
^^^π¨ gara-gara kehujanan kemarin ya? Maaf ya Din^^^
β mungkin kecapekan saja
^^^π¨balik ke kota J kapan? Aku nanti sore mau ke tempat kakakku, bareng aku saja ya?^^^
Dina tak lagi membalas pesan singkat Toni. Ia sebenarnya mau saja berangkat bersama Toni karena ia sepertinya tak akan sanggup naik kendaraan umum sendirian, ia takut jika terjadi sesuatu di bis, tapi ia masih menunggu Dendy.
Sampai jam dua Dendy tak datang ke rumah Dina, bahkan mengirim pesan singkat atau menelepon pun tidak. Dina masih menungu Dendy datang dan mengantarnya ke terminal.
Ponsel Dina berbunyi, Dina mengambilnya berharap Dendy yang mengiriminya pesan.
π¨ kamu berangkat kapan? jam berapa Din?
Ternyata Toni yang mengiriminya pesan, Dina mengabaikan lagi pesannya. Ia masih menunggu Dendy datang menemuinya.
"seperti biasa, kalau aku sakit selalu tak terlihat batang hidungnya" Dina menghela nafasnya. Kemudian ia membereskan barang-barang yang akan ia bawa ke kota J.
"Din...kamu ke terminal berangkat jam berapa?" mamanya Dina masuk ke kamarnya Dina
"belum tahu ma, aku masih sedikit tidak enak badan" jawab Dina lesu
"kalau sakit istirahat dulu, besok tidak masuk kuliah dulu saja" ucap mamanya Dina lembut
"enggak bisa ma, besok ada presentasi tugas, enggak mungkin aku bolos" jawab Dina
"tapi kamu sedang sakit Din, nanti kalau kenapa-kenapa di jalan bagaimana?"
"tadi Toni menawariku berangkat bareng, katanya dia mau ke tempat kakaknya di kota J" ucap Dina sambil membereskan meja belajarnya
"Toni? Toni anaknya Om Yanuar maksud kamu?" tanya mamanya Dina
"iya, Toni yang kemarin itu, tapi aku belum mengiyakan, karena masih bingung..."
"kalau kamu masih sakit tidak usah dipaksakan, kamu di kos sendirian, kalau sakit siapa yang merawat kamu, mama tidak tenang kalau kamu kembali ke kos dalam kondisi sakit seperti ini"
"mama tenang saja, di kos teman-teman Dina baik semua, kapan hari waktu Dina demam juga merek yang membantu Dina" Dina berusaha menenngkan mamanya.
"ya sudah terserah kamu, kalau demammu semakin tinggi ke dokter dan istirahat" mamanya Dina keluar dari kamarnya Dina
Jam menunjukkan sudah pukul tiga lebih empat puluh lima menit. Dina yakin Dendy tak akan datang, ia pun mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan singkat.
β aku ke kota J sore ini, iya aku mau bareng kamu.
Dina mengirim pesan singkat itu ke Toni. Dina meletakkan ponselnya dan kembali melanjutkan membereskan kamarnya. Meski merasa tak enak badan tapi Dina tetap harus merapikan kamarnya, kasihan mamanya jika harus membereskan semuana.
__ADS_1
Ponsel Dina berbunyi, Dina melihat ada panggilan masuk dari Toni.
"halo"
^^^π²halo Din, aku jemput jam berapa?^^^
"hmm....memangnya kamu berangkat jam berapa?"
^^^π² terserah kamu, aku kapan saja bisa, hanya mengantar barang saja ke kos kakakku^^^
"oh...baiklah...jam setengah lima atau jam lima begitu ya..."
^^^π² oke, aku siap-siap dulu^^^
Dina mematikan panggilan dari Toni, merasa setelah minum obat badannya sedikit lebih baik, Dina memutuskan untuk mandi. Sayup-sayup mamanya memanggilnya kemudian terdengar pintu kamar mandi diketuk.
"Din....Toni sudah menunggu di depan" ucap mama Vera
"iya ma..."
