Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 200 Pengumuman dan ujian


__ADS_3

"bagaimana persiapan ujianmu?" tanya Dina sambil membereskan mangkok yang mereka pakai


"tidak ada masalah, hanya tinggal menjalani ujian saja" Dendy terkekeh


"sukses ya...semoga kamu lulus dengan nilai bagus" ucap Dina lembut


"iya..."


"ujiannya kapan?"


"satu bulan lagi dari hari ini" jawab Dendy


"fokus belajar untuk ujian ya....jangan keluyuran enggak jelas" Dina terkekeh


"aku enggak pernah keluyuran enggak jelas, aku kalau pergi selalu jelas kemana" ucap Dendy dengan senyum jahil


"iya...jelas...jelas bolos sekolah...jelas tiba-tiba sampai sini" Dina mencebik


Dendy hanya tergelak, melihat Dina yang begitu kesal. Ia merasa Dina terlalu berlebihan, terlalu takut akan hal-hal yang belum pasti. Dina selalu mengkawatirkan tentang bagaimana pandangan orang tua Dendy terhadap dirinya. Yang sebenarnya tidak perlu ia pikirkan.


Tapi mungkin semua ketakutannya akhirnya terjawab, papanya Dendy tiba-tiba menentang hunbungan mereka berdua. Dendy tak pernah mendapatkan jawaban yang pasti alasan mengapa papanya tiba-tiba menentang hubungan mereka.


Dendy merasa tak ada pilihan yang baik, semua ada konsekuensinya. Bahkan saat inipun dirinya merasa was-was, jika papanya mengetahui jika ia telah mendaftar di universitas tempat Dina kuliah. Walaupun sebenarnya cepat atau lambat pasti akan mengetahuinya.


Dendy sengaja merahasiakan semua yang ia lakukan, setidaknya orang tuanya mengetahui kelak ketika hasil tes sudah diumumkan. Atau mungkin saat ada pemberitahuan tentang pembayaran biaya kuliah.

__ADS_1


Dendy berani mengambil langkah yang begitu beresiko karena ia merasa didukung oleh tantenya, adik dari mamanya yang sudah menganggap Dendy seperti anak sendiri.


Bahkan tantenya menawarkan membantu biaya kuliahnya jika papanya tetap tidak menyetujui ia kuliah di tempat yang sama dengan Dina. Tapi Dendy belum menerima tawaran tantenya, karena ia merasa ia masih memiliki tabungan untuk membayar uang masuk kuliahnya.


Dendy merencanakan untuk membayar biaya kuliahnya ia akan bekerja di sela-sela jam kuliahnya. Ia sudah bertekad demi ia bisa berdekatan dengan Dina ia akan menempuh segala resiko.


Dendy sudah mendengar cerita Dodi, banyak mahasiswa yang berkuliah sambil bekerja untuk membiayai hidup mereka di kota J. Dan upah yang mereka terima termasuk lumayan. Berbekal dengan cerita Dodi ia membulatkan tekad, merencanakan apa yang akan ia tempuh setelah diterima di kampus A kelak.


"Yang...maaf aku tidak bisa lama-lama, jam tiga nanti aku pulang ya..." ucap Dendy dengan nada sendu


"iya...tidak apa-apa, gara-gara aku kuliah di sini kamu jadi harus bolak-balik ke sini" ucap Dina sedih


"sudah resiko kan..." Dendy terkekeh "sudah tidak perlu dibahas lagi"


"iya...iya...kamu istirahat dulu masih ada waktu..." ucap Dina sedikit cemberut


Dina menyusul tidur di sebelah Dendy, ia menyembunyikan wajahnya di dada Dendy serta memeluknya. Tak lama ia pun tertidur, Dendy melihat Dina yang tertidur mengecup puncak kepala Dina kemudian ia juga memejamkan matanya.


.


Hari berganti hari, tiba saatnya pengumuman hasil tes dari universitas A. Dendy sudah melihat pengumumannya di halaman situs resmi kampus tersebut. Dan hasilnya ia diterima, pada program studi yang ia inginkan.


Dalam pengumuman tersebut juga diumumkan tata cara untuk pendaftaran ulang. Rincian biaya yang harus ia bayar akan dikirim ke alamat rumah masing-masing.


Dendy kawatir, yang menerima surat rincian biaya adalah mamanya atau lebih parahnya lagi papanya yang menerima. Ia begitu gusar tapi ia harus tetap fokus untuk menghadapi ujian akhir yang tinggal dua minggu lagi.

__ADS_1


Pikirannya terpecah antara memikirkan surat rincian biaya dan juga ujian akhir penentu kelulusan. Dendy belum siap jika harus menghadapi reaksi papanya.


Dua minggu berlalu, ujian penentu kelulusan telah tiba. Dendy mengesampingkan pikiran tentang surat dari kampusnya. Ia fokus mengerjakan ujian agar bisa lulus dengan nilai yang tidak mengecewakan.


Sementara waktu Dina tidak mengganggu Dendy, ia sudah mengatakan pada Dendy ia akan mendoakan Dendy dan tidak menghubunginya dulu selama ujian.


Meski dengan berat hati Dendy menyetujui apa yang dilakukan Dina, dengan satu syarat mereka masih bisa bertukar pesan singkat setelah Dendy pulang sekolah. Semua itu Dina lakukan agar Dendy lebih fokus ujian.


Hari-hari Dendy lalui dengan perasaan gugup, cemas, kawatir terlalu banyak yang ia pikirkan dan kawatirkan. Rasanya kepalanya ingin pecah.


Hari terakhir ujian, Dendy sudah tak sabar untuk segera menyelesaikannya. Ia ingin segera bertemu Dina, yang hampir dua minggu tak ia temui.


Dengan perasaan rindu yang menggebu, Dendy mendatangi rumah Dina. Tapi Dendy harus kecewa, karena Dina belum sampai rumah. Dari mamanya Dina, sabtu pagi Dina ada kuliah pengganti, jadi Dina siang baru bisa pulang.


Dengan langkah gontai ia pulang ke rumah yang beberapa bulan terakhir ia tak pulang sesiang itu. Dendy langsung masuk ke dalam kamarnya, mengabaikan papanya yang duduk di depan televisi.


Dendy merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk tidur. Selama beberapa hari ia kurang tidur karena harus belajar untuk ujiannya. Lama Dendy mencoba memejamkan matanya tapi tak kunjung bisa tertidur.


Pikirannya masih tertuju pada surat dari kampus pilihannya. Sampai hari terakhir ia ujian, tapi surat itu belum juga ia terima. Ia sempat berpikir, surat itu telah sampai tapi disimpan oleh mama atau papanya.


..


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2