Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 98


__ADS_3

Dina tak lagi merasa canggung dengan mama Tari. Ia merasa diperlakukan seperti anak sendiri oleh mamanya Dendy. Dina benar-benar merasa nyaman dan menganggap mama Tari sebagai ibu keduanya.


Baru kali ini Dina benar-benar diterima dan diperlakukan dengan baik oleh keluarga pacarnya. Sebelum-sebelumnya ia tidak terlalu mengenal keluarga mantan-mantannya dengan baik.


Dina dan mamanya Dendy asyik memasak sampai tidak tahu kalau adiknya Dendy sudah pulang. Mamanya Dendy meminta tolong ke Dina agar melanjutkan memasaknya sementara ia mengurus Rio yang baru pulang sekolah.


Ketika Dina sedang mengaduk-aduk kuah bakso Dina dikejutkan oleh seseorang. Tiba-tiba saja ada yang melingkarkan tangannya di pinggang Dina dan mencium pipinya. Dina tersentak kaget dan menoleh ternyata Dendy yang sudah memeluknya.


"kamu membuat aku kaget saja Den" ucap Dina kembali fokus menghadap kompor


"serius banget masaknya?" Dendy belum melepaskan pelukannya "calon istri idaman nih..." gumam Dendy yang masih terdengar oleh Dina


"apa Den..?" Dina menoleh ke arah Dendy


"ah...pacarku cantik banget kalau sedang memasak" kilah Dendy masih belum melepaskan pelukannya


"sudah....lepas...malu kalau tante melihat kita..." Dina mulai menepis tangan Dendy


"kenapa memangnya...mama kan juga pernah muda" Dendy terkekeh sambil melepaskan pelukannya


"aku malu Den..." Dina tersipu, dan dengan tiba-tiba Dendy mencium pipinya lagi, seketika Dina membulatkan matanya


"ehemmm....ehemmm...." mama Tari berjalan mendekati Dina


"eh...tante ini kuahnya sudah belum ya?" Dina berusaha menahan malunya mengalihkan pembicaraan


Ia merasa mamanya Dendy pasti sudah melihat Dendy menciumnya di dapur. Rasanya ingin menghilang saja dari dapur.


"sudah kamu cicipi belum?" tanya mama Dina mengambil sendok untuk mencicipi masakannya


"kalau yang masak Dina sudah pasti enak ma..." celetuk Dendy


"belum Tan... Tante saja yang mencicipi" Dina menggeser tubuhnya ke samping


"sudah...sudah enak Din...terima kasih sudah bantu tante" mamanya Dendy tersenyum


"iya sama-sama tante" ucap Dina sambil mencuci tangannya


"kamu kenapa jam segini sudah ada di rumah?!" tanya mama Tari menatap ke arah Dendy "sudah sana ganti baju dulu.."


"iya...iya ma...tadi ada jam pelajaran kosong" jawab Dendy "bicara sama Dina lembut, sama anak sendiri ketus" Dendy berjalan keluar dari dapur sambil menggerutu.

__ADS_1


Mama Tari yang mendengar itu hanya geleng-geleng kepala. Anak sulungnya itu memang benar-benar membuatnya pusing. Lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah, dan kadang-kadang pulang malam.


Dina yang sudah mencuci tangannya kemudian membantu mamanya Dendy untuk menyusun piring di meja makan serta membawa hasil masakan mereka ke meja makan.


Tak lama setelah Dina selesai meletakkan makanan di meja makan Dendy dan Rio turun dan berjalan menuju makan. Dendy duduk bersebelahan dengan Rio sedang Dina berada di sebelah mamanya Dendy. Mama Tari dengan telaten mengambilkan nasi untuk Dendy dan Rio.


Dina memperhatikan mama Tari yang dari tadi sibuk mengambilkan nasi serta lauk untuk kedua anaknya.


"ma....sambelnya mana?" tanya Dendy


"eh...iya aku lupa, aku ambil di dapur dulu ya.." Dina beranjak dari tempat duduknya.


Dina merasa tidak enak, karena tadi dia dimintai tolong untuk membawa semua makanan ke meja makan dan ternyata dia lupa kalau sambalnya belum ia bawa.


