
Malam bestie... terima kasih ya sudah membaca cerita ini, tolong like komen satu aja cukup kok 😘😘 jangan lupa pencet tombol favorit ya 😘😘
Kalau masih punya sisa vote tolong kasih othor vote ya, kirim bunga atau kopi juga boleh
Terima kasih sekebon bestie....
----------------
Keesokan harinya, Dina masih malas-malasan karena hari minggu. Waktu menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit Dina keluar kamar. Dina membantu mamanya membersihkan rumah, menyapu halaman dan kemudian mencuci seragam sekolahnya. Pukul delapan lebih empat puluh lima menit Dina sudah menyelesaikan semuanya, saatnya bersantai sejenak.
Mama Vera meminta Dina untuk mengantarkannya ke pusat perbelanjaan. Dina bergegas untuk mandi, baru selesai mandi Dina mendengar suara telepon dan diangkat oleh adiknya Alan.
"kak...ada telepon?" ucap Alan berteriak dari meja telepon
"siapa yang telepon? Bilang kakak lagi mandi" ucap Dina juga berteriak masuk ke kamarnya
"cowok kak... Katanya namanya Dendy" ucap Alan masih dengan teriak-teriak di samping meja telepon
"iya bilang sebentar kakak ganti baju dulu" ucap Dina masuk ke kamarnya untuk ganti baju
Dina sudah selesai ganti baju, bergegas keluar untuk menerima telepon
"Halo"
^^^☎️Halo Din^^^
"iya ada apa Den?"
^^^☎️boleh main ke rumah?^^^
"aku mau pergi sama mama Den, kenapa?"
^^^☎️enggak apa-apa, hanya ingin ngobrol saja Din^^^
"oh...di telepon saja bisa Den? Sambil nunggu mama masih mandi"
^^^☎️enggak ganggu?^^^
"iya...enggak apa-apa"
^^^☎️ hmmm Din, mau tanya tapi agak pribadi boleh?^^^
"tanya apa Den?"
...☎️ kamu suka cowok yang seperti apa sih Din?...
"hmm... Seperti apa ya? Yang jelas yang bisa buat aku nyaman "
__ADS_1
^^^☎️ oh... Enggak punya kriteria tertentu gitu Din?^^^
"enggak ada, yang jelas aku suka cowok yang sabar, enggak macem-macem, memangnya kenapa Den?"
^^^☎️ ah...enggak apa-apa Din, cuma ingin tahu aja^^^
"eh...sudah dulu ya Den, mama sudah selesai mandinya aku tutup dulu"
^^^☎️ iya Din terima kasih ya...^^^
"iya Den sama-sama aku tutup teleponnya"
Setelah menutup teleponnya Dina pergi mengantar mamanya ke toko swalayan. Dina membantu mamanya untu berbelanja barang-barang kebutuhan bulanan.
Hari berganti hari Dina sudah selesai menghadapi tes catur wulan, selama itu pula tidak ada yang menggangunya baik Gilang, Krisna ataupun Dendy. Hanya Toni saja sesekali melihat keberadaan Dina dikelasnya tapi dia hanya memandangnya dari jauh. Toni ingin memberi waktu untuk Dina sesuai janjinya.
Dina sedang mempersiapkan pendaftaran siswa unggulan. Seperti yang sudah selama ini ia rencanakan Dina mendaftar di fakultas kedokteran di kampus B. Semua persyaratan sudah dia serahkan ke pihak sekolah, Dina sekarang fokus untuk ujian akhir yang tinggal beberapa bulan lagi.
Dina sedang berada di kantin dekat kelas IPS bersama Ani. Dina dan Ani menjadi semakin dekat karena Dina sering ke kelas Ani dan kadang Dina main ke rumah Ani yang letaknya tidak jauh dari sekolah mereka.
"Din..." seseorang memanggil Dina
Dina menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Dina hanya tersenyum melihat seseorang berjalan mendekat ke arahnya.
