
Dina berada di akhir semester satu, seminggu lagi ijian akhir semester akan dilaksanakan. Semakin lama Dina berkuliah, ia semakin goyah akan tujuannya. Dina mulai menikmati aktivitas kesehariannya, meski berkuliah bukan di jurusan yang selama ini ia impikan.
Dina bingung, tinggal satu semester lagi baginya untuk memantapkan langkah yang harus ia tempuh. Ia akan tetap berkuliah di universitas A ataukah ia mengulang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri dan mengambil jurusan kedokteran.
Beban dalam pikirannya yang tidak mungkin ada orang yang bisa membantunya memecahkan kebimbangan. Hanya dirinyalah yang bisa memutuskan, bukan orang lain.
Di awal berkuliah ia merasa sangat yakin jika tahun depan ia harus mengikuti tes lagi. Hampir satu semester ia berkuliah di jurusan itu, dan Dina menikmatinya, ternyata mengasyikkan juga jurusan yang ia ambil pikirnya.
Apalagi memiliki teman-teman yang baik yang selalu membuatnya tidak merasa terbebani waktu kuliah di jurusan yang sama sekali bukan keinginanya.
Berta dan Caca, adalah teman baiknya. Mereka bertiga selalu belajar bersama jika ada materi yang tidak mereka mengerti. Sebelum kejadian Dina menolak Bimo, mereka merasa terbantu dengan adanya Bimo.
Tapi sejak saat itu, Bimo tak lagi menampakkan dirinya di depan Dina. Bagi Berta dan Caca yang kemampuannya di bawah Dina merasa sangat sangat membutuhkan kehadiran Bimo di saat-saat menjelang ujian seperti ini.
"Din...kak Bimo kemana? Kenapa sudah lama tak terlihat?" tanya Berta
"entah...aku tidak tahu" Dina mengedikkan bahunya
"terus yang mengajari kita belajar siapa dong?" ucap Caca dengan wajah sedihnya
"kita bisa belajar bersama-sama..." jawab Dina tersenyum tipis.
"tapi beda Din..." Berta mnegerucutkan bibirnya.
Mereka bertiga keluar dari kantin dan akan mengikuti kuliah selanjutnya.
"Din...." sapa seseorang ketika Dina hendak naik tangga menuju ruang kuliahnya
Dina menoleh ke arah datangnya suara, Dina pun menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
"panjang umurnya..." gumam Caca yang masih didengar oleh Dina
"mau kuliah?" tanya seseorang itu dengan senyum mengembang
"iya.." jawan Dina tersenyum tipis
Dina memperhatikan penampilang orang yang menyapanya. Terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya pun dibiarkan panjang, dan bulu-bulu tipis di wajahnya pun sepertinya sengaja ia biarkan.
"Bim..." panggil seseorang dari belakang cowok itu, kemudian menggandeng lengannya
"aku naik dulu mas" ucap Dina tersenyum tipis
"iya..." jawab Bimo
Dina melewati Bimo dan cewek yang memanggil Bimo tadi adalah Riri. Riri tersenyum mengejek sambil memegang lengan Bimo. Sedangkan Dina hanya tersenyum menanggapinya.
"itu kak Bimo kenapa jadi begitu ya penampilannya?" ucap Berta
"iya...padahal ada Riri harusnya kan dia mengurusnya dengan baik" Caca terkekeh
"sudah tak perlu dibicarakan lagi..." ucap Dina datar memasuki ruang kelas kuliahnya.
__ADS_1
Sore harinya Dina sedang berada di lantai dua, bercanda dengan Tere dan yang lainnya. Sejak hari dimana Bimo melamarnya Dina lebih sering menghabiskan waktu di kosnya bersama teman-teman kosnya.
"Din...kamar yang paling ujung dekat jemuran sepertinya bakal kosong, kamu pindah atas saja..." ucap Tere
"memangnya penghuni lamanya kemana kak?" tanya Dina sambil memakan keripik
"entah sejak awal tahun aku belum pernah bertemu orangnya, sepertinya kamarnya cuma dia isi barang-barangnya saja" ucap Tere
"iya kak...sepertinya begitu, aku sama sekali belum pernah bertemu penghuninya" Tia menimpali
"kamu ke ibu kos saja Din...bilang mau pindah ke kamar atas" ucap Tere
"baik kak, besok pagi aku ke tempat ibu kos, tapi kalau pindah-pindah siapa yang bantu aku angkut-angkut barang?" ucap Dina
"tenang ada kita-kita... Kalau kurang orang besok minta tolong pacaranya Tia saja, dia kan paling rajin kalau diminta tolong" Tere terkekeh
Saat mereka asyik bercanda, bel kos Dina berbunyi. Reni yang selalu semangat jika ada yang memencet bel pun berjalan menuju balkon dan melihat dari atas siapa yang datang.
