
Sore harinya jam empat lebih dua puluh menit Dina sudah sampai di rumah. Dina bergegas mandi dan ingin beristirahat sebentar, mumpung di rumah sedang sepi, kedua orang tuanya dan adik-adiknya pergi ke rumah saudaranya yang berada di kota sebelah.
Setelah selesai mandi, Dina memastikan semua pintu dan jendela sudah terkunci. Dina masuk ke kamarnya dan menyalakan radio dan merebahkan diri di atas kasur. Dina mendengarkan stasiun radio favoritnya, mendengarkan lagu-lagu favoritnya diperdengarkan di radio.
Tiba-tiba telepon rumahnya berdering. Dina enggan berjalan keluar, jadi dibiarkan saja telelponnya berdering. Dina merasa paling teman papa atau mamanya yang menelpon. Tak lama teleponnya berhenti berdering. Tapi tak lama kemudian teleponnya berdering kembali. Mau tidak mau Dina keluar kamar dan mengangkat teleponnya.
"Halo selamat sore"
^^^^^^☎️Selamat Sore, bisa bicara dengan Dina?^^^^^^
"iya saya sendiri, ini dari siapa ya?"
^^^☎️ ini aku Din, Dendy^^^
"iya..kenapa Den?"
^^^☎️ cuma mau tanya kabar saja, lama tidak bertemu^^^
"oh..aku baik Den"
hening...tak ada yang berkata apapun lagi
"Den, masih ada perlu apa?"
^^^☎️ Din, kalau besok kita keluar jalan-jalan bagaimana?^^^
"besok ya?"
^^^☎️ iya, besok hari jumat kamu tidak ada jam sore kan?^^^
"aku ada les jam satu dan jam tiga Den"
^^^☎️ Les dimana Din?^^^
"Di sekolah les matematika sama Fisika"
^^^☎️ besok jam sebelas aku jemput di sekolah ya?^^^
"iya"
^^^☎️ Terima kasih Din^^^
"iya"
__ADS_1
Dina menutup teleponnya. Entah kenapa Dina merasa ada yang tidak biasa. Dina merasakan ada sesuatu dalam hatinya, merasa senang saat mendengar suara Dendy.
'Kenapa aku seperti ini, merasa senang mendengar suaranya, padahal tadi siang aku tidak peduli dengan apa yang dibicarakan oleh Gilang. Apa aku mulai suka sama Dendy. Tapi saat sama Toni aku juga nyaman-nyaman saja dan jujur masih suka sama dia, tapi aku juga msh takut, ah...entahlah... biar waktu yang menjawabnya'
Di tempat lain, di rumahnya Dendy semua teman-temannya sedang berkumpul di teras rumahnya dengan menikmati kacang rebus dan es sirup.
"bagaimana Den?" tanya Krisna dengan wajah penasaran
"sipp...beres..." ucap Dendy dengan wajah bahagianya
"apa juga aku bilang... aku tidak yakin kalau Dina kembali lagi sama mantannya" ucap Krisna sambil mengupas kacang rebus
"tadi waktu di perpustakaan waktu aku bilang kamu tidak keluar kamar dari kemarin Dina biasa saja, malah agak ketus ngomongnya" ucap Gilang
"Kalian ini sedang bahas apa sih?" celetuk Adi dengan wajah polosnya
Sontak semua yang ada di teras melempari Adi dengan kulit kacang, bekas kacang tanah yang mereka makan waktu menunggu Dendy menelpon Dina.
