
Keesokan harinya, matahari sudah mulai meninggi, tapi Dina dan teman-temannya belum juga bangun. Mungkin karena mereka terlalu lelah setelah tiga hari melaksanakan masa pengenalan kampus. Dan juga perkuliahan baru dimulai minggu depan.
Ketika mereka masih terlelap tidur, sayup-sayup terdengar pintu kamar Dina diketuk dari luar. Dina dengan langkah gontai berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"eh..kak Ira..." ucap Dina dengan mata setengah terpejam
"baru bangun? Itu ada yang mencari kamu" ucap kak Ira menoleh ke arah pintu kos yang terbuka lebar.
Dina 'pun juga menoleh ke arah pintu kosnya. Dan melihat Bimo yang sudah berdiri di ambang pintu dengan senyum lebarnya dan melambaikan tangan padanya.
Dina hanya menatap Bimo datar. Ia tidak mengharapkan pagi-pagi diganggu oleh siapapun. Semalam ia bersama teman-temannya sudah merencanakan akan bangun siang hari ini, dan pergi ke kampus menjelang jam makan siang.
"terima kasih kak..." ucap Dina dengan senyuman. Kemudian Ira berjalan meninggalkan kamar Dina. Dina menutup pintu kamarnya, karena teman-temannya masih belum juga bangun.
Ia berjalan menghampiri Bimo yang masih berada di ambang pintu kosnya.
"baru bangun?" tanya Bimo dengan senyuman teduhnya
"iya..." jawab Dina singkat
"pantas saja penampilan kamu masih acak-acakan, tapi malah terlihat lebih cantik" ucap Bimo tersenyum simpul
"meledek ceritanya?" Dina memutar bola matanya, jengah dengan ucapan Bimo
"ini beneran...swear..." ucap Bimo masih tersenyum kepada Dina
"ada apa sepagi ini ke sini?" tanya Dina datar
"aku mau mengajak kamu sarapan, terus ke kampus melihat jadwal kuliah kamu semester kedepan" ucap Bimo masih sambil berdiri di ambang pintu
"maaf mas...teman-temanku masih ada di dalam, mereka masih tidur semua, aku nanti ke kampus bersama mereka" jawab Dina datar
"oh...ya sudah kalau begitu, aku ke kampus dulu, jangan lupa sarapan ya..." ucap Bimo dengan senyuman teduhnya.
__ADS_1
Setelah Bimo pergi, Dina kembali ke kamarnya, teman-temannya masih juga belum bangun. Dina merebahkan lagi badannya di kasur karena sebenarnya ia masih sangat mengantuk.
.
.
Di rumah Dendy, pagi-pagi sekali ia sudah uring-uringan. Tadi pagi-pagi sekali ia sudah bangun, dan menelpon Dina, tapi kata teman kosnya Dina masih tidur, tidak bisa dibangunkan.
Dendy merasa sedih bercampur kesal karena sudah tiga hari ia tidak mendapat kabar dari Dina. Terakhir telepon hanya sebentar karena Dina yang sedang sibuk masa pengenalan kampus.
Di sekolah 'pun Dendy tidak bisa berkonsentrasi. Pikiran dia tertuju pada Dina. Ada rasa takut dalam hatinya. Takut jika Dina meninggalkannya dan memilih bersama cowok yang baru ia temui.
Pulang sekolah ia tidak langsung pulang, ia ingin ke rumah Krisna tapi ia ingat Krisna belum pulang sekolah. Akhirnya ia membelokkan motornya ke rumah Adi.
Di rumah Adi sudah ada Dodi yang sedang duduk-duduk di teras sambil menghisap rokoknya.
"tumben kesini!" ucap Adi saat melihat Dendy berjalan ke arahnya
"sepertinya sedang tidak baik-baik saja, kamu lihat wajah dan cara berjalannya terlihat muram" ucap Dodi
Pandangannya entah kemana, terlihat kosong. Melihat itu Dodi menyodorkan bungkus rokok kepada Dendy. Dendy mengambil satu batang rokok dan menyalakannya. Ia menghisapnya dan kemudian menghembuskan asapnya ke atas.