"Din....sepertinya cowok yang tempo hari..." ucap Reni
"dari mana kamu tahu Ren?" Dina berjalan ke arah balkon
"itu mobil yang terparkir di depan, aku hafal betul itu mobil dia" ucap Reni menunjuk mobil yang terparkir di seberang kos Dina
"cari siapa?" teriak Reni dari atas
"Dina....!" cowok yang memencet bel mundur dan melongok ke atas melihat ke arah balkon
"kan benar Din..." ucap Reni dengan binar matanya
Dina segera turun ke bawah dan membuka pintu kosnya. Terlihat Bimo yang mengembangkan senyumnya
"Din..." Bimo tersenyum lebar
"ada apa mas?" tanya Dina mengerutkan dahinya
Lama Bimo tak ada kabarnya, dan tidak pernah bertemu di kampus, sekarang tiba-tiba mendatangi kos Dina.
"hanya ingin mampir sebentar" ucap Bimo menyunggingkan senyumnya
"oh...di luar saja ya mas..."
"iya..." Bimo tersenyum tipis
"minggu depan ujian, sudah siap?" tanya Bimo
"siap atau tidak, harus siap kan mas?" Dina terkekeh
"ada materi yang tidak mengerti?"
Dina tersenyum "tidak mas..."
__ADS_1
"yakin tidak ada?"
"iya...yakin"
Dalam hati, Dina teringat teman-temannya yang menyebut Bimo seperti punya indra keenam. Di saat Dina membicarakan atau membutuhkan teman, Bimo tiba-tiba saja muncul.
"kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Bimo lembut
"ah...hanya ingat teman-temanku tadi siang" ucap Dina dengan senyum mengembang.
"aku tahu, teman-temanmu sedang bingung menghadapi ujian" Bimo terkekeh
"iya...mereka sepertinya tergantung pada mas " Dina pun juga terkekeh
"mau menemani aku?" tanya Bimo dengan suara tegasnya
"kemana?" Dina mengerutkan dahinya
"potong rambut" Bimo terkekeh
"aku kira, itu sengaja dibiarkan panjang begitu" Dina mengerucutkan bibirnya
"hahaha....tidak lah... Hanya belum sempat saja, banyak masalah yang harus aku selesaikan" Bimo tertawa lebar
"kalau pergi denganku nenek sihir tidak marah?" Dina masih mengerucutkan bibirnya
"tidak, kamu tenang saja..." ucap Bimo berubah nadanya. Ia tahu Dina tidak mau terkena masalah dengan Riri.
"ya sudah aku mandi dulu" ucap Dina beranjak dari duduknya
"tidak usah mandi kamu sudah cantik" ucap Bimo dengan tatapan penuh cinta
Dina tak menghiraukan ucapan Bimo. Ia masuk ke kamarnya dan mandi. Setengah jam kemudian, Dina sudah keluar dengan pakaian lebih feminim dari biasanya.
"tumben..." ucap Bimo terpukau
"aku tidak mau salah kostum lagi" Dina terkekeh
Mereka berdua berangkat ke salon langganan Bimo. Dina mau menemani Bimo karena ia merindukan Bimo. Dalam hati kecilnya ia merindukan kehadiran Bimo yang setiap hari selalu tak pernah absen datang ke kosnya.
Tapi Dina ingat batasan yang ia buat sendiri karena menjaga perasaannya sendiri dan juga agar Bimo tak terlalu berharap. Sesekali menemani Bimo tak apalah, sebentar lagi libur semester dan ia akan menghabiskan waktu berada di rumah.
Dan jika ia sudah berada di rumah Bimo tak berani mengganggunya. Bimo tidak berani menghdapi papanya Dina.
.
.
.
Mumpung hari senin, minta votenya dong bestie...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya ya
Terima kasih sekebon bestie