Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 178 Berpikir


__ADS_3

Dina memeluk erat Dendy dari belakang, semakin hari ia semakin mencintai Dendy. Ia semakin takut kehilangan Dendy. Dina tak sabar mereka bisa berkuliah di kampus yang sama.


Dina tak sabar menunggu hari-hari dimana ia bisa bertemu Dendy setiap hari. Bisa berangkat atau pulang kuliah bersama-sama. Tak ada lagi hubungan jarak jauh, tak ada lagi telepon tengah malam jika mereka saling rindu.


Dalam hatinya, Dendy merasa bersalah, karena ia sudah menutupi permasalahannya saat ini. Ia takut menghancurkan impian mereka berdua terutama impian Dina.


Entah sampai kapan ia kuat untuk menutupi semuanya dari Dina. Kenapa semua terjadi di saat mereka berdua semakin dekat dan semakin yakin satu sama lain.


Perjalan yang begitu lama, akhirnya mereka tiba di sebuah warung bakso yang terletak di tepi sawah. Warung sederhana namun sangat ramai pengunjung.


Karena sangat ramai, mereka berdua terpaksa mengantri untuk duduk. Lama menunggu akhirnya ada tempat duduk. Dendy dan Dina duduk di kursi panjang menghadap ke adah jendela.


"kamu nanti balik ke kos jam berapa?" tanya Dendy


"sekitar jam empat jam lima gitu..." jawab Dina


"aku antar seperti biasa?" tanya Dendy


"tidak usah...aku balik bareng Widi"


"oh...sudah ada janji rupanya" ucap Dendy dengan raut kecewa


"tuh....kan marah....masih saja marah begitu" rengek Dina


"siapa yang marah? Hanya perasaanmu saja" Dendy mencebik


"satu tahun lebih kita berpacaran, kenapa masih saja tidak percaya aku" Dina mengerucutkan bibirnya


"aku tidak marah...hanya cemburu" ucap Dendy lirih


Dina menghela nafasnya "cemburu boleh tapi jangan terlalu" ucap Dina lembut kemudian ia menggenggam tangan Dendy


Makanan yang mereka pesan sudah datang, Dendy dan Dina mulai makan. Dendy diam tak seperti biasanya, biasanya ia akan protes ketika Dina menuangkan sambal agak banyak, tapi kali ini ia membiarkan Dina melakukan apa yang ia inginkan.


"sebenarnya ada apa?" tanya Din lembut


"ada apa? Maksudmu?" Dendy mencoba bersikap biasa saja


"kamu hari ini lebih banyak diam, padahal kemarin baik-baik saja" ucap Dina lembut


"aku hanya capek, akhir-akhir ini banyak ulangan, latihan soal yang membuat aku bosan dan lelah" kilah Dendy


"sabar...meski sulit tapi harus dihadapi" Dina menarik kedua sudut bibirnya ke atas.

__ADS_1


Dendy pun ikut tersenyum, bersama dengan Dina membuat perasaannya sedikit tenang. Dina selalu tulus terhadapnya, ia tak tega menyakiti Dina yang sudah baik terhadapnya.


Dina yang mau menerima dirinya apa adanya, yang selalu memaafkan kesalahannya dengan lapang dada. Tak mungkin Dendy bisa memutuskan hubungan mereka berdua begitu saja tanpa ada sebab yang jelas.


Di satu sisi papanya, orang tua yang telah membesarkannya, di sisi satunya cewek yang benar-benar ia sayangi. Ia begitu dilema, tak bisa memilih salah satu dari mereka.


Setelah makanan mereka habis, Dendy mengajak Dina untuk pulang karena hari sudah siang dan Dina sore harus kembali ke kota J.


"aku tidak sabar menunggu bulan agustus" ucap Dina bersemangàt


"memangnya ada apa di bulan agustus?" Dendy mengerutkan keningnya


"kamu masuk kuliah, dan kita satu kampus" ucap Dina dengan senyum mengembang


"iya " jawab Dendy singkat sambil memaksakan senyumnya. Dendy melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Setengah jam kemudian mereka telah sampai di rumah Dina.