"Dod...kemarin waktu fakultasmu masa penegenalan kampus apa acaranya sampai malam?" tanya Dendy tanpa menatap ke arah Dodi
"kalau fakultasku hanya sampai jam empat Den... Memangnya ada apa?" ucap Dodi pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Dendy
"Dina sampai sekarang tidak ada kabar, tempo hari aku telepon jam sembilan malam, dia baru pulang dan bilang ia sibuk" ucap Dendy mengisap rokoknya kembali
"kalau fakultasnya Dina mungkin saja Den...ya tahu sendiri itu jurusan susah masuknya, biasanya tugas dan acaranya aneh-aneh" jawab Dodi
"iya...tapi tidak begitu juga, masak iya setiap aku telepon kosnya kalau tidak belum pulang ya belum bangun" ucap Dendy lirih
Dodi dan Adi hanya bisa saling pandang, melihat temannya yang sedang dilanda malarindu tropikangen. Walaupun yang mereka tahu, Dendy sering berulah, tapi ia benar-benar mencintai Dina.
__ADS_1
Hanya karena tidak bisa ditelepon Dendy menjadi seperti mayat hidup seperti itu. Padahal sebelum-sebelumnya Dendy yang lebih sering mengacuhkan Dina.
"giliran sekarang Dina kuliah di luar kota, baru terasa kalau butuh Dina" Adi mencibir Dendy
Dendy tidak menanggapi apa yang diucapkan oleh Adi, ia hanya menatapnya dengan tatapan sendu.
"kemarin-kemarin ditinggal selingkuh, tiba-tiba diabaikan, tiba-tiba marah-marah tidak jelas sampai Dina masuk rumah sakit" Adi masih mencibir Dendy
"hah...Dina masuk rumah sakit? Kok aku tidak tahu!" ucap Dodi
"iya...gara-gara cemburu buta Dina sampai pingsan" Adi masih saja memojokkan Dendy
"iya...aku tahu aku salah...tapi kenapa Dina yang sekarang mengabaikan aku?" ucap Dendy lesu
"baru tidak bisa menelepon, sudah begini, coba kamu berada di posisi Dina, beruntung Dina masih mau memaafkan kamu, kalau aku sudah pasti aku tinggalkan" cibir Adi
Dendy hanya diam, apa yang diucapkan Adi semua itu benar. Ia memang beruntung Dina masih mau memaafkannya dan memberikannya kesempatan lagi. Tapi ia tetap merasa tidak tenang, sebelum Dina mengangkat telepon darinya.
"Dod...aku titip Dina ya...kalau kamu ada waktu sering-sering ke kos Dina, dan lagipula kampus kamu jadi satu gedung dengannya kan, pasti sering bertemu kalau di kampus" ucap Dendy mengiba pada Dodi
"dikira aku pengasuhnya Dina, Dina itu sudah besar Den...dia bisa menjaga dirinya sendiri, ya memang aku satu gedung dengannya tapi jadwal kuliah kami belum tentu sama" terang Dodi
"kalau tidak salah Dina kosnya di depan kosnya kakakku, dan tidak jauh dari kosku, nanti aku sempatkan ke sana, tapi jangan salahkan aku ya...kalau nanti tiba-tiba Dina malah jatuh cinta kepadaku" Dodi terkekeh
"kalian ini bukannya menghibur malah semakin membuat aku pusing!" ucap Dendy bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah motornya terparkir.
Dendy pulang, ia bingung harus bagaimana menghubungi Dina. Yang dia takutkan Dina berpaling darinya. Ia tidak bisa mengawasi dan menjaga Dina. Ia tidak tahu sampai kapan akan bisa kuat berjauhan dengan Dina.
.
.
.
__ADS_1
B E R S A M B U N G