Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 173 Kedatangan teman lama


__ADS_3

Hubungan Dina dan Dendy semakin hari semakin dekat. Dina tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Dendy karena Dendy tidak menceritakan apa yang ia alami.


Dendy mengutarakan maksudnya untuk berkuliah di kota J satu kampus dengan Dina kepada mamanya.


"bagaimana ma...aku boleh kan kuliah di universitas A?" rengek Dendy


"kalau mama sih...tidak masalah, tapi melihat kalian kalau bertemu sering lupa waktu, mama takut akan mempengaruhi kuliah kalian" ucap mama Tari lembut


"aku janji akan rajin kuliah ma...." ucap Dendy mantap


Mama Tari menghela nafasnya "kamu bicarakan dengan papa kamu saja" ucap mamanya Dendy


"mama saja yang bicara dengan papa, kalau aku yang bicara pasti ditolak" ucap Dendy lesu


"belajar menghadapi masalah kamu sendiri, kamu sudah besar, bicaralah baik-baik pada papamu, pasti akan didengar" ucap mamanya Dendy lembut


"baiklah...." Dendy meninggalkan mamanya dan masuk ke dalam kamarnya.


Mamanya Dendy tahu, dari awal Dendy ingin kuliah di kampus yang sama dengan Dina. Bukannya melarang, sebagai mama hanya kawatir kuliah mereka akan berantakan jika mereka berdekatan.


Walaupun tak bisa dipungkiri, kehadiran Dina dalam hidup Dendy membawa pengaruh yang besar. Dendy menjadi anak yang lebih baik di mata mamanya.


Dendy tak lagi membantah perintah mamanya, lebih sering berada di rumah ketika malam hari. Dendy tak lagi pulang terlambat tanpa memberi tahu mamanya.


Dendy bingung bagaimana cara menyampaikan kepada papanya tentang keinginannya. Sedangkan akhir-akhir ini Dendy merasa papanya menunjukkan sedikit rasa tidak sukanya terhadap Dina.


Entah apa yang membuat papanya tidak suka terhadap Dina, Dendy bingung selama ini Dina selalu bersikap baik terhadap keluarganya, bahkan Dina sering membantu mamanya, terkadang Dina juga mengantar mamanya pergi arisan atau berbelanja.


.


Hari-hari berlalu, satu bulan lebih setelah kejadian Dina sakit karena Dendy tak memberinya kabar. Dina jatuh sakit lagi karena ia terlalu lelah mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.


Kali ini Dina sendirian, tak ada Bimo yang menemaninya seperti biasanya. Dina memang sengaja tak memberi tahu siapa-siapa tentang sakitnya, ia ingin sendirian agar bisa istirahat tanpa terganggu kehadiran siapapun.


Dan itu berhasil, ia bisa beristirahat seharian tanpa gangguan dari siapapun, hanya teman satu kosnya yang tahu Dina sakit. Dina meminta pada teman satu kosnya agar merahasiakan kondisinya.


"Din....ada yang mencari kamu di depan, tapi aku belum pernah bertemu dengannya, bagaimana?" tanya Reni


"hah...siapa Ren?" Dina terkejut


"coba kamu lihat dari jendela"ucap Reni sambil berjalan menuju jendela kamar Dina yang terletak menghadap ke depan kos

__ADS_1


Dina mengintip dari jendelanya, dan ia terkejut. Kemudian ia bergegas keluar kamarnya dan membuka pintu kosnya.


"kamu kenapa susah dihubungi sih..." omel orang itu


"hah...?"


"sebaiknya kamu beli ponsel, biar sewaktu-waktu aku bisa menghubungi kamu" ucap orang itu


"kamu ini kenapa? Datang-datang langsung mengomel" ucap Dina kesal


"hampir setahun di sini, tapi kamu susah sekali dicari, telp kos juga jarang ada yang mengangkat" omel orang itu


Dina menghela nafasnya "iya...iya...aku akan beli ponsel, tapi minggu depan saja ya...aku belum ada uang" Din nyengir kuda


"iya...besok pulang naik bis?" tanya orang itu


"jelaslah... Aku punyanya bis " Dina terkekeh


"bareng aku saja, kamu selesai kuliah jam berapa?" tanya orang itu


"sekitar jam empat" ucap Dina


"aku jemput jam lima ya..." ucap orang itu


"makan yuk...aku lapar..." ucap orang itu


"masih sore nanti agak malam sedikit bagaimana?"


"dari kosku ke sini itu lumayan jauh...butuh tenaga ekstra...jadi lebih baik makan sekarang saja" ucap orang itu


"iya...iya....kenapa kamu sekarang cerewet sekali" ucap Dina mengerucutkan bibirnya


Dina masuk ke dalam kamarnya dan mengaambil jaket, helm serta dompetnya.


"siapa Din?" tanya Reni penasaran


"oh...itu sahabatku dari SMA" ucap Dina


"wajahnya lumayan....sayang badannya tipis kaya triplek" Reni tergelak kemudian meninggalkan kamar Dina.


Dina keluar dari kamar kosnya dan mengunci pintu kamarnya kemudian berjalan keluar dan menghampiri sahabatnya itu.

__ADS_1


"ayo...mau makan dimana?" tanya Dina


"terserah kamu saja..." ucap orang itu


"ya sudah...ayo ke depan kampus D, aku sedang ingin makan capcay di warung depan kampus D" ucap Dina sambil memakai helmnya.


"jauh Din..." protes orang itu


"katanya terserah aku" Dina mulai kesal


"iya....iya..." orang itu menyalakan mesin motornya kemudian menyuruh Dina naik ke boncengannya.


Orang itu melajukan motornya dengan kecepatan sedang, jalanan di kota J di sore hari sangat ramai cenderung macet. Setelah lima belas menit berkendara mereka sampai di warung kaki lima yang terletak di depan kampus D.


Dina memesan menu favoritnya capcay spesial warung itu 2 porsi. Kemudian Dina duduk di kursi panjang yang terletak di sudut warung itu.


"tahu warung ini dari mana? Ini jauh dari kosmu" ucap orang itu


"oh...tempo hari menemani teman kosku ke kos adiknya, ity kosnya di sebelah kampus yang rumah warna putih" ucap Dina sambil menunjuk rumah yang berada di seberang jalan


"oh...kukira kesini dengan pacarmu"orang itu terkekeh


"enggak mungkin....kamu tahu sendiri aku dan dia kan jarak jauh"


"masih dengan adiknya Gilang itu?"tanya orang itu


"masih...masih..." ucap Dina dengan mata berbinar


Ada rasa cemburu di hati orang itu, dia menyadari sudah menjadi resikonya ketika dia tak pernah berani menytakan perasaannya pada Dina.


Orang itu hanya bisa berharap, akan ada kesempatan untuknya di saat Dina tidak sedang berhubungan dengan siapapun. Selama ini ia yang palung setia menemani Dina di dalam sedihnya.


Memang sejak mereka kuliah, hubungan mereka sedikit renggang karena kesibukan masing-masing. Orang itu kuliah di universitas B, kampus yang Dina idam-idamkan.


.


.


.


kira-kira siapa ya yang ke kos Dina?

__ADS_1


Jangan lupa ritualnya ya bestie...


__ADS_2