Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 48


__ADS_3

*Terima kasih bestie... yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel receh ini dukung othor terus ya...tolong like comment vote kirim bunga, kopi atau yang lainnya Dan pencet tombol favorit tentunya.


Terima kasih sekebon bestie


Lanjuttt....


................


Sepanjang senam pemanasan Toni sering mencuri-curi pandang ke Dina. Dina bukannya tidak tahu, tapi dia hanya tidak ingin terlalu memberi harapan untuk Toni. Hatinya masih belum yakin apakah Toni sudah berubah atau belum. Biarkanlah Toni yang berusaha meyakinkannya pikirnya.


Guru olah raga menyuruh siswa laki-laki kedua kelas untuk bertanding basket. Toni ditunjuk teman-temannya untuk ikut team basket kelasnya karena dia termasuk siswa yang pandai dalam olah raga basket dan sepakbola.


Sebenarnya Toni enggan ikut bertanding karena dia ingin berduaan dengan Dina, kapan lagi ada kesempatan mereka bisa menonton pertandingan favorit mereka berdua meskipun hanya pertandingan antar kelas. Tapi karena guru olah raga sudah memerintahkannya mau tidak mau dia ikut bermain.


"Din...aku main dulu ya..." ucap Toni mengusap puncak kepala Dina


"hmm...." ucap Dina


"Dina jangan jadi penghianat ya...dukung kelas IPS" ucap salah satu teman sekelasnya dengan nada meledek


Dina menahan emosinya, entah mengapa teman sekelasnya harus berucap seperti itu.


"Din..di sini saja...biar ramai...biar Toni makin semangat" ucap teman sekelas Toni


Dina hanya menyunggingkan senyumnya, dia tidak beranjak dari tempat duduknya. Teman-teman sekelas Toni malah bisa berbicara lebih sopan daripada teman-teman sekelasnya yang notabene kelas IPA.


Pertandingan dimulai, semua siswa dari masing-masing kelas bersorak sorai memberi semangat kepada tim kelas mereka masing-masing. Dina hanya diam saja tidak mengikuti apa yang teman-temannya lakukan. Dina enggan mendukung kelasnya karena di kelasnya Dina merasa tidak ada yang terlalu peduli padanya. Dina juga tidak mendukung kelas Toni karena tidak ingin Toni terlalu menaruh harapan kepadanya.


Tanpa Dina dukung pun kelas Toni sudah pasti menang karena permainan kelas Toni lebih jago daripada kelasnya. Dina menatap Toni yang sedang bermain basket, sesekali Toni memandang Dina dengan senyum yang mengembang. Bagi Dina, Toni adalah cowok idamannya berparas lumayan, pandai bermain musik pandai bermain basket, cowok pintar, kekurangan Toni adalah lebih sering mengutamakan teman-temannya daripada dirinya.


Dina beranjak ke kantin dia membeli sebotol air mineral karena dia merasa haus, selain itu juga untuk menghindari teman-temannya yang masih mencibirnya. Setelah selesai dia kembali ke tempat duduk semula. Dia meminum air mineralnya bertepatan waktu istirahat perandingan.


Toni menghampiri Dina dan meraih botol air mineral yang telah Dina minum.


"itu kan...minumanku... sudah a..ku minum pula..." ucap Dina terbata melihat Toni minum dari botol bekas dia minum

__ADS_1


"terima kasih princess kamu tahu saja aku haus...aku main lagi ya.. " ucap Toni memberikan botol air mineral yang isinya tinggal sedikit


"hah...." Dina melongo mendengar ucapan Toni


Pertandingan antar kelas telah selesai dan dimenangkan oleh kelasnya Toni. Semua siswa kembali ke kelasnya masing-masing Dina bergegas kembali ke kelasnya untuk mengambil baju seragamnya dan pergi ke toilet perempuan untuk mengganti bajunya. Kebetulan toilet perempuan dekat dengan kelasnya penuh, Dina pindah ke toilet dekat kelasnya Toni yang memang lebih banyak jumlahnya.


