Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 216 Akhir cerita


__ADS_3

"beberapa kali aku melewati kosmu, aku melihat motornya dia terparkir di tempatmu, dia kos di situ?" Dina menatap Dodi, Dodi hanya menggelengkan kepalanya masih sambil menikmati sebatang rokoknya yang tinggal setengah


"lantas sekarang apa yang kamu inginkan dari dia Din?" Dodi menatap Dina


"aku lelah Dod...aku hanya ingin kejelasan, kalau memang dia ingin kami putus tolong putuskan aku, tapi kalau ia ingin mempertahankan hubungan ini datanglah, aku akan melupakan semua yang telah ia perbuat padaku" Dina menghapus air matanya, dan berusaha untuk tersenyum


"aku lelah Dod....berbulan-bulan tanpa kepastian, tolong katakan padanya karena aku sangat sulit menghubungi dia" Dina masuk ke kosnya meninggalkan Dodi, Dina tak sanggup lagi menahan kesedihannya


Dodi pun meninggalkan kos Dina, ia berjalan menuju kosnya yang hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari kos Dina. Dalam benaknya ia merasa kasihan terhadap Dina tapi ia juga tak ingin ikut campur dalam masalah Dina dan Dendy.


Saat ia masuk ke kosnya, terdengar suara motor memasuki halaman kosnya, ia pun menoleh dan melihat Dendy datang ke kosnya.


"tumben baru pulang" ucap Dendy


"aku baru saja dari kos Dina" jawab Dodi sambil membuka pintu kamarnya


"ada apa kamu ke sana?" Dendy mengikuti Dina masuk ke dalam kamar Dodi


"sehari bersama Dina" Dodi terkekeh


"maksudmu?"


"hari ini aku bertemu Dina di perpustakaan, ia terlihat lebih kurus sekarang Den...dan enggak seceria dulu" Dodi menyalakan sebatang rokok kemudian menghisapnya


Dendy menghela nafasnya "aku tahu"


"aku tadi menemaninya jalan kaki pulang ke kosnya, ia terlihat menyedihkan" cibir Dodi


"biarkan saja" ucap Dendy datar


Dodi menatap heran pada Dendy, ia tak habis pikir, beberapa bulan yang lalu Dendy tampak kacau tapi hari ini seperti tak pernah memiliki rasa apapun pada Dina.


"sebenarnya kamu masih mencintai Dina atau tidak?"


"memangnya ada apa?" Dendy tak berani menatap Dodi


"setelah aku dari tempat Vina, aku kembali ke kos Dina, ia menceritakan semuanya, baru kali ini Dina menangis di depanku dan terlihat sangat terpuruk, ia hanya meminta kejelasan hubungan kalian" ucap Dodi kemudian menghisap rokoknya kembali


"kejelasan?" Dendy menatap penuh tanda tanya pada Dodi


"iya...Dina hanya ingin jika memang kamu ingin putus, putuskan dia, tapi kalau memang ingin mempertahankan hubungan kalian temui dia, Dina akan memaafkan dan melupakan semua perlakuanmu beberapa bulan ini" ucap Dodi sambil


"Dina ngomong begitu?" Dendy tak percaya dengan kata-kata Dodi yang ia dengar baru saja. Ia dilema, di satu sisi ia tak ingin putus dari Dina, di sisi lain ia tak mungkin menentang orang tuanya.


"aku harus bagaimana Dod?" tatapan Dendy menerawang ke depan


"jangan kamu gantung status Dina, aku tidak bisa memberikan saran apapun padamu"


"aku tak berani menatap Dina, Dod...aku merasa bersalah padanya"


Dendy mengambil ponselnya, kemudian ia mencari-cari nomor telepon kos Dina. Lama ia menatap nomor telepon kos Dina, akhirnya ia menekan tombol hijau.


^^^☎️ halo, sore...^^^


πŸ“² halo....Dina ada?

__ADS_1


^^^☎️ sebentar^^^


Sayup-sayup terdengar suara nama Dina dipanggil. Dendy menunggu dengan perasaan tak menentu, dadanya berdegup kencang


^^^☎️halo^^^


πŸ“² halo Din...


^^^☎️ eh...iya...apa Yang...?^^^


πŸ“² aku dengar, kamu butuh kejelasan hubungan kita


^^^☎️ iya...^^^


πŸ“² sepertinya lebih baik kita putus saja


Hening...tak ada suara dari Dina, samar-samar Dendy mendengar isak tangis Dina, ia tak tega, tapi harus ia lakukan


^^^☎️ alasannya apa Den?^^^


πŸ“² orang tuaku tak menyetujui hubungan kita


^^^☎️ oh...baiklah....terima kasih^^^


Dina menutup teleponnya, Dendy hanya bisa menghela nafas, inilah kenapa ia memilih menelepon daripada berhadapan langsung, ia tak sanggup melihat Dina menangis karena dirinya.


"sudah....begitu saja...?" Dodi mencibir Dendy


"sudah..." Dendy berjalan meninggalkan kos Dodi


.


"ada apa Din?!" Tere panik


"Dendy mutusin aku kak...." Dina masih menangis


"hah....serius?" Tere terkejut


"iya kak..."


"tapi kenapa?"


"katanya orang tuanya tidak setuju" Dina terisak


"aneh....bukannya selama ini mamanya dekat dengan kamu?"


"iya kak...tapi sebelum Dendy menghilang, mamanya tak seramah biasanya kak"


"yang sabar ya Din..."


"iya kak....seenggaknya sekarang semuanya jelas, tak ada lagi yang harus aku tunggu atau harapkan..." Dina menghapus air matanya


Dina berdiri meninggalkan kamar Tere, ia pun masuk ke kamarnya. Dina merenungi semua yang telah terjadi. Semua rencana, semua impiannya bersama Dendy pupus sudah.


"aku salah apa Den? apa memang orang tuamu tidak setuju? Atau itu hanya alasanmu saja?" Dina terisak di kamarnya diiringi lagu yang diputar di radio

__ADS_1


Sandiwarakah selama ini?


Setelah sekian lama kita t'lah bersama


Inikah akhir cerita cinta


Yang s'lalu aku banggakan di depan mereka?


Entah di mana kusembunyikan rasa malu


Kini harus aku lewati


Sepi hariku tanpa dirimu lagi


Biarkan kini ku berdiri


Melawan waktuku 'tuk melupakanmu


Walau pedih hati namun aku bertahan


Entah di mana kusembunyikan rasa malu


Kini harus aku lewati


Sepi hariku tanpa dirimu lagi


Biarkan kini ku berdiri


Melawan waktu


Kini harus aku lewati


(Sepi hariku tanpa dirimu)


Tanpa dirimu


(Biarkan kini ku berdiri melawan waktu)


'Tuk lupakanmu


('Tuk lupakanmu)


Walau pedih hati namun aku bertahan


(Glenn Fredly ~ Akhir cerita cinta)


"kenapa lagu ini pas sekali..." air mata Dina semakin tak terbendung


"aku tak tahu harus bagaimana menjalani hidupku tanpamu Den...aku benar-benar mencintaimu....aku tak sanggup sendiri tanpamu Den..." Dina terus-terusan terisak hingga ia tertidur.


Dina terlalu lelah, seharian ia banyak menangis merenungi semuanya. Ia sampai melupakan makannya. Ia tak peduli lagi dengan dirinya sendiri.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2