Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 67


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Dendy segera menelpon Adi. Menyuruh Adi untuk datang ke rumahnya. Kebetulan rumah Adi berdekatan dengan Nana. Tidak sampai dua puluh menit Adi sudah sampai di rumah Dendy. Dendy sudah menunggunya di teras.


"ada apa telepon nyuruh aku datang cepat-cepat?" Adi berjalan ke arah Dendy yang duduk di teras, Adi terlihat kesal sedang merebahkan tubuhnya hendak ke alam mimpi mendadak ada telepon yang menyuruhnya cepat-cepat datang.


"sini duduk dulu" ucap Dendy menepuk kursi sebelahnya


"sekarang katakan...ganggu tidur siangku saja" ucap Adi kesal


"rumahmu dekat dengan rumah Nana kan?" tanya Dendy dengan raut wajah serius


"iya memangnya kenapa? Jangan bilang kamu juga suka sama dia, terus itu Dina mau dikemanain?" ucap Adi tanpa jeda


"siapa yang suka Nana?" ucap Dendy kesal


"terus ada apa?"


"kamu bilang ke dia, jangan ganggu aku atau Dina lagi, atau dia akan malu di sekolah"


Dendy tahu kalau Nana sebenarnya bukan anak orang kaya, ibunya hanya bekerja sebagai pembantu di rumah orang kaya, tapi Nana mengaku kalau orang kaya tempat ibunya bekerja adalah orang tuanya.


Nana selalu memakai barang-barang bagus dan terlihat mahal, itu semua pemberian anak majikan ibunya yang umurnya tidak jauh beda dengan Nana. Sebenarnya Dendy tidak peduli dengan status Nana, tapi karena Nana sudah mengusik Dina mau tidak mau Dendy mengancam Nana.


"memangnya Dina kenapa Den?" tanya Adi dengan wajah polosnya.


Dendy menghela nafasnya, merasa sedih mengingat Dina yang jadi tidak bersemangat dan malas makan gara-gara disebut perebut pacar orang.


"Nana sengaja menyebarkan cerita kalau aku dan dia putus gara-gara Dina" terang Dendy


"memangnya kalian pacaran?" tanya Adi dengan wajah polosnya


"sudah tahu pacarku itu Dina pakai tanya lagi" ucap Dendy kesal dengan kepolosan temannya itu.


"oh...begitu" Adi mengangguk-anggukkan kepalanya "terus aku harus bagaimana?"


"ini anak....tadi sudah dikasih tahu malah tanya lagi " Dendy makin kesal menghadapi Adi yang kadang-kadang telat mikir


"iya...iya...cuma bilang begitu kan? Kenapa enggak kamu saja yang bilang sendiri Den?" tanya Adi yang tiba-tiba otaknya bisa bekerja dengan baik


"kalau aku bilang ke dia yang ada dia tambah ngelunjak, selama ini aku sudah menghindar dari dia di sekolah, kalau tiba-tiba muncul di depan dia bisa-bisa semua salah paham" terang Dendy


"ya enggak salah paham Den kalau kamu bicara yang sebenarnya"


"dia itu pintar memutar balikkan fakta Adiii... intinya dia itu menyebalkan " ucap Dendy yang mulai frustasi


"baik...nanti aku mampir ke rumahnya untuk menyampaikan pesanmu, itu saja kan?"

__ADS_1


"iya itu saja..." ucap Dendy datar


"kalau begitu aku pulang dulu, mau melanjutkan tidur siangku yang kamu ganggu" Adi langsung bangkit berdiri meninggalkan Dendy yang bengong menatap teman yang tiba-tiba meninggalkannya


Malam harinya, Gilang masuk ke kamarnya Dendy langsung merebahkan dirinya di kasur milik Dendy. Dendy sedang duduk di kursi meja belajarnya yang terletak di samping kasur mengerjakan tugas-tugasnya


"tadi siang Dina kenapa?" tanya Gilang sambil menutup wajahnya dengan bantal karena merasa silau dengan lampu kamar Dendy yang sangat terang


"dia dituduh merebut pacar orang mas" ucap Dendy


"memangnya siapa yang dia rebut?" tanya Gilang memiringkan badannya menghada Dendy


"aku" jawab Dendy masih sambil menulis tanpa menatap ke arah Gilang


"sok kecakepan kamu itu " ucap Gilang sambil melemparkan bantal ke arah Dendy


"aduh...dijawab jujur kenapa aku malah dilempar bantal.." gerutu Dendy sambil melemparkan kembali bantalnya


