
Setelah menemani Dina makan malam, Dendy pulang. Dari kos Dina ia berangkat pukul tujuh malam lebih tiga puluh menit. Perasaannya semakin tak menentu.
Ia merasa bimbang, antara melanjutkan rencananya atau seperti keinginan papanya. Di satu sisi ia tahu resiko apa yang harus ia tanggung jika papanya mengetahui dia mendaftar di kampus yang sama dengan Dina.
Di satu sisi ia senang, akhirnya bisa berdekatan dengan Dina lagi setelah setahun mereka terpisah jarak. Kali ini tak ada seorang pun yang bisa membantunya, mamanya pun juga tak bisa membantunya.
Dendy bingung kenapa papanya tiba-tiba tak menyukai Dina. Padahal di awal hubungan mereka, papanya yang paling mendukung Dendy karena melihat perubahan Dendy yang begitu besar karena kehadiran Dina.
Pukul sepuluh malam Dendy sampai di rumahnya. Papanya sudah menunggunya di ruang keluarga dengan tatapan penuh amarah.
"dari mana saja kamu?!" suara papanya Dendy menggelegar di seluruh ruangan
"dari rumah teman..." ucap Dendy sambil berlalu meninggalkan papanya yang marah besar.
Bukannya Dendy tak menghormati orang tuanya, tapi karena masalah yang Dendy tak tahu penyebabnya membuat ia menjadi semakin jauh dari keluarganya. Andaikan papanya memberikan alasan yang masuk akal Dendy pasti akan mencari cara untuk memperbaikinya.
Hari-hari berlalu, baik Dendy maupun Dina sibuk menghadapi ujian masing-masing. Dina disibukkan dengan tugas-tugas kuliah menjelang ujian akhir semester, sedangkan Dendy disibukkan persiapan ujian akhir penentu kelulusannya.
Komunikasi mereka semakin baik, Dendy setiap malam menyempatkan menelepon kos Dina. Bahkan di siang hari mereka sering bertukar pesan singkat.
Suasana di rumah Dendy kembali seperti semula, tak ada larangan apapun dari papanya. Hal yang aneh menurut Dendy, tapi Dendy mencoba berpikiran positif, bahwa papanya sudah tak melarangnya lagi untuk kuliah di kampus yang sama dengan Dina.
Sebulan berlalu dari terakhir kalinya Dendy datang ke kos Dina. Seperti biasa Dina pulang satu minggu sekali. Ia kembali sering mengunjungi rumah Dendy. Tapi Dina sudah tak pernah bertemu mama atau papanya Dendy.
Yang ada hanya Dendy atau adiknya saja. Dina selalu mengajak Dendy keluar, tapi selalu ditolak oleh Dendy dengan alasan ia capek karena ia sering pulang sore untuk les tambahan.
Dina percaya saja, karena Dina selalu mempercayai Dendy. Ia tak pernah mencurigai Dendy, karena selama ini Dina tak pernah mendapati sesuatu yang aneh karena komunikasi mereka lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
"Yang....sabtu besok aku tidak bisa pulang, kak Tere ulang tahun mau ada syukuran di kos" ucap Dina dengan nada sedih
"iya...tidak apa-apa" ucap Dendy menyunggingkan senyumnya.
Dendy senang karena hari sabtu besok sebenarnya dia tes masuk di kampus Dina. Ia bingung bagaimana harus mencari alasan jika Dina datang ke rumah, tapi ternyata Dina tak pulang.
"aku akan memberinya kejutan, aku akan mendatangi kosnya setelah selesai tes" batin Dendy
"kamu tidak marah?"
__ADS_1
"buat apa aku marah, asal kamu jujur padaku aku tidak akan marah" ucap Dendy lembut
"aaa....aku makin sayang..." Dina memeluk Dendy dengan perasaan bahagia.
"besok kamu mau diantar ke terminal jam berapa?"
