
Dendy benar-benar ketakutan, wajah Dina pucat sekali, bahkan lebih pucat daripada tempo hari. Apalagi mereka jauh dari mana-mana. Dendy takut terjadi hal yang buruk terhadap Dina, ia takut kehilangan dina tapi egonya masih menuduh Dina yang tidak-tidak.
"antar aku pulang!" ucap Dina dengan penekanan
"kamu tidak apa-apa?" tanya Dendy dengan wajah panik, tapi Dina tidak menjawabnya.
Dina berusaha berdiri dengan menahan rasa sakit di perutnya. Rasa sakitnya sudah sedikit berkurang, ia bisa berdiri walau harus berpegangan pada tiang gubug.
"kamu mau kemana?" tanya Dendy semakin panik
Dina tak menjawab ia berusaha melangkahkan kakinya, Dendy dengan sigap meraih tangan Dina dan memapahnya.
"ayo aku antar pulang" ucap Dendy sambil memapah Dina
Dendy mengambil helm milik Dina dan memakaikannya di kepala Dina. Kemudian ia naik dan menyalakan mesin motornya. Masih memegang tangan Dina ia membantu Dina naik ke boncengannya.
Kemudian ia menarik kedua tangan Dina dan melingkarkannya di pinggangnya. Dina yang sudah tak punya tenaga lagi hanya diam dan pasrah. Sebenarnya dia enggan, tapi karena perutnya begitu sakit akhirnya ia memeluk Dendy dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggung Dendy.
Meskipun rasa sakitnya sudah berkurang, tapi Dina menjadi lemas dan kepalanya pusing. Ia hanya bisa berdoa semoga ia sampai di rumah dengan selamat. Dendy mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, sesekali dia mengusap-usap tangan Dina yang melingkar di pinggangnya.
Dendy juga ikut merasakan sakit, karena sesekali Dina meremas pinggangnya. Ia berpikir mungkin Dina benar-benar kesakitan. Satu setengah jam kemudian mereka sampai di rumah Dina.
Tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut Dina ia turun dari boncengan Dendy dan berjalan meninggalkan Dendy. Dina masuk ke dalam rumahnya. Dendy hanya menghela nafas dan memutar balik motornya meninggalkan rumah Dina.
Mama Vera yang melihat Dina berjalan dengan langkah tertatih menghampiri Dina.
"kenapa Din?" mama Vera mendadak kawatir karena melihat wajah Dina begitu pucat "badanmu dingin sekali Din!" mama Vera meraba dahi Dina.
"perutku sakit sekali ma, sudah minum obatnya tapi tetap sakit" ucap Dina merintih
"tunggu papamu pulang, kita nanti ke rumah sakit, sekarang kamu istirahat dulu" ucap mama Vera dan Dina hanya mengangguk
"kamu sudah makan belum?" tanya mama Vera dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Dina.
Mama Vera bergegas ke dapur untuk membuatkan bubur untuk Dina. Tidak lama kemudian mama Vera sudah selesai memasak bubur untuk Dina. Mama Vera membawa semangkuk bubur ke kamar Dina kemudian ia menyuapi Dina dengan telaten.
__ADS_1
Tak lama kemudian papanya Dina sudah sampai di rumah, melihat mamanya Dina menyuapi Dina, Pak Joni masuk ke kamar Dina. Mamanya Dina menceritakan apa yang terjadi dengan Dina. Tanpa berganti seragam papanya Dina mengantar Dina ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit pak Joni membawa Dina ke UGD. Dina sedang diperiksa oleh dokter, dan mengatakan kalau Dina sementara harus dirawat di rumah sakit. Dan meminta papanya Dina untuk mengurus segala administrasi agar Dina bisa segera dipindahkan ke ruang rawat inap.
Setelah semua administrasi selesai Dina dipindahkan ke ruang rawat inap. Pak Joni mengatakan kepada Dina untuk pulang terlebih dahulu untuk mengambil barang-barang Dina.
