
Setelah menyelesaikan makan Bimo membereskan bekas makanan mereka. Bimo sama seperti Dina, ia begitu mementingkan kebersihan dan kerapian.
"itu yang di kresek besar apa mas?" tanya Dina menunjuk ke arah tas kresek hitam
"oh...itu camilan untuk menemani menonton tv" jawab Bimo santai
"tv?" Dina mengerutkan dahinya "aku kan tidak punya tv mas..."
"tenang...sebentar, aku buang sampah dulu..." Bimo keluar dari kamar Dina. Tak lama Bimo masuk ke kamar Dina lagi membawa sebuah tv yang tidak terlalu besar kemudian meletakkan di meja kecil yang ada di dekat pintu
"mas enggak berniat pindah kos ke sini kan?" Dina terkekeh
"kalau boleh" Bimo tergelak sedangkan Dina mengerucutkan bibirnya.
Bimo menyalakan tv dan memasang antena kecil di atas tv. Kemudian ia mulai mencari saluran tv yang bisa ditonton di siang hari.
"tidurlah...agar kamu segera pulih" ucap Bimo lembut
"iya mas....sebentar lagi...aku ingin mandi" rengek Dina
"jangan dulu, kamu belum sembuh benar" ucap Bimo lembut
Dina tidak mendengarkan ucapan Bimo, ia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar kosnya. Lima belas menit kemudian Dina sudah keluar dari kamar mandi.
"kamu mandi?" tanya Bimo dengan nada sedikit meninggi, dan dijawab anggukan oleh Dina "badanku lengket mas, dari semalam kena air laut belum mandi" ucap Dina lirih sednagkan Bimo menghela nafasnya.
"istirahatlah..." ucap Bimo merapikan bantal agar Dina bisa tidur dengan nyaman. Dina merebahkan tubuhnya di kasur, dia ikut menonton tv. Lama kelamaan Dina mulai tertidur, Bimo mengusap kepala Dina dan mencium keningnya "cepat sembuh Din..."
Bimo mengecilkan suara tv dan mulai memakan cemilan yang ia bawa tadi. Bimo harusnya kuliah, tapi melihat Dina sakit ia memutuskan membolos kuliah.
Lama Bimo asyik menonton tv, terdengar suara Dina "Den....Den...." Dina mengigau matanya masih tertutup rapat. Bimo mendekati Dina, menyentuh kening Dina dan terasa panas lagi.
Bimo bergegas mengambil handuk kecil yang ia pakai mengompres Dina, membasahinya kemudian meletakkan di kening Dina. Dina mengigau lagi, memanggil nama yang sama.
Bimo menghela nafasnya kasar "saat sakitpun kamu masih memanggilnya dalam tidurmu, padahal aku yang selalu merawatmu" gumam Bimo.
Dina melewatkan jam makan siangnya, sampai pukul satu siang ia belum juga bangun. Bimo memegang dahi Dina sudah tak sepanas tadi. Ia pun keluar dari kosnya Dina, berniat membeli makanan untuk mereka makan siang.
__ADS_1
Dina mengerjapkan matanya, matanya terasa berat dan panas. Ia meraba dahinya, handuk kecil yang dipasang Bimo tadi ia lepas. Dina mengedarkan ke sekeliling, tv masih menyala, pintu kamarnya tertutup, dan Bimo tidak ada di kosnya.
Tak lama Bimo sudah kembali ke kos Dina. Membawa makanan untuknya dan Dina.
"mas dari mana?" Dina mengerutkan dahinya
"habis dari belakang kampus, beli makan untukmu" ucap Bimo sambil meletakkan belanjaannya.
Bimo mengeluarkan bungkusan makanan yang ia beli tadi "bagaimana masih panas badanmu?" Bimo menyentuh dahi Dina "masih ternyata" Bimo menghela nafas.
"kamu ada mangkok tidak?" tanya Bimo
"ada...mas cari di rak dekat pintu lemari itu" ucap Dina menunjuk dengan dagunya
Bimo mengambil dua mangkok kemudian ia mulai menuangkan bakso yang baru ia beli. Kemudian ia memberikan satu untuk Dina "makanlah, mumpung masih panas, setelah itu minum obatnya" ucap Bimo dengan nada perintah tak ingin dibantah.
