
Dina tak menyadari dari tadi sepasang mata memperhatikannya dari sudut warung tenda tersebut dengan kedua sudut bibir terangkat. Melihat Dina tampak bahagia bersama teman-temannya. Dina tak menyadari jika sedari tadi dirinya diperhatikan.
Setelah memastikan Dina selesai makan, ia pun membayar makanan yang Dina dan teman-temannya makan. Ia pun kembali ke mobilnya dan mengendarai mobilnya ke kos Dina.
Dina telah selesai makan, ia dan teman-temannya beranjak ke pemilik warung untuk membayar makanannya.
"sudah dibayar non..." ucap si pemilik warung
Mereka berempat saling tatap, bingung kapan mereka membayar makanan merek.
"tapi kami merasa belum membayarnya bu..." ucap Tere
"iya...tadi sudah ada yang membayarnya non..." ucap bapak pemilik warung yang sudah hafal dengan Dina.
"siapa yang membayar pak...?" tanya Dina menarik kedua sudut bibirnya keatas
"orangnya tidak mau disebutkan namanya non..." ucap bapak pemilik warung ramah
"baiklah pak terima kasih...." ucap Tere
Mereka berempat keluar dari warung itu dengan penuh tanda tanya.
"kira-kira siapa ya...yang membayar makanan kita..." tanya Tia
"tadi merasa ada yang kita kenal tidak waktu kita makan?" tanya Reni
"aku tidak memperhatikan..." jawab Dina
"sudahlah...anggap saja rejeki anak baik dan cantik seperti kita ini...betul tidak..." ucap Tia
Mereka berempat tertawa, menyadari kebodohan mereka yang tidak menyadari siapa yang ada di warung tadi. Mereka berempat pergi ke tempat persewaan film.
Mereka memilih-milih serial drama apa yang akan mereka tonton untuk mengisi waktu liburan mereka. Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka pun pulang ke kos.
Merek berjalan sambil bercanda, gelak tawa mereka meramaikan area tempat mereka kos. Sesampainya di depan kos, mereka berempat masih belum menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. Tere membuka pintu kos, mereka masuk diikutu Dina dan teman-teman.
"Din...." seseorang menahan pintu kos mereka. Dina menoleh ke belakang dan tampaklah Bimo yang berdiri dengan senyuman menatapnya.
"yah....sayang ya...uang sewa film nya sudah kubayar..." ucap Tere kencang
Tia dan Reni hanya terkekeh mendengar ucapan Tere. Bimo tersenyum mendengar ucapan Tere.
__ADS_1
"apa kubilang mobil yang di depan mobil pacar kamu" Tere meledek Dina
Bimo tersenyum "temanmu saja tahu, kenapa dari tadi kamu tidak menyadari kalau aku di depan kosmu?" ucap Bimo dengan senyum teduh
"aduh....meleleh hati adek bang...." ucap Reni melihat Bimo yang tersenyum kepada Dina
"mas mau apa? Besok saja ya....aku mau nonton dengan teman-teman" ucap Dina
"iya...aku hanya mau memastikan kamu baik-baik saja dan makan dengan benar" Bimo terkekeh
"aku sudah makan mas..." ucap Dina santai
"iya aku tahu..." ucap Bimo tersenyum teduh
"jangan-jangan yang membayar makanan kita pacar kamu Din..." ucap Tere asal
Dina menatap Bimo penuh tanda tanya, Bimo hanya tersenyum menanggapinya "ya sudah....aku pulang ya..." Bimo pergi meninggalkan kos Dina.
Mereka berempat naik ke kamar Tere dan mulai menonton serial drama yang telah mereka sewa. Menjelang pagi mereka baru tidur sementara tv masih menyala.
.
Dengan langkah ringan Dina memasuki ruang kuliahnya. Dina heran tak ada satupun mahasiswa yang ia kenal. Hanya ada tiga mahasiswa angkatannya, sisanya adalah angkatan atas.
Dina membuka catatannya, dan baru menyadari jika mata kuliah ya g ia ambil sekarang adalah mata kuliah untuk semester atas. Bahu Dina terasa lemas, ia kira angkatannya akan banyak yang mengambil mata kuliah tersebut, ternyata tidak.
Dosen pengajar telah masuk, diikuti seseorang yang ia kenal betul. Seseorang tersebut mendudukkan dirinya di sebelah Dina.
"kamu juga ambil mata kuliah ini?" tanya seseorang tersebut
"iya...habisnya kemarin bingung mau ambil apa lagi, hanya mata kyliah ini yang tanpa prasyarat yang masih tersisa banyak kelasnya" jawab Dina
"hati-hati sama dosennya, dia terkenal genit dengan mahasiswa cantik seperti kamu" bisik seseorang itu
"niatku hanya kuliah, buat apa aku mikirin dosennya" Dina mengerucutkan bibirnya
Perkuliahan terasa sangat lama karena materi yang membosankan. Dina berulangkali menguap, mendengarkan penjelasan dosennya yang seperti sedang mendongeng.
Setelah satu setengah jam lamanya akhirnya dosennya menyudahi perkuliahan.
"habis ini masih ada kuliah tidak?" tanya seseorang yang duduk di sebelah Dina
__ADS_1
"masih...nanti jam satu" jawab Dina
"sepertinya kita kuliah yang sama nanti" jawab seseorang itu sambil terkekeh
"belum tentu....di jadwal tidak hanya mata kuliah yang aku ambil yang kuliah di jam tersebut" protes Dina
"kita lihat saja nanti..." ucap seseorang itu "ayo kita ke kantin aku lapar...."
"hmmm.....baiklah....aku ingin makan yang pedas-pedas biar mata ini seger lagi" ucap Dina beranjak berdiri
"atau mau makan mie ayam depan kampus?"tanya seseorang tersebut
"oke....sudah lama aku ingin makan di sana belum keturutan..." jawab Dina semangat
Mereka berdua berjalan menyusuri tempat parkir mobil menuju ke gerbang kampus.
"sudah aku pesankan mie nya...tambah acar kan?" tanya seseorang itu
Dina hanya menganggukkan kepalanya. Ia memang pencinta acar, makan apapun jika ada acar ia selalu meminta tambah acar.
Pesanan mereka berdua telah diantar, Dina menuangkan sambal yang sedikit lebih banyak dari biasanya. Seseorang yang bersama Dina membiarkannya, tidak melarang Dina makan sambal berlebih.
Dina teringat Dendy, jika makan bersama Dendy pasti Dendylah yang menuang sambal untuknya. Dendy akan protes jika Dina makan sambal banyak-banyak.
Sayangnya yang sekarang sedang menemaninya makan bukannlah Dendy melainkan orang lain. Mendadak Dina merindukan Dendy, seminggu lebih ia tidak pulang, bahkan jarang menelepon juga.
Dina memakan mienya dengan lahap, keringatnya mulai bercucuran karena makanannya terlalu pedas. Lagi-lagi diabaikan oleh orang yang duduk di sebelahnya. Biasanya Dendy akan mengambil tisu untuk mengeringkan keringat Dina.
Dina semakin paham perbedaan di antara cowok sebelahnya dan Dendy. Dina merasa beruntung karena dia dulu tak menerima lamaran cowok itu.
Ia lebih menyukai cowok yang mencintainya dengan cara sederhana. Dina menyukai perlakuan-perlakuan yang remeh menurut orang dibanding diberikan barang-barang mahal.
Dina benar-benar merindukan sosok Dendy sekarang, sayangnya ia tidak bisa meneleponnya karena sudah dipastikan Dendy sedang sekolah, bahkan sekarang sedang tes cawu.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1