini, kamu terlihat dewasa tapi kalau sedang cemburu benar-benar seperti anak kecil" gumam Dina menatap punggung Dendy yang berjalan ke luar ruangan


Tak lama Dendy sudah masuk lagi membawa obat yang akan diminum oleh Dina.


"ayo diminum dulu obatnya" Dendy mengisi lagi gelas air minum dan memberikannya ke Dina, Dendy menyodorkan obat yang ia terima dari perawat.


"kok kaya ada yang kurang obatnya?" Dina mengamati obat yang diberikan oleh Dendy


"tadi perawatnya bilang ada obat yang dikurangi oleh doktermu" jawab Dendy


Setelah memastikan Dina meminum obatnya Dendy membereskan gelas dan peralatan makan yang dipakai oleh Dina tadi dan mendorong meja makan pasien ke dekat pintu.


Dina turun dari brankarnya dan mendorong tiang infus. Dendy yang baru selesai membereskan peralatan makanan Dina menjadi panik, takut terjadi apa-apa dengan Dina. Dendy 'pun dengan sigap menghampiri Dina


"mau kemana hemm?" tanya Dendy sambil memegangi tubuh Dina


"aku bosan tiduran terus aku ingin keluar mencari udara segar" ucap Dina


"kita ke teras saja ya, sekalian berjemur agar lebih sehat" satu tangan Dendy mendorong tiang infus Dina dan satunya lagi memegang pinggang Dina


Mereka berdua ke teras ruang rawat Dina, Dendy menarik kursi dan membantu Dina duduk di kursi dengan nyaman. Dina menghirup nafas dalam-dalam. Selama beberapa hari ia terkurung di dalam ruangan dan tidak bisa bernafas dengan lega. Apalagi udara pagi yang masih begitu segar cuaca juga masih begitu sejuk membuat badan dan pikiran Dina lebih tenang.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


.


Jangan lupa ritualnya ya bestie


Please like, vote dan komennya ya


Terima kasih sekebon bestie

__ADS_1


__ADS_2