"terus apa hubungannya sama Yuni?" Gilang duduk bersila mengapit guling menghadap Dendy


"itu...yang bilang ke Dina ya Yuni itu..." Dendy memutar tubuhnya mengadap Gilang


"bukannya Yuni itu dekat sama Dina, kenapa dia sampai bilang begitu? Gilang heran dengan perkataan Dendy


"sepertinya mas Gilang yang enggak tahu, Yuni itu enggak dekat dengan Dina mas"


"begitukah mas? " Dendy terkejut "padahal Dina bilang kalau dia itu teman sebangkunya"


"memang iya, dulu waktu pembagian kelas aku melihat sendiri Yuni yang ingin duduk sebangku dengan Dina dan kamu tahu sendiri Dina itu anaknya enggak bisa nolak selalu baik sama orang" terang Gilang


"terus kenapa sekarang jadi seperti itu?" tanya Dendy heran


"ya...mana kutahu Den" Gilang mengedikkan bahunya


"memangnya kamu direbut dari siapa? Memang ada cewek yang mau sama kamu?" Gilang terkekeh meledek Dendy


"itu dari Nana teman sekolahku, aku jadi bingung sendiri padahal aku selalu menghindar dari dia, kok masih ngaku-ngaku pacarku"


"makanya jangan suka tebar pesona" Gilang tergelak


.


.


Keesokan harinya Dina masuk ke kelasnya, dia terkejut karena meja yang biasa dia tempati diduduki oleh Putra.

__ADS_1


"kamu duduk di sini Put?" tanya Dina yang masih menggendong tasnya


"iya kemarin Yuni bilang ke aku, dia mau duduk di depan sama Jaka" jawab Putra


"terus aku duduk di mana dong?" Dina bingung


"kamu duduk sama cowok terganteng di kelas ini lah..." ucap Putra sambil menaik turunkan alisnya


"memangnya siapa?" Dina melihat ke sekeliling


"ya akulah Din....siapa lagi " Putra gemas dengan Dina, sudah dikasih kode masih saja tidak mengerti


"kamu.....?" Dina mencebik dan meletakkan tasnya di kursi seperti biasa "awas jangan macam-macam ya Put"


"tenang Dina...aku sudah jinak kok, tidak menggigit " Putra tergelak


Dina pun keluar berjalam ke kelasnya Ani hanya sekedar untuk mengobrol menghilangkan kejenuhannya.


Sejak saat itu Yuni selalu menghindar dari Dina seolah-olah Dina adalah musuhnya padahal ia tidak tahu salahnya dimana. Apakah gara-gara pacaran dengan Dendy dia lantas berubah seperti itu. Padahal Dina tidak pernah merubah sikapnya kepada siapapun.


Dina tidak mau ambil pusing, biarlah Yuni yang memendam sakit hatinya sendiri, toh...bukan salah Dina. Mempunyai teman yang suka iri hati memang melelahkan.


Hari-hari berlalu, pengumuman program unggulan di kampus 'B' telah diumumkan, dan hasilnya tidak ada satupun siswa yang masuk ke dalam program tersebut. Desas-desus yang beredar ada beberapa kakak kelasnya yang sudah diterima tapi ternyata waktu registrasi ulang mereka tidak hadir.


Itu yang menyebabkan sekolah Dina mendapat sanksi tidak mendapat kuota untuk pengajuan program unggulan. Tapi anehnya kampus tersebut memberikan informasi ke sekolah Dina dan menerima semua berkas pengajuan siswa-siswa sekolah Dina.


Beban Dina bertambah, yang sebelumnya dia tidak terlalu memikirkan tes masuk perguruan tinggi negeri, akhirnya dia mau tidak mau memasukkan tes tersebut menjadi prioritasnya selain ujian akhir. Dina memang sudah lama memikirkan semua kemungkinan, termasuk jika dia juga tidak masuk di perguruan tinggi negeri, dia juga sudah menyiapkan alternatif lain yaitu masuk ke kampus swasta yang termasuk kampus unggulan juga.


.


.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


Dukung terus karya ini ya... Please like komen dan votenga


Jangan lupa bunga dan kopinya juga ditunggu

__ADS_1


Terima kasih sekebon bestie...


__ADS_2