Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 137 Roman Picisan


__ADS_3

Mendapat pertanyaan dari Bimo seperti itu, Dina yang tadi asyik berbicara dengan teman-temannya mendadak terdiam. Seketika ia tersadar, jika lagu yang akan dinyanyikan oleh kelompoknya adalah lagu pertama yang ia bisa saat dulu belajar main gitar.


Dan yang mengajarinya adalah Bimo. Apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin ia merubah apa yang sudah menjadi kesepakatan kelompoknya hanya karena masalah sepele seperti itu.


"itu kak...kita mau bernyanyi dengan diiringi band" ucap Ardi selaku ketua kelompok mereka


"oh...lagu apa yang akan kalian nyanyikan nanti?" tanya Bimo pura-pura tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh kelompok yang ia dampingi.


"lagu roman picisan kak..." salah satu teman Dina menyeletuk


"oh...kalian sudah berlatih?" tanya Bimo


"belum kak...mana sempat kita berlatih, baru juga menemukan lagunya" ucap teman Dina yang lain.


"oh..kalau kalian mau berlatih dulu, nanti aku ambilkan gitar, acara baru mulai jam lima sore nanti jadi masih ada waktu untuk berlatih" ucap Bimo


Bimo meninggalkan auditorium, dan buru-buru pulang ke kosnya untuk mengambil gitar miliknya. Gitar yang sama yang dulu dipakai Dina belajar. Bahkan ada tanda tangan Dina pada gitar tersebut.


Dengan semangat membara, Bimo membawa gitar miliknya ke kampus. Hanya dalam waktu lima belas menit ia sudah sampai di kampus. Dia berjalan tergesa-gesa menghampiri kelompoknya yang sedang berkumpul di dekat tangga.


"ini gitarnya bisa kalian pakai untuk berlatih" Bimo menyerahkan gitar yang ia ambil.


"terima kasih kak..." ucap teman Dina


"Din..itu kenapa ada tanda tangan dan namamu di gitarnya Kak Bimo?" bisik-bisik Caca


"hah...masak iya? kamu salah lihat mungkin?" kilah Dina


"bener...ada nama kamu di situ" ucap Berta


"yang punya nama Dina tidak hanya aku saja" kilah Dina sambil terkekeh


"iya...ya...benar juga.." ucap Caca sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"sudah-sudah....jangan bisik-bisik terus....ayo kita berlatih" ucap Ardi sambil menyerahkan gitar yang tadi dibawa oleh Bimo "ayo Din...kamu kan gitarisnya"


"kalau aku meminta kamu gantikan aku bagaimana Ar...?" ucap Dina memelas


"aduh Din...kamu itu bagaimana....aku kan sudah pegang bas..." jawab Ardi


"ya sudah...ayo kita berlatih..." ucap Dina sedikit tidak bersemangat


Dina dan teman-teman satu kelompoknya berlatih hanya menggunakan iringan gitar. Karena untuk peralatan yang lain sedang disiapkan oleh panitia.


Bimo melihat Dina dari jarak yang tidak jauh, ia mengagumi Dina yang terlihat semakin mahir bermain gitar. Ia bangga, berkat dirinyalah Dina bisa bermain gitar.


Bimo berjalan mendekat ke kelompok Dina. Ia ingin melihat Dina bermain gitar lebih dekat.


"kak...nanti kami apa diperbolehkan untuk berlatih dengan alat-alat yang sudah disediakan?" tanya Ardi yang melihat Bimo sudah duduk tak jauh dari Dina duduk.


"nanti kalian akan mendapat waktu selama kurang lebih lima belas menit untuk berlatih menggunakan alat-alat yang telah disiapkan oleh panitia" ucap Bimo seraya menatap Dina yang dari tadi asyik bermain gitar


"baik kak... " ucap Ardi


"nanti kalau sudah waktunya berlatih aku kasih tahu, soalnya nanti urutannya diacak tidak sesuai nomor kelompok" ucap Bimo sambil berdiri dan kemudian berjalan meninggalkan kelompok Dina dan kawan-kawan


Setelah persiapan dan berlatih, tepat pukul lima upacara penutupan dimulai. Setelah upacara penutupan, akan diadakan acara bebas yang diisi penampilan oleh masing-masing kelompok.