"Dina anaknya rajin juga, cepat belajar dan dia tidak takut kotor" ucap mama Tari memuji Dina


"iya ma...tempo hari kak Dina juga mau membereskan kamarnya kakak, padahal mama tahu sendiri kamar kakak seperti apa" Rio mencibir kakaknya


"memangnya kamar kamu tidak seperti kamarku? berantakan juga" Dendy mendengus


"sudah...sudah...ini di meja makan tidak usah bertengkar" ucap mama Tari melerai kedua anaknya yang selalu saja ribut.


"ini sambalnya..." Dina meletakkan mangkok sambal di meja makan


"kakak ini....aku sudah enak-enak duduk di sini disuruh pindah, kakak saja yang pindah..." protes Rio


"sudah...sudah....kamu pindah sini sama mama" mama Tari menengahi daripada perdebatan tak kunjung selesai


Dina yang dari tadi sama sekali belum mengambil makan hanya bisa pasrah daripad berdebat di meja makan lebih baik dia pindah saja toh dia hanya tamu di rumah Dendy.


"ayo Din...kamu makan yang banyak" ucap mama Tari


"baik tante..." Dina mulai mengambil nasi serta lauk.


Dendy menuang bakso ke dalam mangkok kecil dan memberikannya ke Dina


Mereka makan dalam diam, hanya Dendy dan Rio yang kadang-kadang masih saling mencibir di meja makan. Dina hanya menjadi pendengar setia perdebatan kakak beradik itu.


Setelah semua selesai makan, Dina dengan cekatan membereskan piring-piring kotor dan membawanya ke tempat cuci piring. Mama Tari sebenarnya sudah melarangnya, tapi Dina tidak enak hati dan akhirnya Dina tetap mencuci piringnya.


Dendy menemani Dina mencuci piring di dapur. Sebenarnya ia ingin membantu Dina tapi Dina melarangnya dengan alasan malah tidak akan cepat selesai kalau Dendy membantunya.

__ADS_1


"kita ini sudah seperti main rumah-rumahan ya Din..." Dendy terkekeh


"maksudnya?" ucap Dina masih sambil mencuci piring


"kamu masak aku yang makan hasil masakan kamu, terus kamu cuci piring aku menemani kamu" ucap Dendy


"ini bukan bermain Den...ini serius aku masak dan cuci piring" Dina mencuci tangannya karena sudah selesai mencuci piring


"hari ini aku senang Din, kamu bisa akrab dengan mamaku, mamaku itu jarang bisa dekat dengan teman-temanku" ucap Dendy


"kamu terlalu berlebihan, mama kamu orangnya ramah dan baik siapa saja pasti menyukainya" ucap Dina berdiri bersandar di meja dapur


"tapi dengan kamu berbeda Din...aku jadi makin cinta..." ucap Dendy dengan mata berbinar


Dina menyudahi obrolan mereka di dapur karena merasa tidak enak hati dengan mamanya Dendy karena berlama-lama di dapur berduaan dengan Dendy. Dina berjalan ke depan ke ruang keluarga, tapi rumah dalam keadaan sepi. Padah sebelum ia mencuci piring tadi masih mendengar mamanya Dendy berbicara dengn Rio


"kok sepi Den...?"


"jam segini biasanya mama tidur dengan Rio di atas"ucap Dendy


"oh...kalau begitu aku pulang dulu ya Den..."


"nanti saja Din pulangnya...aku masih kangen...." ucap Dendy


"perasaan baru kemarin kita bertemu" Dina mencebik


Akhirnya mau tidak mau Dina menuruti keinginan Dendy untuk lebih lama lagi di rumah Dendy. Mereka berdua berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa.


"sini Din...kamu tiduran saja kamu pasti capek tadi sudah membantu mama memasak" ucap Dendy


Dina pun merebahkan tubuhnya dan menggunakan paha Dendy sebagai bantal. Dina tidur meringkuk menyamping karena kalau tidur terlentang sofanya kurang cukup panjang.


.


.


.


B E R S A M B U N G


Dukung terus karya ini ya bestie...

__ADS_1


Please like...vote...dan komennya ya...


Terima kasih sekebon bestie


__ADS_2