
"kamu tidurlah dulu, nanti aku bangunin kalau sudah jam lima" ucap Dendy datar tapi terkesan penuh perhatian.
"aku tidak mau...aku ingin menikmati kebersamaan ini" Dina menyunggingkan senyumnya "lagi pula sekrang sudah jam setengah lima"
Dina mencoba duduk, Dina merasakan perutnya lebih baik, tidak sesakit tadi sebelum Dendy datang "kedatanganmu obat untukku" Dina bangkit berdiri meski merasa masih sakit tapi saat ini sudah jauh lebih baik.
"aku mandi dulu..." Dina berjalan ke kamar mandi, sedangkan Dendy hanya mengangguk. Sepeninggal Dina, Dendy memperhatikan sekelilingnya "tak ada yang berubah" gumam Dendy
Dua puluh menit kemudian Dina, sudah selesai mandi, ia merasa jauh lebih baik dan merasa lebih segar "aku ingin berjalan-jalan denganmu" ucap Dina sambil menyisir rambutnya
"kamu enggak jadi ke dokter?" ucap Dendy dengan nada sedikit kesal
"jadi...tapi aku ingin jalan-jalan dulu, sudah lama sekali aku tidak keluar dari kos ini selain ke kampus, waktuku habis untuk beristirahat seperti tadi" Dina tersenyum kecut, ia teringat beberapa bulan terakhir, ia sakit-sakitan dan harus sering beristirahat agar tak harus dirawat di rumah sakit.
"baiklah...." Dendy menghela nafasnya, ia terlihat tidak tega melihat tubuh Dina terlihat begitu kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu beberapa bulan yang lalu. Dendy juga teringat saat Dina tiba-tiba pingsan di parkiran kampus tempo hari.
"asyikkkk...." ucap Dina terlihat bahagia, Dendy perlahan menyunggingkan senyum bahagianya. Sejak tadi, ia berusaha menyembunyikan perasaannya yang entah tidak tahu apa yang ia rasakan.
Dina pun bergegas bersiap-siap, ia terlihat begitu riang bak anak kecil yang dijanjikan diberi mainan. Dina memakai jaketnya dan mengambil tasnya "ayo..."
"kita mau jalan-jalan kemana?" tanya Dendy bingung
"terserah kamu...." ucap Dina riang
"baiklah...."
Mereka berdua berboncengan menyusuri jalanan kota J di sore hari yang terasa begitu sejuk udaranya. Tak ada pembicaraan di antara mereka.
Dendy sibuk dengan pemikirannya sendirj, sedangkan Dina begitu menikmati saat-saat bersama Dendy. Dina merasa beberapa bulan terakhir ia terkurung di kosnya dan merasa begitu terpuruk.
Ia hanya keluar kosnya untuk kuliah atau pulang ke rumahnya. Dan ketika ada Bimo, Bimo tak mengijinkannya untuk berkeliling alasannya karena ia sakit, apalagi dengan kaki Dina yang sakit tempo hari. Dina butuh waktu hampir satu bulan untuk benar-benar sembuh.
Ia merasa bosan, dan kini ia seperti merasakan kebebasan, seperti bebas dari penjara. Dina melupakan semua yang terjadi beberapa bulan terakhir, termasuk cewek yang menjawab teleponnya.
Dina lupa akan semua itu karena ia terlalu bahagia bisa bertemu Dendy lagi. Dina masih sama, ia memeluk pinggang Dendy dan menyandarkan kepalanya di punggung Dendy.
Tak terasa air matanya menetes, entah itu tangisa bahagia atau sebaliknya. Air mata itu keluar begitu saja tanpa permisi. Dendy merasakan basah di punggungnya, tapi ia tak berani menanyakan. Ia masih belum siap memberi penjelasan kepada Dina.
"Den....kita ke dokter sekarang ya...."ucap Dina ketika mereka sedang berhenti karena lampu merah
"kenapa?"
__ADS_1
"tidak apa-apa, ini sudah terlalu malam, udara dingin membuat aku sakit lagi" ucap Dina yang menahan rasa sakitnya
"baiklah...." Dendy melajukan motornya ke arah apotek depan kampus mereka. Tak lama mereka sudah tiba di tempat praktek dokter.
"kamu masuk sendiri ya...aku tunggu di luar..." Dendy mematikan mesin motornya
Dina tak menjawab apapun, ia langsung masuk dan mendaftar pada perawat yang menjaga di depan ruangan. Tak menunggu lama, giliran Dina masuk untuk periksa.