Ada yang bermain drama, ada yang modern dance, ada yang parodi dan juga ada yang menampilkan nyanyiannya. Tiba saatnya kelompok Dina untuk tampil.

__ADS_1


Mereka semua gugup, baru kali ini mereka tampil disaksikan begitu banyak mahasiswa dan para senior mereka. Mereka mulai menyanyikan lagu yang telah mereka pilih.


Tatap matamu bagai busur panah


Yang kau lepaskan ke jantung hatiku


Meski kau simpan cintamu masih


Tetap nafasmu wangi hiasi suasana


Saat kukecup manis bibirmu


Cintaku tak harus, miliki dirimu


Meski perih mengiris


Iris segala janji


Aku berdansa diujung gelisah


Di iringi syahdu lembut lakumu


Kau sebar benih anggun jiwamu


Namun kau tiada


Menuai buah cintaku


Yang ada hanya sekuntum rindu


Cintaku tak harus,


Meski perih mengiris


Iris segala janji


Malam-malamku bagai malam seribu bintang


Yang terbentang di angkasa bila kau disini


'Tuk sekedar menemani, 'tuk melintasi wangi


Yang s'lalu tersaji di satu sisi hati


Malam-malamku bagai malam seribu bintang


Yang terbentang di angkasa bila kau disini


'Tuk sekedar menemani, 'tuk melintasi wangi


Yang s'lalu tersaji di satu sisi hati


Malam-malamku bagai malam seribu bintang


Yang terbentang di angkasa bila kau disini


'Tuk sekedar menemani, 'tuk melintasi wangi


Yang s'lalu tersaji di satu sisi hati

__ADS_1


Cintaku tak harus, miliki dirimu


Meski perih mengiris


Iris segala janji


Cintaku tak harus, miliki dirimu


Meski perih mengiris


Iris segala janji


Sya-lala-lala-la


Sya-lala-lala-la


Sya-lala-lala-la


Sya-lala-lala-la


Sya-lala-lala-la


Sya-lala-lala-la


Sya-lala-lala-la*


(Roman Picisan ~ Dewa 19)


Bimo memperhatikan Dina tanpa berkedip. Ia mengagumi Dina, ia juga bangga dengan penampilan Dina yang menurutnya jauh lebih baik dari setahun yang lalau saat mereka masih bersama-sama.


"kasihan kamu diabaikan oleh orang yang selama ini kamu cintai..." ucap Riri sinis yang tiba-tiba berdiri di sebelah Bimo


"bukan urusan kamu, lagipula itu juga salah kamu, kenapa dulu menerima perjodohan itu" ucap Bimo kesal


Riri tidak bisa berkata-kata lagi. Dia memiliki andil dalam perubahan sikap Bimo. Dulu ia memang menyukai kakaknya Bimo. Tapi setelah mengetahui jika yang dijodohkan dengannya adalah Bimo, cowok yang lebih menarik daripada kakaknya, ia berubah, ia bertekad untuk merebut hati Bimo.


Menurut Riri Bimo itu unik, tegas, berwibawa dan pastinya tampan. Tapi karena perjodohan itulah yang membuat Bimo membencinya. Dan sikap Bimo yang dulu baik menjadi berubah.


"tapi aku tidak akan melepaskanmu begitu saja Bim..." ucap Riri


"menjauhlah dariku dan Dina, aku tidak mau berurusan denganmu dan keluaargamu lagi" ucap Bimo datar


Dengan rasa kesal Riri berjalan menjauh dari Bimo. Ia menjadi membenci Dina, dan bertekad memisahkan Bimo dari Dina.


Bimo masih dengan kekagumannya terhadap Dina. Ia benar-benar jatuh cinta lagi kepada Dina. Meskipun banyak yang mendekatinya, bahkan lebih cantik dari Dina tapi dalam hatinya hanya ada satu nama yaitu Dina.


Setelah selesai, mereka pun turun dari panggung. Dengan mata berbinar Bimo menghampiri Dina yang turun dari panggung, tapi Dina mengacuhkannya. Ia sibuk bercanda dengan teman-teman sekelompoknya.


.


.


.


B E R S A M B U N G


jangan lupa ritualnya ya bestie...


Please like, vote dan komennya ya...

__ADS_1


Terima kasih sekebon bestie


__ADS_2