"siang ya....sekitar jam sebelas" ucap Dina sedih
"tumben balik siang-siang" Dendy heran
"iya...aku ada tugas kelompok, kelompokku isinya kakak tingkat semua pula, hanya aku dan Ratna yang semester dua" Dina menghela nafasnya karena ia harus satu kelompok bersama Bimo setelah lama mereka tak berinteraksi
Ia terpaksa satu kelompok dengan Bimo, karena semua sudah punya kelompok masing-masing, tinggal dirinya, Ratna, Bimo dan Vito yang belum punya kelompok.
"baiklah...pagi-pagi aku datang ke rumahmu" ucap Dendy mengusap puncak kepala Dina.
"rasanya ingin sekali aku libu kamu juga libur jadi kita bisa jalan-jalan ke pantai atau ke puncak, sudah lama aku tidak ke puncak"
"iya...nanti ada saatnya kita bisa berlibur berdua, menghabiskan waktu berdua saja, mungkin kita bisa menginap berdua di puncak" hibur Dendy
"tapi itu kapan....dan untuk masalah menginap, aku tidak bisa kecuali aku berada di kos, mau menginap atau tak pulang tidak ada yang tahu" Dina terkekeh
"biarin...." Dina mengerucutkan bibirnya.
.
Dendy menepati janjinya untuk datang pagi-pagi ke rumah Dina. Ia tahu pagi hari di hari minggu Dina pasti sibuk membantu mamanya membereskan rumah.
Meski ia tahu di rumah Dina ia akan kesepian, ia tetap berada di sana, selama ini Dina selalu di rumahnya ketika dirinya belum pulang sekolah dan selalu membantu mamanya untuk memasak atau menemai adiknya bermain.
Dendy ingin merasakan apa yang Dina rasakan selama ini ketika menunggu dirinya. Ia sungguh menikmati suasana rumah Dina yang asri di pagi hari.
"aku menyapu halaman dulu ya...kamu tunggu di sini" ucap Dina menyunggingkan senyumnya
"aku bantu ya..." Dendy mengambil sapu yang terletak di dekat teras
"kamu tamu...tidak usah membantuku" ucap Dina merebut sapu yang dipegang Dendy
__ADS_1
"aku bantu sayang....biar cepat selesai" Dendy mengambil sapu dari tangan Dina
Dina akhirnya mengalah ia malas berdebat di rumahnya. Untung saja papanya tidak ada di rumah, jika ada pasti sudah mendapat tatapan tajam dari papanya.
Setengah jam berlalu, mereka berdua telah menyelesaikan tugas mereka. Halaman depan, kebun di samping rumah telah selesai mereka sapu.
"Din....ayo sarapan dulu, sekalian Dendy diajak" teriak mamanya Dina dari ambang pintu
"saya sudah sarapan tante...terima kasih" ucap Dendy sopan
"ayo...kamu belum pernah makan di rumahku kan?" bisik Dina
"tapi aku tidak enak dengan mama papamu Din..."
"aku dulu juga begitu...tapi lama kelamaan aku jadi terbiasa..." Dina terkekeh
"ayo Din...Dendy diajak masuk" ucap mamanya Dina kemudian meninggalkan mereka berdua
"ayo....apa salahnya menyenangkan hati calon mertua" Dina terkekeh kemudian meninggalkan Dendy terpaku di halaman
"eh...iya..." Dendy mengejar Dina masuk ke dalam rumah.
Ini kali kedua Dendy masuk ke dalam rumah Dina, tapi kali ini ada mamanya yang sudah memasak makanan untuk mereka.
"ayo Den...jangan malu-malu...kalian makan berdua, tante mau menyuapi adiknya Dina, kalau sudah menonton tv lupa segalanya" mamanya Dina meninggalkan Dina dan dendy di meja makan.
Mereka berdua mulai maakan, Dendy sangat menikmati makanannya. Dan menurutnya masakan mamanya Dina sama enaknya dengan masakan Dina.
"Pantas saja kamu pintar memasak, mama kamu saja masakannya seenak ini" puji Dendy
"masakan tante Tari juga enak..." ucap Dina
Mereka berdua menghabiskan makanan mereka, kemudian Dendy membantu Dina mencuci piringnya, seperti yang selama ini selalu ia lakukan jika Dina ke rumahnya.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g