Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 92


__ADS_3

Mereka berdua berboncengan menempuh jarak yang agak sedikit jauh. Arahnya mereka keluar kota dan sudah hampir sampai di perbatasan dengan kota sebelah. Dina sebenarnya heran, mereka ini sebenarnya akan kemana, sudah hampir satu jam mereka berkendara tapi tak kunjung sampai.


Dina enggan bertanya kepada Dendy, biarlah ia menikmati saat-saat bisa pergi berdua dengan Dendy pikirnya. Karena setelah kelulusan nanti kemungkinan mereka akan berhubungan jarak jauh. Dina sudah memutuskan untuk kuliah di kota 'J' yang jarak dari rumah ke kota tersebut kira-kira dua jam perjalanan.


Setelah satu jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di hutan wisata yang terletak di batas kota sebelah. Dendy memarkirkan motornya di tempat parkir yang sudah disediakan oleh pengelola hutan wisata tersebut.


Setelah memarkirkan motor miliknya, Dendy dan Dina berjalan ke tempat loket penjualan tiket masuk area hutan wisata tersebut. Setelah membeli tiket masuk mereka berdua berjalan masuk ke dalam hutan wisata itu.


Dendy mengajak ke tempat dimana terdapat gazebo-gazebo yang biasa digunakan pengunjung untuk beristirahat sambil makan atau hanya sekedar melihat-lihat aktivitas pengunjung lain.


Dendy memesan dua es kelapa muda satu untuk Dina dan satu lagi untuknya. Kemudian ia membawanya ke gazebo yang terletak paling ujung karena hanya itu yang masih kosong.


Dendy meletakkan es kelapa muda itu di lantai gazebo dan menyuruh Dina naik dan duduk di situ. Setelah Dina duduk ia 'pun ikut naik dan duduk di sebelah Dina.


Dendy bingung dari mana ia harus memulai bicara. Ia ingin menanyakan semua yang selama ini ia pikirkan, tapi ia bingung bagaimana caranya bertanya tanpa membuat Dina tidak nyaman.


"sekarang kamu mau bicara apa Den?" Tanya Dina sambil menatap Dendy


"hmmm...." Dendy menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"kemarin ujiannya bagaimana? Lancar? " tanya Dendy menahan gugupnya


"lancar..." jawab Dina datar


"oh... " Dendy kembali terdiam, masih memikirkan bagaimana caranya bertanya tentang kejadian hari jumat sebelum Dina ujian akhir


"jauh-jauh ke sini hanya ingin bertanya masalah ujian?" tanya Dina datar


Dendy hanya menggeleng, tidak tahu harus menjawab apa.


"terus mau bicara tentang apa?"


"aku minta maaf Din" ucap Dendy tertunduk


"soal apa Den?" tanya Dina datar, sebenarnya ia sudah bisa menebak Dendy ingin menanyakan tentang apa, tapi ia hanya ingin menguji keberanian Dendy.


"soal aku yang sudah menduakan kamu" ucap Dendy lirih


"oh... Jadi kamu sudah punya pacar lagi" ucap Dina dengan nada sedikit meninggi

__ADS_1


"bukan...bukan...begitu maksud aku?" Dendy masih belum berani menatap wajah Dina


"terus apa maksud kamu menduakan aku?" tanya Dina ketus


Dendy diam, tidak tahu dari mana menjelaskan semua yang ada di benaknya.


"kalau mau biacara, bicaralah....mungkin ini terakhir kalinya kita bisa pergi sejauh ini" ucap Dina


"hah...?" Dendy terkejut, matanya membola menatap Dina, mendengar ucpan Dina dia jadi berpikir bahwa Dina akan memutuskannya.


"maksud kamu Din?" Dendy benar-benar ketakutan Dina akan memutuskannya


"kamu bicara dulu apa yang ingin kamu bicarakan, kamu yang mengajakku jauh-jauh ke sini untuk berbicara" ucap Dina datar


"aku kangen kamu Din" ucap Dendy lirih menatap Dina yang pandangannya menerawang jauh


"kangen?" tanya Dina sinis "kamu sendiri yang tidak datang menemuiku, kenapa sekarang kamu bilang kangen?"