"Lama tidak ketemu ya Din" ucap seseorang itu
"ya...kan cuma bertemu sekilas, enggak ngobrol sama sekali"
"memangnya mau ngobrolin apa?" ucap Dina sambil mengambil gorengan yang ada di depannya
"kangen godain kamu" ucap orang itu tergelak
"haish..." Dina mencebik
"sepertinya kamu sibuk banget akhir-akhir ini sampai-sampai enggak pernah kelihatan di kantin, datang ke sekolah mepet pulang paling awal" ucap seseorang itu
"lagi malas ketemu kalian-kalian" ucap Dina tergelak
"biar ga malas, aku traktir nasi pecel deh..."
"serius Lang.." ucap Dina dengan mata berbinar
Seseorang yang sudah hampir dua minggu terakhir dihindari Dina itu adalah Gilang. Sebenarnya mereka sama-sama sibuk, tapi ketika mereka tidak sengaja bertemu Dina memilih menghindar.
"serius... Tapi setelah itu aku dibantuin ya" ucap Gilang menarik satu sudut bibirnya
"ada maunya....!!" ucap Dina mencebik "memangnya butuh dibantu apa sih?"
__ADS_1
"nanti istirahat jam sore aku ajak ketemu seseorang mau ya?" ucap Gilang
"siapa?" Dina mengerutkan dahinya
"rahasia..." Gilang tergelak
Dina menahan kesalnya karena merasa dikerjain oleh Gilang. Berkedok traktir mentraktir ternyata ada maunya. Tapi Dina tetaplah Dina yang selalu mau membantu temannya, meskipun tidak ditraktir kalau diminta bantuannya selama dia bisa pasti akan dia bantu.
.
.
Istirahat jam sore 'pun tiba, Gilang bergegas ke kelasnya Dina takut kalau Dina sudah keluar kelas terlebih dahulu sebelum dia datang. Ternyata Dina masih berada di kelasnya sedang berbincang dengan Maya.
Gilang sengaja menunggu Dina keluar dari kelasnya sedikit agak jauh dari pintu kelas Dina takut Maya salah paham karena Gilang mengajak Dina bukan Maya. Gilang dan Maya bukan sepasang kekasih tapi hubungan mereka lebih dari sekedar teman, lebih tepatnya hubungan tanpa status.
Saat Dina keluar sendirian Gilang mengahampirinya dan mengajaknya ke parkiran. Dina bingung karena Gilang memintanya untuk mengambil helmnya dan memakainya. Dina bertanya-tanya mau diajak kemana dan bertemu siapa sampai Gilang mengajaknya keluar dari area sekolah tapi Gilang tidak menjawabnya.
Setelah berkendara selama lima menit mereka sampai di tempat yang dituju ternyata ke sebuah warung bakso yang baru saja buka tak jauh dari sekolah mereka. Gilang memarkirkan motor miliknya dan mengajak Dina masuk ke dalam di sana sudah ada Dendy dan Krisna.
"ternyata kalian lagi...kalian lagi" Dina mencebik
"hehehe...kita itu kangen sama kamu Din" ucap Krisna cengengesan
"tiap hari ketemu di sekolah kok kangen " Dina menarik kursi dan duduk di samping Dendy
"Ini Krisna mau traktir kita makan bakso sekalian promosi warung bakso ini punya saudaranya baru buka hari ini" ucap Dendy menjelaskan maksud mereka
"oke nih...boleh makan sepuasnya kan?" Dina sumringah karena dalam satu hari dua kali dia ditraktir, apa lagi bakso makanan kesukaannya mana bisa Dina menolaknya
"boleh...sepuasnya tapi setelah mangkok kedua kamu cuci piring di sini ya Din" Krisna tergelak "kalau kamu makan lebib dari dua mangkok Dendy dua Gilang dua bisa-bisa bangkrut warung ini"
"iya...iya tenang aku sadar diri kok.... sudah ditraktir masak iya minta lebih " Dina membaca menu-menu yang tertera di meja yang mereka tempati
Sebenarnya menu-menu yang ada di warung itu ingin dia coba satu-satu tapi berhubung ditraktir Dina hanya memesan satu menu saja. Dan siapa sangka semua menu yang ada di warung itu disajikan untuk mereka.
Sebagai anak sekolah yang uang jajannya pas-pasan Dina merasa seperti mendapat durian runtuh bisa makan bakso sepuasnya meskipun makanan itu harus dibagi untuk mereka berempat tapi cukup membuat mereka kenyang.
.
.
.
.
.
__ADS_1
B E R S A M B U N G