
Ujian akhir semester Dina telah selesai. Dina bisa bernafas lega, ia ingin segera pulang karena dua minggu lamanya ia tak pulang dan jarang berkomunikasi dengan Dendy.
Ia ingin menikmati liburnya yang hanya dua minggu, kareba setelah itu ia akan mulai masuk kuliah semester pendek. Dab juga ia akan disibukkan dengan persiapan untuk menghadapi tes masuk perguruan tinggi negeri lagi.
Dina bersiap-siap merapikan barang-barang yang ada di kamarnya sebelum ia tinggal beberapa hari ke depan.
"Din...." Tere masuk kamar Dina
"ya kak....ada apa?"
"kamu ambil semester pendek tidak?" tanya Tere duduk di tempat tidur Dina
"ambil kak..." jawab Dina yakin
"bukannya kamu mau ikut tes masuk perguruan tinggi negeri lagi?"
"iya..."
"Din....Dina...di bawah ada mas ganteng" ucap Reni antusias
Dina mengerutkan dahinya "mas ganteng?"
"halah....itu lho Din satpam sekaligus sopirmu" Tere terkekeh
"Bimo maksudmu?" tanya Dina berjalan keluar kamarnya
"iya....!" teriak Reni sambil tertawa cekikikan
Dina menuruni anak tangga kosnya, terlihat Bimo sudah duduk di kursi ruang tamu depan kamarnya dulu.
"kamu pindah kamar kenapa tidak bilang-bilang?" tanya Bimo dengan nada sedikit kesal
"buat apa aku bilang ke mas" jawab Dina datar
"setidaknya aku bisa bantu kamu memindahkan barang-barangmu" ucap Bimo tak sekesal lagi
__ADS_1
"ada apa mas ke sini? Aku mau pulang sebentar lagi" ucap Dina datar
"aku mau kasih kabar, Riri tak akan mengganggumu lagi, mulai semester depan ia sudah tidak kuliah di kampus kita lagi" ucap Bimo dengan wajah yang tampak bahagia
"lantas hubungannya denganku apa?"
"jelas ada....kamu tidak perlu merasa kawatir lagi, satu hal laigi...maafkan aku untuk semuanya...aku ingin kita seperti dulu lagi" ucap Bimo lembut dengan wajah penuh penyesalan, membuat orang yang melihat merasa iba
"aku sudah memaafkan kamu mas, kita masih tetap berteman baik, jadi tidak ada yang perlu diperbaiki lagi" ucap Dina mengulas senyumnya
Bimo tersenyum mendengar ucapan Dina, akhirnya permasalahan yang rumit bisa terselesaikan.
"katanya mau pulang, bareng aku saja ya....aku juga mau pulang"
"aku naik bis saja mas" Dina ingin menghindar dari Bimo
"ayolah Din....kamu bilang kita berteman baik, sekali-sekali aku antar kamu pulang ya..."
Dina menghela nafasnya, percuma berdebat dengan Bimo, yang ada dia nanti tak jadi pulang "iya...iya..." Dina mengerucutkan bibirnya kemudian ia naik ke kamarnya meninggalkan Bimo sendirian menunggunya.
"sudah? Barang-barang kamu mana?"
"ini..." Dina menunjuk ransel yang ia bawa
"oh...ya sudah ayo...sini tasnya aku bawakan" Bimo berdiri mengambil tas yang dipegang oleh Dina
Dina berjalan keluar diikuti Bimo, kemudian ia mengunci pintu kosnya.
Sepanjang perjalanan Dina mencoba untuk mengirim pesan pada Dendy, tapi tak ada balasan. Ia mencoba menelepon Dendy tapi tak diangkat.
Dina gusar, hatinya tak tenang sudah hampir dua minggu mereka jarang sekali berkomunikasi. Bimo menyadari Dina yang dari tadi tampak gusar, tak berani bertanya takutnya Dina akan marah.
Satu jam perjalanan, mereka berdua hanya diam Dina dengan pikirannya sendiri, sedang Bimo fokus menyetir dan juga ia masih belum berani menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi Bimo juga begitu penasaran, melihat Dina yang terlihat gusar dari tadi waktu mereka berangkat. Ia sudah tidak bisa menahan lagi satu jam bersama Dina hanya diam tak ada obrolan seperti biasa.
__ADS_1
"ada masalah?" tanya Bimo lembut
"eh...enggak...enggak mas..." Dina gelagapan
Bimo tersenyum "dari tadi kamu terlihat gelisah, aku sudah lama mengenalmu Din..."
"beneran mas, aku enggak apa-apa" Dina memaksakan senyumnya
"kalau memang enggak ada masalah, jangan diam saja, aku bisa ngantuk nanti enggak sampai-sampai lagi" Bimo menyalakan musik mengusir sepi.
Bimo pikir kalau tidak ada pembicaraan di antara mereka setidaknya dia bisa bersenandung mengusir rasa sepi. Akhirnya mereka berdua mengobrol membahas lagu-lagu yang mereka dengar.
.
Selama libur di rumah Dina tak bertemu Dendy, Dendy hanya sekali membahas pesan Dina mengabarkan dia sedang berada di luar kota, di tempat neneknya yang tempatnya di lereng gunung dan susah sinyal.
Dina tak berpikiran macam-macam, ia pun kembali ke kosnya karena ia mengambil semester pendek. Sampai tiba saatnya ia harus pulang untuk mengambil formulir pendafaran perguruan tinggi negeri.
Dina menghubungi Dendy tapi tak ada balasan, akhirnya dia pergi diantar oleh dengan Ani. Sampai Dina mengembalikan formulir Dendy masih belum bisa dihubungi.
Dina mulai cemas, ia takut terjadi sesuatu dengan Dendy seperti dulu ketika tak ada kabar. Dina mencoba menelepon rumah Dendy tapi tak ada yang mengangkat.
Perasaan Dina semakin kalut, ia tak tahu apa yang terjadi kenapa Dendy sulit untuk dihubungi. Dina tidak bisa tenang, ia tak bisa fokus kuliah, apalagi Dina sebenar lagi menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negeri.
Pikirannya terbagi, Dina berusaha untuk memfokuskan pikirannya pada persiapan tes masuk perguruan tinggi negeri meski sulit ia berusaha sebaik mungkin demi cita-citanya yang sempat tertunda.
Hanya teman-teman kos dan sahabat-sahabatnya yang memberinya semangat. Meski terasa kurang tapi Dina senang karena teman-temannya begitu perhatian padanya.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1