
Setiap hubungan tak mungkin tak ada ujian, tak mungkin baik-baik saja seterusnya. Ujian itu ada agar kita selalu bisa lebih bersabar dan bersikap lebih dewasa.
Dendy menyadari itu semua, jika di awal dia yang pernah mencoba untuk selingkuh tapi Dina masih bisa memaafkannya, bagaimana dengan sekarang, apakah Dina sedang membalasnya.
"bukannya Dina selalu menceritakan semuanya padamu?" Dodi mengambil sebatang rokok lagi
"iya...memang...dia pernah bercerita ada yang mendekatinya, tapi itu dulu" ucap Dendy menerawang jauh dengan tatapan kosong
"mungkin itu cowok yg sama, yang Dina maksud" ucap Dodi
"mungkin juga...." ucap Dendy sendu "Dod....kamu melihat Dina memakai gelang dan cincin tidak?"
"gelang? Cincin?" Dodi mengerutkan dahinya tak tahu harus menjawab apa karena ia seminggu terkahir belum bertemu Dina lagi "kalau gelang aku lihat Den....kalau cincin hmmm....aku belum melihatnya karena sudah seminggu lebih tidak bertemu dengan Dina, memangnya ada apa?"
"aku pernah memberinya gelang di waktu hari jadi kita, kemarin aku memberinya cincin di hari valentine, kalau dia masih memakainya berarti dia tidak mungkin berpacaran dengan cowok itu" ucap Dendy sedikit bersemangat
Dodi sendiri sebenarnya tak yakin, Dina memakai gelang atau cincin yang seperti yang dimaksud oleh Dendy. Ia akan mencoba memastikan besok ketika ia kembali ke kota J.
"terus rencana kamu sekarang bagaimana?" tanya Dodi menatap Dendy yang tampak kacau
"entahlah Dod.... Apa aku harus memutuskan Dina? Tapi apa alasanku? Dina tak akan mudah menerima alasanku karena dulu saja aku pernah berselingkuh, dia mau memaafkan aku" ucap Dendy lirih
"berarti Dina bodoh....Dina butuh kacamata baru, buat apa dia mempertahankan kamu jika ada cowok yang jauh lebih segalanya dibanding kamu yang mendekatinya" Dodi mencibir
"maksud kamu?" Dendy menatap Dodi tak terima
"ada cowok yang tampan, kaya, setiap hari mengantar jemput kemana saja memakai mobil tapi disia-siakan" ucap Dodi dengan satu sudut bibir ternagkat
"hah....?!" Dendy mulai marah
"hahaha....jangan marah begitu...itu sudah menjelaskan kalau Dina tetap setia kepadamu" Dodi tergelak
"bercandamu tidak lucu...aku pulang saja...!" ucap Dendy kesal
"eeehhh....jangan begitu... " Dodi merasa ucapannya salah "ikuti kata hatimu Den....semua pasti ada jalan keluarnya, cinta itu butuh pengorbanan, kalau mungkin selama ini Dina yang sudah banyak berkorban mungkin sekarang giliran kamu" ucap Dodi sambil menghembuskan asap rokoknya
Dendy memikirkan semuanya, ia memikirkan segala kemungkinan yang akan menjadi resikonya. Dulu restu itu mereka dapat, tapi kini restu itu hilang satu.
Dendy bingung harus memilih yang mana, jika dipikir-pikir apapun keputusan yang ia ambil ujungnya ia sama-sama akan kehilangan Dina, cepat atau lambat.
__ADS_1
"Dod.....temani aku minum...." ucap Dendy dengan nada frustasi
"hah....perasaan sudah lama kamu tidak minum, paling cuma seteguk dua teguk, kenapa sekarang kamu mengajakku?" Dodi tampak heran
"ah...ayo kamu mau atau tidak, aku mau ke tempat Rendra ia pasti punya stok di rumahnya" ucap Dendy sambil beranjak dari duduknya
"baiklah.....baiklah...aku ikut....sejak kamu bersama Dina jarang kita bepesta" Dodi tergelak
Mereka berdua berboncengan ke rumah Rendra, teman Dodi sekolah dulu, rumah yang jadi tempat anak-anak muda berkumpul karena Rendra tinggal sendiri bersama pembantu sedangkan kedua orang tuanya bekerja di luar kota hanya sesekali mereka pulang.