"cepat sekali dia datang, perasaan aku suruh dia datang setengah jam lagi" batin Dina.
Dina keluar dari kamar mandi kemudian dia bergegas bersiap. Dina keluar dari kamarnya membawa semua barang-barang yang akan ia bawa.
"cepat sekali Ton?" Dina menghampiri Toni yang duduk di teras
"iya...sudah lumayan...mau berangkat sekarang atau nanti?" Dina meletakkan barang-barangnya di kursi dekat Toni
"ini barang-barang yang mau kamu bawa?" Toni menunjuk ke arah tas Dina
"iya..." jawab Dina singkat
"terserah mau berangkat kapan, aku masukkan dulu barang-barang kamu di mobil" Toni berdiri mengambil tas Dina dan berjalan ke mobilnya yang terparkir
Dina masuk ke dalam rumah berpamitan ke mama dan papanya. Kemudian Dina keluar lagi diikuti oleh mamanya.
"bawa mobilnya jangan kencang-kencang ya...Ton, Dina sedang sakit" ucap mama Vera
"iya tante.... Kalau Dina demam lagi nanti saya antar ke dokter sekalian" ucap Toni sopan
"aku berangkat dulu ma...." ucap Dina mencium pipi kiri dan kanan mamanya
"hati-hati di jalan, kalau besok belum membaik kamu telepon Wilson, tadi papa sudah menelponnya katanya dia akan ke kosmu nanti" pesan mamanya
"iya...iya...ma..." Dina mengerucutkan bibirnya
__ADS_1
"kami berangkat dulu tante..." pamit Toni sopan
"hati-hati di jalan ya..." mamanya Dina melambaikan tangannya
Toni mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rendah. Ia mengingat pesan mamanya Dina. Ia kawatir Dina semakin sakit kalau ia mengemudikan mobilnya seperti biasanya.
Dina larut dalam pikirannya, memikirkan Dendy yang sedikit menjauh darinya. Dina tak tahu apa sebabnya, bahkan Dina bilang sakit Dendy tetap tak datang.
"kenapa bawa mobilnya seperti siput Ton?" ucap Dina sedikit kesal
"tadi mamamu bilang aku tidak boleh kencang-kencang bawa mobilnya..." ucap Toni datar
"iya...tapi kalau seperti ini kapan sampainya" Dina kesal
Toni menghela nafas, ia menuruti Dina menambah kecepatan mobilnya. "Din...Wilson itu siapa?" tanya Toni dengan dada yang berdegup kencang
"sepupuku" jawab Dina singkat.
Toni merasa lega, karena ketakutannya tak terjawab. Hening, tak ada satu pun yang berbicara, Dina masih memikirkan perubahan sikap Dendy.
"Nanti, ke kos kakakku dulu ya...baru aku mengantarmu?" Toni melirik Dina yang menatap ke jendela samping
"iya...terserah..." jawab Dina pelan
Toni memegang kening Dina dengan tangan kirinya, memastikan jika Dina baik-baik saja. Namun ternyata Dina sepertinya demam lagi, dahinya terasa panas.
"kalau sakit kenapa memaksakan ke kos?"
"aku besok ada presentasi tugas" jawab Dina datar "kamu fokus nyetir saja, aku mau tidur" Dina memejamkan matanya
Toni menepikan mobilnya kemudian melepas sabuk pengaman, dan mencondongkan tubuhnya ke arah Dina.
"kamu mau apa?!" Dina panik, Toni hanya tersenyum.
Tangan Toni meraba ke bagian sebelah kursi penumpang kemudian menarik tuas kursi "aku hanya mau menurunkan sandaran kursimu, agar kamu bisa tidur nyaman, lepas saja sabuk pengamanmu" ucap Toni lembut
Toni meraih boneka yang ada di kursi belakang "ini pakai buat menyangga kepala kamu" Toni menyerahkan boneka itu ke Dina.
Setelah memastikan Dina nyaman, Toni melanjutkan perjalanan mereka. Sesekali Toni melirik Dina yang terlihat memejamkan matanya.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g