Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 195 Menyembunyikan perasaan


__ADS_3

Mereka berdua pergi ke mall yang dekat dengan kos Dina. Tak ada rasa curiga dalam hati Dina. Dina masih menganggap perubahan sikap Dendy karena sedang bingung dan stres menghadapi ujian akhirnya.


Dina mengingat dia dulu begitu stres, dan mudah marah hanya karena hal sepele mendekati ujian akhirnya, dan ini yang ia lihat pada Dendy sekarang.


Dina harus lebih sabar dan hati-hati dalam berbicara, ia takut Dendy akan marah atau lebih parahnya lagi putus asa dan tak mau mengejar apa yang selama ini ia impikan, meskipun Dina tak tahu itu apa.


Dendy tak pernah terbuka terhadapanya mengenai apa yang ia inginkan, apa yang ia cita-citakan. Ia tidak pernah mengungkapkan apa rencanya ke depan untuk dirinya. Ia hanya menceritakan apa yang ia lakukan selama tidak bertemu Dina.


Dendy selalu menjadi pendengar setia setiap keluh kesah Dina. Mendengarkan cerita apa yang menjadi impian Dina, apa yang menjadi cita-citanya. Tapi tak ada sedikitpun cerita mengenai apa keinginannya.


Bagi yang tidak mengenal mereka, Dina terlihat egois karena hanya menjadikan Dendy tempatnya berkeluh kesah. Padahal Dendy yang memang tak ingin menceritakannya, terkadang Dina ingin bertanya tapi ia takut. Takut dianggap tidak menghormati apa yang Dendy inginkan.


Dina bukannya tidak mau mengetahui semua tentang Dendy, tapi ia ingin Dendy yang akan menceritakan semuanya tanpa ia tanya. Itu yang menjadi tekat Dina.


Dina memperlakukan semua orang seperti dirinya yang tak suka ditanya-tanya tentang masalahnya. Dan ketika orang itu mau terbuka, ia akan menjadi pendengar setia dan menjaga semua yang orang itu ceritakan.


Mereka berdua lebih tepatnya Dendy memilih tempat makan yang sedikit mewah untuk mereka makan berdua.


"kamu mau makan apa?" tanya Dendy lembut sambil membaca buku menu restoran itu


"apa saja...samakan saja denganmu" ucap Dina menarik kedua sudut bibirnya ke atas


"ayolah....kamu pesan saja apa yang kamu suka dan ingin kamu makan" Dendy menatap Dina yang terlihat tidak nyaman


"apa saja...apa yang kamu pesan aku akan memakannya" Dina mengembangkan senyumnya.


Dina tak ingin membebani Dendy jika harus membayar makanannya. Ia membaca buku menu dan harga yang tertera menurutnya terlalu mahal untuknya.


Dendy bukan Bimo yang anak orang berada dan juga ia sudah berpenghasilan sendiri. Ia hanya tak ingin dianggap sebagai cewek yang selalu memanfaatkan cowok.


"atau kamu tak suka makanan di sini?" Dendy menatap Dina dengan raut wajah sedih

__ADS_1


"Yang....ini hari ulang tahunmu, nikmati hari ini, jangam memikirkan hal yang tidak perlu kamu pikirkan" ucap Dina yang melihat perubahan raut wajah Dendy


"bukannya aku tidak suka...aku hanya ingin makan, makanan yang sama denganmu, itu saja..." Dina mencoba menjelaskan dengan hati-hati agar Dendy tak tersinggung


"baiklah...." Dendy menyerah kemudian ia mulai memesan makanan untuk mereka berdua.


"jangan sedih....senyum dong...." rayu Dina, dan akhirnya Dendy pun tersenyum menatap Dina yang tersenyum


"selama kamu kuliah di sini, apa ada masalah yang aku tidak tahu?" tanya Dendy dengan tatapan teduhnya


"hmmm...apa ya...." Dina berpura-pura berpikir "yah...mungkin hanya masalah senior yang iri dengan kecantikanku dan kepintaranku"


"hmmm....terlalu percaya diri" Dendy terkekeh


"ya memang itu kenyataannya" Dina tergelak "kalau aku enggak cantik enggak pintar mana mungkin kamu mau sama aku?" Dina mencebik


"iya...iya...pacarku yang cantik yang pintar..." Dendy tersenyum lebar. Dendy mencoba untuk tak memikirkan masalahnya, ia tak tahu sampai kapan bisa melihat Dina bisa tersenyum lebar seperti itu.


Dendy selalu tahu cara membuat Dina senang hanya dengan hal-hal sederhana dan perbuatan-perbuatan kecil itu mampu menumbuhkan rasa sayang yang begitu dalam di hatinya.


"kamu pulang jam berapa?" tanya Dina sambil mengambil gelas minumannya


"aku ingin menginap, boleh tidak?" ucap Dendy dengan senyum jahilnya


"tidak....!" jawab Dina tegas


"kenapa tidak Yang....?" rengek Dendy


"tidak baik untuk kita, lagipula memangnya kamu tidak sekolah, kamu tidak dicari papa mama kamu?" Dina mulai mengomel


"iya...iya...sayangku....cintaku...kekasihku..." Dendy akhirnya mengalah, berdebat dengan Dina pasti dirinya yang akan kalah. Apalagi untuk masalah yang berhubungan dengan prinsip, Dina pasti akan lebih tegas dari biasanya.

__ADS_1


"besok kalau kamu mendaftar perguruan tinggi negeri, aku bareng ya... " ucap Dina dengan mata berbinar sambil mengedip-ngedipkannya.


"iya....masih lama juga...." Dendy tercekat, ia tak ingin mendaftar karena dirinya sudah yakin dan pasti mendaftar di satu universitas yaitu kampus Dina.


Dendy berpikir, apapun yang terjadi ia harus kuliah di kampus Dina. Entah hubungan mereka esok masih baik-baik saja ataukah mereka telah putus, ia tetap akan kuliah di sana.


Mereka berdua telah menyelesaikan makan mereka masing-masing. Dina merasa ponselnya berbunyi, ia pun mengambil dari dalam tasnya. Ada sebuah pesan singkat masuk, Dina membukanya.


📨 Din, sepertinya tugas kita masih ada yang kurang, aku ke kosmu setengah jam lagi ya?


"ada apa sayang?" tanya Dendy yang melihat perubahan raut wajah Dina


"ini...temanku mengirim pesan...masalah tugas...kira-kira setelah ini kamu mau kemana lagi?" tanya Dina lesu


"ke kosmu saja, aku capek....ingin tidur sebentar, bolehkan?"


"tentu boleh...maaf ya...di hari ulang tahunmu kamu, aku malah sibuk dengan tugas..." ucap Dina cemberut


"iya...bisa menghabiskan waktu bersamamu di hari ulang tahunku, meskipun hanya sebentar sudah cukup bagiku, daripada aku di rumah kesepian" ucap Dendy dengan tatapan teduh


Dendy membayar makanan mereka berdua, kemudian mereka bergegas pulang ke kos Dina. Dendy tidak mau mengganggu kuliah Dina. Dalam benaknya ia ingin sedikit egois, tapi melihat Dina yang terlihat seperti kecewa ia hanya bisa mengalah.


.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2