Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 201 Ketahuan


__ADS_3

Hari-hari berlalu, surat yang Dendy tunggu akhirnya datang, tapi sayangnya bukan Dendy yang menerima melainkan mamanya. Mama Tari terkejut, ia tidak tahu kapan Dendy mendaftar seingatnya Dendy tak pernah meminta ijin kepadanya untuk mendaftar.


"surat dari mana ma...?" tanya Dendy menghampiri mamanya yang terpaku di depan pintu rumahnya. Dendy melihat amplo surat tertera logo kampusnya.


"ini maksudnya apa Den...?!" tanya mama Tari dengan nada tinggi


Dendy merebut surat yang dipegang mamanya "bukan apa-apa ma" Dendy masuk kembali ke dalam rumahnya.


"Dendy!! Mama belum selesai bicara!"


"mama sudah baca kan? buat apa bertanya" Dendy masuk ke dalam kamarnya


Yang ia takutkan terjadi juga, Dendy tak habis pikir dengan sikap kedua orang tuanya yang tiba-tiba ingin dirinya menjauh dari Dina.


.


Malam harinya, Dendy tak keluar kamar untuk makan. Ia sengaja menghindari pertanyaan kedua orang tuanya. Ia lelah setiap ada masalah, pasti berakhir dengan perdebatan.


Dendy baru turun ketika semua penghuni rumah sudah terlelap. Ia melangkahkan kakinya pelan-pelan agar tidak membangunkan seluruh penghuni rumah.


Setelah dirasa aman, ia keluar rumah. Ia ingin menjernihkan pikirannya, ia berkeliling kota dan berakhir di taman yang sering ia datangi bersama Dina.


Dendy merenung, memikirkan kembali semua yang telah ia lakukan. Ada perasaan bersalah karena telah membohongi kedua orang tuanya. Andaikan semua larangan papanya memiliki alasan yang kuat, tentu ia akan berusaha mengerti.


Ia tak mungkin menceritakan hal ini pada Dina. Ia tahu Dina pasti akan memilih mengalah, dan menuruti apa yang papanya Dendy inginkan. Ia belum siap jika harus melepaskam Dina.


Berhari-hari Dendy menghindari papanya. Ia sengaja pergi dan pulang larut malam. Kali ini ia ingin egois, mempertahankan apa yang menjadi keinginannya.


Satu tahun terpisah dari Dina membuat Dendy sudah tak bisa membendung keinginannya. Mereka berdua memiliki kesamaan, sama-sama tidak bisa jauh satu sama lain, sama-sama tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh.


"Den...papa mau bicara denganmu!" papanya Dendy masuk ke dalam kamar Dendy

__ADS_1


Dendy diam, ia sudah tahu papanya akan membahas masalah apa.


"kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah mendaftar kuliah?!"


"untuk apa aku bilang? paling juga akan dilarang" jawab Dendy ketus


"papa tidak melarang kamu, hanya saja lebih baik kalian fokus dengan kuliah kalian masing-masing dulu!"


"tetap saja intinya aku harus memutuskan Dina!" jawab Dendy tak kalah ketus


"perintah papa tetap sama, jika kamu kuliah satu kampus dengan Dina kamu harus putus dengannya!!" papanya Dendy keluar dari kamarnya


"tapi pa....!" protes Dendy


"tidak ada tapi-tapian Den...!!" papanya Dendy meninggalkan kamar Dendy


"aaarrgghh......" Dendy membanting pintu kamarnya, dia begitu emosi tidak tahu apa alasan papanya sampai melarangnya berdekatan dengan Dina.


Sejak pertama aku melihat Dina, aku merasa seperti mengenalnya. Wajahnya begitu mirip, cara berbicara senyumnya begitu mirip. Aku seperti kembali ke masa lalu. Masa remajaku yang tidak indah, diriku yang pemalu yang tidak percaya diri, selalu menjadi bahan olok-olokan teman-temannku.


Ada satu temanku yang tidak pernah ikut mengolok-olok aku. Dia selalu baik padaku, kadang kala jika teman-temanku sudah keterlaluan dia akan mengajak aku meninggalkan kerumunan teman-teman yang mengolok-olok aku.