Dina makan dalam diam, ia menurut, ia juga ingin segera sembuh agar Bimo segera pergi dari kosnya. Terdengar suara bel kosnya berbunyi, kemudian terdengar suara pintu kamarnya diketuk.
Dina beranjak dari duduknya, dan berjalan ke depan kosnya. Tenryata Dodi sudah menunggunya, berdiri di seberang kosnya Dina.
"wajah kamu pucat, kamu sakit?" tanya Dodi
"hanya demam" Dina memaksakan senyumnya "ada apa mencariku?"
"ah.....iya...ada titipan dari Dendy" Dodi mengambil sebuah kotak dari dalam tasnya "nanti sore atau malam ia akan menelponmu"
Dina menghela nafasnya "kenapa dari kemarin ia menitipkan ini semua? Kenapa tidak menemuiku?!" Dina mengembalikan kotak yang diberikan oleh Dodi
"Dendy sakit Din....dia kemarin menelponku menitipkan ini" ucap Dodi
"sakit? Sakit apa? " Dina panik
"perutnya tapi ia tidak cerita padaku, aku pulang ya..." ucap Dodi menyerahkan kotak yang tadi diberikan oleh Dodi.
Dina masuk ke dalam kamar kosnya dengan langkah gontai. Ia begitu merasa bersalah, berpikir yang tidak-tidak tentang Dendy. Tatapannya kosong, dia meletakkan kotak yang dititipkan oleh Dendy.
Bimo menyadari perubahan sikap Dina, ia sangat ingin bertanya pada Dina apa yang terjadi padanya.
__ADS_1
"habiskan dulu makanmu, terus minum obatmu" ucap Bimo lembut
"aku sudah tak berselera mas..." Dina mengambil obatnya dan meminumnya
Bimo hanya menghela nafasnya kasar "ada apa?" tanya Bimo datar
"tidak ada apa-apa, mas kalau mau pulang tidak apa-apa, aku sudah jauh lebih baik" Dina memaksakan senyumnya.
Bimo menghela nafasnya, percuma ia bertanya pasti akan ada penolakan dari Dina. Ia memilih mengalah, dan mengemasi barang-batang yang ia bawa.
"benar? Tak apa jika aku tinggal?" tanya Bimo memastikan
"iya tak apa mas... Aku bisa sendiri" Dina menarik kedua sudut bibirnya
"baiklah...tvku biar di sini dulu, nanti malam aku ke sini lagi, aku mau ke kampus dulu" ucap Bimo memaksakan senyumnya.
Bimo meninggalkan kos Dina dengan perasaan terpaksa. Walaupun ingin selelau berada di samping Dina tapi ia tak mungkin memaksakan keinginannya.
Setelah kepergian Bimo, Dina membuka kotak yang tadi diberikan oleh Dodi. Ada sepucuk surat di dalam kotak itu. Dina membuka surat itu dan membacanya perlahan.
Dalam surat itu, Dendy mengatakan ia meminta maaf kepada Dina karena tidak bisa merayakan valentine bersamanya. Dendy juga menjelaskan jika ia sebenarnya baru saja pulang setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit.
Dina menitikkan air mata membaca surat itu, ia merasa bersalah karena telah salah paham terhadap Dendy. Dan di dalam.surat itu Dendy juga menulis hadiah valentine untuk Dina, sebuah cincin sederhana. Cincin itu sepasang, dan yang satu sudah dipakai oleh Dendy.
Dan pasangannya dikirim melalui Dodi. Dina tersenyum kemudian melihat ke arah kotak tadi. Terlihat sebuah cincin, meskipun sederhana itu sangat berarti buat mereka berdua.
Dina memakainya dan menatap cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya dengan perasaan bahagia. Dina merasa rasa sakitnya hilang begitu saja, ia seolah-olah mendapat kekuatan baru.
Mendapat semangat baru dan ia semakin jatuh cinta pada Dendy. Sederhana tapi berarti, itulah yang Dina selalu inginkan.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1