Setelah selesai Dina keluar toilet tidak sengaja dia mendangar percakapan di toilet laki-laki dan dia mengenal suara salah satu dari cowok-cowok itu.


"belum...aku belum balikan sama Dina" ucap Toni


"ayolah Ton...kalau kamu bisa kembali sama Dina aku akan traktir kamu seminggu di warung 'A' " ucap salah satu teman Toni


"iya bener Ton....kamu juga bisa pakai motorku yang baru selama sebulan, bagaimana?" ucap teman yang lain


"tapi aku..." ucapan Toni menggantung di udara mendengar suara dari arah luar toilet


"Dina dipanggil Pak Har..." ucap salah seorang siswa


"ah...iya...iya.."ucap Dina bergegas meninggalkan toilet perempuan


Dina kembali ke kelasnya dan mengikuti pelajaran berikutnya. Pikirannya tidak tenang, masih teringat ucapan teman-teman Toni tadi.


"apakah aku jadi bahan taruhan?" batinnya


Dina kembali fokus ke pelajarannya. Saat istirahat Dina memilih untuk ke kantin yang terletak di dekat UKS untuk mengindari Toni. Sebab Toni tidak akan mungkin mencarinya di situ.


Bel jam pulang sekolah telah berbunyi, Dina bergegas keluar dari kelasnya. Sewaktu Dina keluar kelas dia melihat Toni berlari ke arah kelasnya. Dina buru-buru berlari dan bersembunyi di dalam pos satpam untuk menghindari Toni.


"mbak Dina kenapa di sini?" ucap pak satpam


"ssstt...kalau ada yang cari saya bapak bilang belum melihat saya, begitu ya pak" ucap Dina duduk menunduk di pojokan pos satpam


"mbak Dina sudah besar 'kok main petak umpet" ucap pak satpam beranjak berdiri di depan pintu pos nya mengamati para siswa yang keluar masuk gerbang.


"bapak melihat Dina tidak?" tanya Toni ke pak satpam

__ADS_1


"mbak Dina... itu motornya masih ada, berarti masih di dalam mas..." ucap pak satpam


"baiklah..terima kasih pak" ucap Toni kembali ke dalam gedung sekolah mencari Dina


"Toni sudah pergi pak?" tanya Dina


"sudah mbak, mas Toni jalan ke dalam " jawab pak satpam menunjuk ke arah Toni berjalan.


"terima kasih pak" ucap Dina keluar dari pos satpam


"sama-sama mbak, besok-besok jangan main petak umpet lagi, seperti anak kecil saja" ucap pak satpam terkekeh, Dina hanya mengacungkan dua jempol tangannya dan menarik kedua sudut bibirnya ke atas.


Dina berjalan melewati gerbang sekolahnya menuju ke arah motornya yang terparkir untuk istitahat sebentar di rumah budenya yang tak jauh dari sekolahnya. Ketika dia berjalan melewati gerbang Dendy memanggilnya. Seketika Dina baru teringat kalau dia ada janji dengan Dendy.


"iya Den..." ucap Dina


"bisa Din?" tanya Dendy


"oh...bisa...bisa... " ucap Dina "naik motor siapa Den?"


"motorku saja, aku sudah pernah janji bonceng kamu naik motorku" ucap Dendy sumringah


"iya...sebentar aku titip motor ke pak satpam dulu" ucap Dina berjalan ke arah motornya.


Dina memindahkan motornya ke sebelah pos satpam, dan menitipkannya kepada pak satpam. Setelah menitipkan ke pak satpam Dina pun keluar gerbang dan naik ke boncengan Dendy. Dendy melajukan motornya pelan-pelan menikmati waktunya bersama Dina yang mungkin hanya satu jam.


.


.


.


.


.

__ADS_1


B E R S A M B U N G


__ADS_2