Sudah menjadi kebiasaan mereka jika berkumpul pasti ditraktir minum minuman keras oleh Rendra, tapi mereka tidak melebihi batas. Mereka hanya sekedar minum minuman keras tidak melakukan hal di luar itu.
"tumben datang kesini" ucap Rendra menatap Dodi sambil menunjuk Dendy dengan dagunya
"patah hati..."ucap Dodi asal
"putus?" Rendra menautkan kedua alisnya
"lebih tepatnya dipaksa putus" ucap Dodi sambil duduk di kursi ruang tamu. Sedangkan Dendy hanya diam ia tak menghiraukan ucapan kedua temannya
"jangan berisik, aku ke sini hanya ingin mencari ketenangan" Dendy merbahkan tubuhnya di kursi panjang kemudian memejamkan matanya
"tidak salah Den? mencari ketenangan kenapa ke sini?" Rendra terkekeh
"masih terlalu sore untu mabuk Den" ucap Rendra saling berpandangan dengan Dodi
"sejak kapan mabuk ada jadwalnya" ucap Dendy masih sambil menutupi wajahnya dengan bantal
Dodi dan Rendra tergelak, mereka merasa lucu dengan sikap Dendy. "cewek tidak hanya Dina Den...." ucap Rendra sambil berjalan ke arah minibar mengambil botol minuman koleksi papanya.
Dendy pun bangun dan bersandar di kursi "kalau tidak tahu masalah yang sebenarnya jangan ikut berkomentar" ucap Dendy kesal
Rendra mulai menuangkan minuman ke dalam gelas-gelas kecil. Mereka bertiga minum-minum, Dendy hanya diam menikmati minuman yang dituang berkali-kali oleh Rendra.
Rendra saling pandang dengan Dodi, ia sebenarnya tidak tega jika harus terus memberikan minuman keras pada Dendy.
"tumben minum banyak, sudah lama kamu menghindari minuman haram begini" Rendra terkekeh
"jangan cerewet tuang saja minumannya!" bentak Dendy yang sudah hampir mabuk
__ADS_1
"sudah.....sudah cukup....ayo pulang....!" Dodi menarik tangan Dendy
"lepaskan! Aku tidak mau pulang!" Dendy memberontak
"Dra....ayo antar anak ini pulang" ucap Dodi
Mereka berdua mengantarkan Dendy pulang dalam keadaan hampir mabuk. Rendra menaiki motornya sedangkan Dodi memboncengkan Dendy.
Sesampainya di rumah Dendy, Dodi memarkirkan motor Dendy di halaman kemudian ia memapah Dendy sampai di teras rumah. Setelah memastikan Dendy masuk ke dalam rumah Dodi membonceng Rendra pulang ke rumahnya.
Dengan langkah sedikit tak imbang Dendy masuk ke dalam rumahnya dan berjalan melewati ruang keluarga.
"dari mana saja kamu?!" bentak papanya Dendy
"cari angin!" ucap Dendy singkat sambil berlalu meninggalkan ruang keluarga
"kalau ada orang tua berbicara itu didengarkan bukan ditinggal pergi!" teriak papanya Dendy
"papa mau bicara apa lagi?" Dendy berbalik badan dan menatap ke arah papanya
"kamu pergi tidak pamit, pulang-pulang bau alkohol, mau jadi apa kamu?!" teriak papanya Dendy
"sudah...sudah pa...." ucap mamanya Dendy lembut sambil membelai lengan papanya Dendy
"mau jadi apa aku? Bukannya papa sudah menentukan apa yang harus aku jalani?!" Dendy mulai emosi "papa menyuruh aku memutuskan Dina alasannya apa pa?! Beri tahu aku!" Dendy mulai berbicara dengan nada tinggi
Mamanya Dendy kaget dengan ucapan Dendy, ia tidak tahu menahu soal papanya Dendy yang menyuruh Dendy memutuskab Dina.
"maksudmu apa Den?" tanya mamanya Dendy kebingungan
"tanya saja pada papa!" ucap Dendy kemudian ia berbalik naik ke lantai dua.
Baru satu langkah Dendy berjalan "papa belum selesai bicara!" teriak papanya Dendy
"papa mau apa lagi?"
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g