Setelah satu setengah jam, papanya Dina kembali ke rumah sakit bersama mamanya dan adik-adiknya Dina. Mereka merasa sedih Dina harus dirawat di rumah sakit karena ada masalah di lambungnya.
"papa mama pulang saja, kasihan Alan dan Nino" ucap Dina
"kamu sama siapa di rumah sakit, kamu itu sedang sakit Dina" ucap Mama Vera
"terserah mama papa saja, sebenarnya Dina tidak apa-apa di sini sendirian, kan ada perawat" ucap Dina dengam senyum yang dipaksakan
"malam ini papa yang akan menjaga kamu" ucap papanya Dina tegas
Mama dan adik-adik Dina pulang meninggalkan rumah sakit dengan menaiki motor, mereka tadi ke rumah sakit menaiki motor sendiri-sendiri.
Pagi-pagi sekali perawat masuk ke ruang rawat Dina untuk memeriksa kondisi Dina. Setelah selesai memeriksa infus dan tekanan darah Dina perawat itu keluar dari ruang rawat Dina.
"iya pa, Dina bisa sendiri, tidak perlu kawatir" ucap Dina
"ya sudah, kalau perlu apa-apa telepon rumah ya"
"iya pa"
Papanya Dina pulang meninggalkan Dina, setelah menunggu Dina mandi dan sarapan. Tinggalah Dina sendiri yang merasa bosan karena ia berada di ruang rawat kelas satu yang hanya ada ia sendiri di situ.
Dina hanya bisa menonton televisi untuk mengusir rasa bosannya. Ia memindah-mindah saluran televisi, mencari saluran mana yang menarik untuk ditonton. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, dan munculah orang yang selama ini ia hindari.
"Princess sakit apa?" tanya cowok yang baru masuk
"tahu dari mana aku di sini?" tanya Dina datar
"dari adikmu, tadi aku ke rumahmu dan adikmu yang paling kecil bilang kamu dirawat di sini" jawab cowok itu "maaf aku ke sini tidak bawa apa-apa, aku tadi buru-buru"
__ADS_1
"iya..." ucap Dina singkat
"tadi mama kamu minta tolong menjaga kamu sampai papamu pulang dari kantor"
"terima kasih" ucap Dina datar matanya masih fokus ke layar televisi
"sebenarnya kamu sakit apa? Kemarin aku lihat kamu baik-baik saja" tanya cowok itu
"kamu tahu sendiri selama ini aku sakit apa, ya anggap saja aku sekarang disuruh istirahat" ucap Dina tak sedatar tadi
"pacar kamu tidak ke sini?" tanya cowok itu hati-hati, karena yang ia lihat kemarin mereka sepertinya sedang bertengkar.
Dina menghela nafasnya "tidak ada yang tahu aku di sini Ton"
Cowok yang menjenguk Dina itu adalah Toni. Kemarin ia melihat Dina ditarik oleh Dendy, ia begitu geram tak pernah ia memperlakukan Dina sekasar itu. Ya memang ia telah menyakiti perasaan Dina tapi ia selalu memperlakukan Dina dengan lembut.
Bahkan saat marah ia tidak pernah melampiaskan kepada Dina. Ia akan melampiaskan kemarahannya dengan kebut-kebutan atau berlatih memukul samsak.
Ia yang kawatir akan keadaan Dina memutuskan untuk pergi ke rumah Dina. Dan kekawatirannya terjawab, Dina sakit dan sampai di rawat di rumah sakit. Toni semakin kesal, ia yakin telah terjadi sesuatu di antara mereka berdua. Yang ia tahu Dina tidak akan kambuh sakitnya kalau bukan karena stres.
Melihat Dina terbaring lemah dengan wajah pucat, Toni tidak tega. Ia bertekat melindungi Dina dan akan merebut Dina kembali. Ia yakin, suatu saat Dina akan bisa memaafkannya. Ia hanya perlu bersabar dan menunjukkan kesungguhannya.
.
.
.
B E R S A M B U N G
Jangan lupa ritualnya ya bestie...
Please like, vote dan komennya ya
Terima kasih sekebon bestie
__ADS_1