
*Sebelumnya terima kasih untuk bestie yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel receh ini . Tolong like dan coment apa aja yah bestie kalau masih ada sisa vote boleh juga 😊😊 kirim bunga juga boleh *othornya nglunjak 😄😄
Lanjuttt*......
...----------------...
Sepeninggal Pak Har mereka pun melanjutkan obrolan mereka di teras vila. Gilang merasa tidak enak karena sudah mengajak Dina keluar vila sampai diomeli pak Har.
"Din...Sorry ya... gara-gara aku kamu dimarahin pak Har" Gilang meminta maaf kepada Dina dengan raut penyesalan
"tidak apa-apa Gilang, ini salahku juga karena sudah keluar vila padahal aku juga termasuk yang bertanggung jawab atas acara ini"
"tapi kalau aku tidak mengajak kamu keluar kamu tidak kena omelan pak Har tadi" Gilang masih dengan raut penyesalannya.
Gilang tahu seperti apa pak Har kalau ada kejadian yang dia tidak suka, pasti waktu pelajaran beliau di kelas selalu jadi bahan sindiran, meskipun hanya bercanda tapi kalau selama seminggu penuh disindir terus juga bakal bosan dengerinnya.
"Halah....paling cuma disindir terus Lang, sudah biasa, sudah makananku sehari-hari tiap jam pelajaran beliau " Jawab Dina meyakinkan Gilang untuk tidak memikirkan masalah itu lagi.
"Din, kamu tidak kedinginan?" tanya Widi
"Udara malem tidak baik buat kesehatan kamu" lanjutnya
__ADS_1
"Tenang Wid, aku sudah bawa selimut kok" Dina tergelak "sebentar aku ambil dulu di tas, habis ini kita lanjut lagi ngobrol-ngobrolnya atau nyanyi-nyanyi gitu biar tidak bosan" lanjut Dina sambil jalan masuk ke dalam ruangan yang dijadikan sekretariat panitia.
Dendy yang melihat bagaimana perhatiannya Widi menjadi makin minder dan ada rasa cemburu. Dendy pun bertanya kepada Gilang tentang hubungan Dina dan Widi
"Mas, Dina sama Widi pacaran?" bisik Dendy
"Setauku sih tidak, dia memang dekat dari kelas satu tapi tidak pacaran"
"tapi kok seperti orang pacaran ya?" ucap Dendy masih berbisik agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka
"ya kamu tanya saja sendiri ke orangnya, itu orangnya" jawab Gilang sambil menunjuk ke arah Dina yang berjalan membawa selimut
"kalian sedang bicara apa Lang, Den? Kok mukanya terlihat serius begitu" tanya Dina menatap heran kepada keduanya
"Din, kamu duduk di kursi yang tengah saja aku ambilkan satu kursi lagi biar kamu bisa sambil selonjoran" sela Widi
"ehh...iya makasih Wid" Dina sumringah
Widi pun menata kursi agar Dina bisa duduk dengan nyaman. Dan Dina pun duduk selonjoran kemudian menarik selimutnya sampai sebatas dada karena udaranya begitu dingin, Dina memang tidak tahan dengan udara dingin. Setiap kedinginan pasti akan pilek dan hidungnya terasa buntu.
Mereka pun melanjutkan obrolan mereka, bercanda tawa bahkan sambil ada yang memainkan gitar dan bernyanyi lagu-lagu dari penyanyi favorit mereka.
__ADS_1
"Lang, kamu tidak ikut main gitar?" tanya Dina ke Gilang
"kamu itu lupa apa mengejek aku Din?"
"lhoh ?"
"kamu sendiri tau aku tidak jago main gitar" ucap Gilang
"tidak jago tapi bisa kan Lang?"
"daripada aku cuma bisa genjreng-genjreng tidak jelas" lanju Dina sambil tergelak
"Yang jago itu si Dendy" ucap Gilang menyenggol bahu Dendy yang duduk di sebelahnya
"lhoh kok aku mas?" protes Dendy
" kan memang kenyataannya kamu lebih jago main gitar sambil bernyanyi daripada aku Den" ucap Gilang
"suaraku tidak bagus, kalau aku nyanyi nanti semua melempari aku pakai sandal" kilah Dendy
"sudah....sudah...kok malah jadi pada berantem sih" sela Dina
__ADS_1
Dina pun meminjam gitar kepada teman-teman yang dari tadi asyik bermain gitar.
...****************...