Sepuluh menit kemudian Dina sudah selesai, ia menghampiri Dendy yang duduk di ruang tunggu apotek "sebentar aku tebus resep dulu...." Dina menunjukkan resep dokter kemudian ia memberikan resep tersebut pada petugas apotek.
Tak menunggu lama, obat Dina sudah selesai. Dina pun membayar obatnya kemudian menghampiri Dendy. "Sudah selesai...ayo..." ucap Dina sambil merapikan obat yang ia bawa.
Dendy terkejut, melihat obat Dina yang begitu banyak. Ia bingung, Dina sakit apa kenapa membawa obat yang begitu banyak. "Kenapa malah diam?"Dina menatap Dendy yang sedang menatap bungkusan obat yang ia bawa
"oh...ini....anggap saja ini cemilanku" Dina terkekeh
"obat kok dibilang cemilan" ucap Dendy kesal
"ini lebih baik, daripada aku disuruh opnam sekarang" ucap Dina memaksakan senyumnya
"memangnya kenapa?" Dendy penuh tanda tanya
"kata dokter ada indikasi lambungku luka, untuk memastikannya aku harus dirawat untuk pemeriksaan lebih lanjut" ucap Dina tersenyum ia tak ingin orang di sekitarnya kawatir akan kondisinya.
"sudahlah...tak perlu dibahas...aku sudah biasa....untung kamu tang mengantar, kalau kakakku bisa-bisa aku langsung dibawa ke rumah sakit" Dina terkekeh
"kakak? Setahuku kamu anak sulung Din..." Dendy bingung
"iya sepupuku, yang seperti jailangkung" Dina tersenyum kecut karena tiba-tiba Wilson tak ada kabar setelah membuat janji akan sering datang ke kosnya
"sudah...tidak perlu dibahas...ayo kita makan...aku harus segera minum obatku..."
"kamu mau makan apa?"
"tiba-tiba aku ingin makan nasi goreng babat, dekat kos temanku"
"baiklah..."
Dendy membonceng Dina ke sebuah warung kaki lima dekat kos Caca.
"ayo...makan dulu...ini sudah waktunya makan" ucap Dina
__ADS_1
"kamu saja ya.....aku temani, aku ada janji dengan teman"
"kalau begitu aku bungkus saja..."
Dina memesan satu porsi nasi goreng babat seperti yang ia inginkan. "apa tidak lebih baik kamu makan bubur?" tanya Dendy
"bubur? Kalau di rumah sudah pasti aku makan bubur, tapi ini di sini....makan yang ada saja...aku tidak tahu dimana yang jual bubur jam segini"ucap Dina mengerucutkan bibirnya
Tak menunggu lama, pesanan Dina sudah selesau. Dendy mengantar Dina pulang ke kosnya. Sampai depan kosnya, Dendy mematikan mesin motornya "aku langsung pulang ya....kamu istirahat....jaga kesehatan...jangan sakit lagi" ucap Dendy menyunggingkan senyumnya
Dina merasa seperti pesan yang tak biasa dari Dendy. "Iya...kamu hati-hati di jalan..." ucap Dina memaksakan senyumnya
Dendy pun meninggalkan kos Dina, Dina menatap punggung Dendy yang perlahan menjauh dari pandangannya.
Dina masuk ke dalam kamar kosnya dengan perasaan aneh yang tak biasa. Masuk ke dalam kamarnya, Dina menangis sejadi-jadinya. Tere yang mendengar suara Dina langsung mengampiri kamar Dina.
"kamu kenapa Din?" Tere kawatir
"Dendy kak..." ucap Dina sambil terisak
"kenapa? Kalian putus?"
Dina menggelengkan kepalanya. "Terus kenapa Din?!" Tere makin bingung
"aku merasa, ini terakhir kalinya aku bisa pergi berdua bersamanya kak" ucap Dina masih terisak
"itu hanya perasaanmu saja Din...jangan terlalu dipikirkan" Tere memeluk Dina
"tapi perasaan ini kuat kak, dan biasanya apa yang kurasakan seperti pertanda akan terjadi" ucap Dina masih terisak
"kamu ini seperti peramal saja..."
.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1
Novel ini tinggal beberapa part lagi, yang belum vote tolong votnya ya....terima kasih sekebon bestie