Dia gadis yang cantik, periang namun tutur katanya lembut. Dia cerdas, baik hati dan tidak pernah pilih-pilih teman. Namanya Verawati Budiono, cinta pertamaku yang tak pernah akan aku lupa. Rumah dia terletak tak jauh dari SMP X tempat kami sama-sama bersekolah.


Meski dia selalu baik padaku, aku tidak berani mendekatinya. Aku hanya mampu mengagumi dirinya dari jauh. Siapalah aku ini, hanya seorang siswa yang berpenampilan lugu, dan tidak menarik, sedangkan dia memiliki banyak teman, dan banyak yang mengagumi dirinya.


Bodohnya aku, tak sempat mengenal dia lebih dekat. Orang tuaku pindah ke kota sebelah jadi mau tidak mau aku mengikuti orang tuaku pindah dan pindah sekolah tentunya.


Aku mengenalnya hanya tiga bulan, di tahun pertamaku bersekolah di SMP X. Setelah itu aku tidak pernah lagi tahu kabarnya, hingga akhirnya saat aku lulus kuliah, aku kembali ke kota ini, orang yang pertama aku cari adalah Verawati.


Aku mendatangi rumah lamanya, ternyata sudah lama dijual. Dari pemilik rumah yang baru aku mengetahui jika Vera telah bertunangan dan akan segera menikah.

__ADS_1


Pupus sudah harapanku, salahku juga tak pernah ke kota ini lagi sejak saat itu. Aku sangat ingin bertemu dengannya, dan menunjukkan siapa diriku saat ini. Bukan lagi Doni yang lugu dan pemalu, tapi Doni yang berbeda.


Aku mengingat, Vera memiliki teman dekat waktu SMP dulu. Aku menemuinya, karena rumah mereka tidak terlalu jauh. Dari teman dekat Vera aku mengetahui seperti apa Vera setelah dewasa, dan juga tempat tinggalnya.


Di hari pernikahannya aku hanya bisa melihatnya dari jauh, begitu cantik memakai gaun putih. Dan hal yang mengejutkan lagi Vera menikah dengan salah seorang yang pernah mengolok-olok aku dulu.


Aku marah, aku kecewa, karena Vera menikah dengan orang yang sudah membuatku sakit hati. Keinginanku untuk bertemu Vera aku urungkan.


Sejak saat itu aku berusaha melupakan semua kejadian waktu aku masih remaja dulu. Aku mulai membuka hatiku untuk orang lain berharap bisa melupakan semua.


Perlahan aku mulai bisa memaafkan Vera dan suaminya, lebih tepatnya suami Vera. Aku membangun keluargaku, berusaha menjadi suami dan ayah yang baik.


Hingga saat, seorang gadis belia datang ke rumahku, dan ternyata adalah pacar anak pertamaku. Aku merasa penasaran siapakah dia, anak gadis yang terlihat mirip dengan Verawati.


Aku berusaha dekat dengan anak itu, dan ternyata dia benar-benar anak yang baik. Dia bisa membuat anakku berubah menjadi lebih baik. Aku mengagumi pesona anak itu yang bisa membuat keluargaku menjadi hangat, bahkan istriku sangat menyayangi anak itu.


Suatu ketika, anak itu pulang dari rumahku, karena aku penasaran aku mengikuti dia. Aku hanya memastikan apakah anak itu anaknya Vera atau bukan. Selain itu aku ingin mengetahui latar belakang anak itu sebelum mereka berdua terlalu dekat.


Aku tahu Dendy anak pertamaku memiliki sifat yang hampir sama denganku. Jika mencintai seseorang tak akan pernah melepaskan dengan mudah. Dan terpaku pada satu perempuan, tapi soal keberanian ia mewarisi sifat mamanya.


Ia lebih berani mengungkapkan apa yang ia rasakan. Dendy seorang penyayang, setia dan anak yang kreatif. Selalu membuat hal-hal sederhana bisa menjadi hal yang mengagumkan. Itulah sifat yang diwarisi dari istriku


.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2