"aku sebenarnya ingin mengantarmu balik ke kos" ucap Dendy dengan raut sedih


"iya...besok kalau kamu libur ya...aku juga ingin diantar olehmu" Dina menarik kedua sudut bibirnya ke atas.


"nanti hati-hati ya....enggak usah mampir-mampir lho ya..." ucap Dendy dengan nada cemburu


"iya sayang....kamu tenang saja"


Dendy kembali datang ke rumah Rendra, hanya di sanalah ia merasa bebas. Rendra yang kedua orang tuanya di luar kota rumahnya sering dijadikan tempat nongkrong teman-temannya. Tapi tidak semua orang bisa, karena Rendra orangnya juga pemilih.


Rendra suka pilih-pilih teman, hanya teman-teman yang tidak suka keributan yang ia jadikan teman. Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam rumah Rendra dan disambut oleh pembantunya Rendra.


"Rendra dimana bi?" tanya Dendy


"biasa mas...di belakang di pinggir kolam renang" ucap pembantu Rendra


Dendy berjalan ke kolam renang milik Rendra kemudian ia duduk di kursi yang berada di pinggir kolam.


"tumben siang-siang kesini? Biasanya pacaran" ucap Rendra kemudian ia berang ke tepi


"aku baru saja mengantarnya pulang" ucap Dendy datar


"ada apa sebenarnya?" Rendra naik ke atas kolam renang


"aku bingung Ndra....mana yang harus kupilih, kalau kamu berada di posisiku siapa yang akan kamu pilih?" tanya Dendy dengan menatap lurus ke depan


"kalau aku ya jelas aku pilih pacarku, kamu lihat sendiri kan...orang tuaku jarang ada di rumah" ucap Rendra sambil mengeringkan tubuhnya

__ADS_1


"aku kira semua akan baik-baik saja...nyatanya..."


"aku tidak tahu pasti masalahmu seperti apa, tapi kamu pikirkan lagi baik-baik jangan sampai ada penyesalan nantinya"


"apapun pilihanku pasti akan ada penyesalan Ndra....Dina masa depanku, papaku orang yang telah merawatku semua punya peran masing-masing di hidupku" ucap Dendy sendu


"masa depan....masa depan....seperti besok mau menikah saja kamu ini" cibir Rendra


"ah...benar juga ya... Apa sebaiknya aku menikah dengan Dina secepatnya saja ya...."


"kamu sehat kan Den?" Rendra menyentuh kening Dendy kemudian menyentuh keningnga juga "tidak panas..."


"kamu ini....aku sedang serius dianggap bercanda...." Dendy mencebik


"kamu sendiri mau apa coba...bicara mau menikah dengan Dina secepatnya....memangnya Dina mau? Orang tua kalian mengijinkan?" Rendra duduk di sebelah Dendy


Dendy memikirkan ucapan Rendra baru saja. Sempat terpikirkan untuk menikah dengan Dina secepatnya tapi ia juga sadar ia masih anak SMA. Dan belum lagi Dina yang masih ingin mengejar cita-citanya.


Dendy ingat dengan cita-cita Dina yang ingin mengulang lagi tes masuk perguruan tinggi tahun ini karena masih ingin kuliah di kedokteran. Dendy jadi memiliki ide untuk membohongi papanya.


Dendy akan mengatakan jika Dina akan pindah kuliah tahun ini karena ingin berkuliah di kedokteran seperti cita-citanya dulu. Dengan begitu ia tidak akan dipaksa lagi untuk memutuskan Dina.


Tapi ada keraguan dalam hati Dendy, kalau Dina diterima di kedokteran lantas buat apa ia kuliah di kampus yang sama dengan Dina. Dendy berpikir lagi mencari cara agar ia tetap bisa berpacaran dengan Dina.


"kenapa raut wajahmu aneh begitu?" Rendra mengerutkan keningnya


"hah...? Aneh bagaimana?" tanya Dendy


"sebentar-sebentar senyum, sebentar-sebentar cemberut, aku jadi takut..." Rendya bergidik


.


.


.


B e r s a m b u n g


Dukung terus karya ini ya bestie....


Jangan lupa mampir di novel 'JADIKAN AKU PACARMU'


Terima kasih sekebon bestie..

__ADS_1


__ADS_2