"maafkan aku Din"


"tadi katanya menduakan aku, sekarang bilang kangen sebenarnya kamu mau bicara apa, aku tidak mengerti apa maksud kamu" ucap Dina sambil melirik Dendy yang menunduk di sebelahnya


"maafkan aku Din, aku akui salah telah mencari pelarian waktu kamu sibuk belajar" ucap Dendy sendu


"pelarian?" Dina terkekeh


"aku sengaja berhubungan lagi dengan mantanku, karena waktu itu aku kesepian, tidak ada kamu, kamu sulit dihubungi, ketika bertemu 'pun kamu sambil belajar, seolah-olah aku ini tidak ada" terang Dendy


"jadi kamu menyalahkan aku, karena aku yang terlalu sibuk mengejar cita-citaku kamu jadikan pembenaran untuk selingkuh?" Dina terkekeh


"sekarang kalau dibalik keadaannya bagaimana?" Dina menatap Dendy


"aku pasti akan marah dan kecewa" ucap Dendy lirih


"aku tahu, kamu marah waktu aku pergi dengan Widi, makanya kamu datang menemui aku"


"dari mana kamu tahu Din?" Dendy menatap Dina dengan raut heran


"Dendy....Dendy.... Tidak usah aku ceritakan bagaimana aku tahu" Dina berucap dengan senyum sinisnya "yang perlu kamu tahu, aku punya perasaan kuat, terkadang aku bisa tahu kamu ada dimana tanpa ada orang bercerita kepadaku"

__ADS_1


"hah...?" Dendy terkejut, ia berpikir kalau Dina memiliki kemampuan melihat sesuatu yang belum terjadi. Padahal bukan itu, seseorang yang menyayangi dengan tulus terkadang bisa merasakan apa yang terjadi dengan orang yang disayanginya.


"jujur waktu hari jumat itu, aku sempat membaca tulisan-tulisan kamu entah kapan kamu menulisnya aku tidak tahu, dan ada surat-surat yang di situ hanya ada inisal nama, saat membaca itu aku tidak terlalu memikirkannya, tapi ketika aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kamu boncengan mesra entah dengan siapa aku tidak tahu aku merasa telah dibohongi selama ini" terang Dina


"maafkan aku Din, aku hanya memanfaatkan mantan pacarku itu untuk mengisi kekosongan di saat aku tidak bisa menemui kamu" ucap Dendy mengiba


"sekarang kamu meminta maaf, dan berharap aku bisa memaafkan penghianatanmu begitu?" Dina tersenyum getir


"kamu sendiri yang telah berjanji bahwa kamu beda dengan mantan-mantanku, sekarang buktinya apa, kamu tidak lebih baik dari mereka"


"Din, aku benar-benar minta maaf, tolong katakan aku harus bagaimana agar bisa menebus kesalahanku?" Dendy mengiba, menyadari bahwa dia benar-benar bersalah telah menduakan Dina, meskipun dia hanya memanfaatkan mantannya itu hanya sekedar menjadi teman pembunuh sepinya. Dendy sama sekali tidak memilik perasaan terhadap Nia.


"kalau aku minta kita putus bagaimana?"


"jangan Din....aku mohon jangan putuskan hubungan kita ini" Dendy menggenggam tangan Dina, air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya. Sungguh-sungguh ia menyesal apa yang telah ia perbuat. Dia berkata dalam hatinya, apapun akan ia lakukan asal Dina tidak memutuskan hubungan mereka.


"aku baru berboncengan dengan Widi saja kamu sudah marah, padahal aku pergi dengan dia juga karena memang ada yang harus aku kerjakan dengan dia" ucap Dina sinis.


Dina tidak bermaksud memutuskan hubungan mereka. Dia hanya ingin memberikan peringatan kepada Dendy, setiap perbuatan ada resikonya. Dendy yang sudah berani mencari pelarian makan ia juga harus bersiap menerima segala konsekwensinya, termasuk diputuskan oleh Dina.


.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


.


Dukung terus karya ini ya bestie


Please like , vote dan komennya


Terima kasih sekebon bestie 😘😘

__ADS_1


__ADS_2