"itu lho....cewek incaran Dendy" ucap Krisna
"oh...yang mana ya ceweknya..." ucap Adi yang memang agak sedikit lambat merespon cerita-cerita mereka semua
"asyik....aku dikenalkan sama cewek, lumayan... buat teman jalan" ucap Adi senyum-senyum sendiri
"ya ampun Adi... itu ceweknya Dendy.... " ucap Krisna gemas dengan tingkah laku adi
"ya...mungkin saja Dina tidak mau sama Dendy, aku siap menampungnya" ucap Adi beranjak dari duduknya dan menepuk-nepuk dadanya
"dikira Dina itu barang.... aku juga mau sama Dina sudah lama suka sama Dia" Krisna keceplosan "eh..." Krisna mengatupkan mulutnya dan menutupnya dengan kedua telapak tangannya
Dendy membuka matanya lebar-lebar menahan emosi mendengar teman baiknya ternyata juga menyukai Dina
"Sudah....sudah...jangan ribut... sekarang bagaimana caranya Dendy dan Dina bisa pacaran" ucap Gilang
"ya...semua tergantung Dendy lah... bagaimana pendekatannya, mau sebesar apapun bantuan kita, kalau Dendy tidak maju-maju ya percuma" ucap Adi
"tumben kamu pintar Di.."ucap Gilang menepuk-nepuk bahu Adi
"Dari dulu aku sudah pintar, kalian saja yang tidak pernah sadar" ucap Adi membanggakan dirinya.
Keesokan harinya Dina bangun lebih siang dari biasanya, Dina merasa malas berangkat ke sekolah, Dina masih teringat kejadian kemarin waktu dia sedang bersama Toni di depan kelasnya Toni. Dina merasa malas menanggapi ucapan-ucapan teman-temannya yang sebagian besar mengenal Toni dengan baik.
__ADS_1
Apalagi hari ini jadwal pelajaran olah raga kelasnya berbarengan dengan jadwal pelajaran olah raga kelas Toni. Pasti akan lebih heboh dari kemarin. Meskipun biasanya mereka berolahraga di tempat terpisah tapi tidak menutup kemungkinan mereka akan berada di lapangan yang sama.
Dina sudah sampai di sekolah, dia sudah memakai baju olah raganya dari rumah jadi lebih santai. Dina masuk ke kelasnya dan semua teman-temannya sepertinya sedang membicarakannya. Dina tidak mau ambil pusing, dia meletakkan tasnya di bangkunya dan keluar kelas lagi, tujuannya adalah ke kelasnya Ani.
Teman-teman Ani menghampiri Dina dan menanyakan kabar burung yang sedang beredar. Dina hanya menjawab "tanyakan pada orang yang sudah menyebarkan kabar itu"
Tapi mereka masih belum puas dengan jawaban Dina, mereka masih menggoda Dina dan bercanda, mungkin sedikit menyebalkan tapi Dina merasa terhibur dengan candaan-candaan mereka.
Ani yang baru datang pun langsung menghampiri Dina karena inigin memastikan apa yang telah dia dengar itu benar atau tidak.
"Din...pagi-pagi sudah di sini" ucap ani menghampiri Dina
"biasalah...sedang malas di kelas" uacap Dina
"jadi...." ucap Ani menaikturunkan alisnya
"apa?" ucap Dina
"tidak usah pura-pura tidak tahu maksudku" ucap ani masih berdiri masih memakai jaketnya dan menggendong tasnya
"oh...itu...tidak ada apa-apa An.... anak-anak saja yang terlalu melebih-lebihkan" ucap Dian
"aku tidak percaya ... " Ani mencebik sedangkan Dina mengangkat bahunya acuh
"terserah kamu An..." Dina mencebik "sudah bel.. aku ke kelas dulu, kalau kamu masih penasaran tanya saja sama Toni...itu orangnya" ucap Dina sambil mengarahkan tatapannya ke arah Toni yang sedang berdiri di depan kelasnya
Jam pelajaran olah raga dimulai, kekawatiran Dina akhirnya terjawab. Guru olah raga kelasnya Toni tidak masuk jadi guru olah raga kelas Dina harus mengajar di kelas Toni juga. Guru olah raga kelasnya Dina memutuskan menggabungkan kelasnya Dina dan kelasnya Toni.
Toni sengaja mendekati Dina dan berbaris di sebelah Dina untuk melakukan senam pemanasan sebelum olah raga. Dina hanya acuh tidak terlalu menanggapi Toni.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
*Terima kasih bestie... yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel receh ini dukung othor terus ya...tolong like comment vote kirim bunga, kopi atau yang lainnya Dan pencet tombol favorit tentunya.
Terima kasih sekebon bestie
__ADS_1