Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 59


__ADS_3

Keesokan harinya semua beraktivitas seperti biasa. Dina dengan rutinitas seperti biasa. Datang ke sekolah pagi-pagi, sesampainya di sekolah memilih duduk-duduk di taman depan kelasnya sambil membaca buku pelajaran.


Ada sedikit yang berbeda yaitu tentang Yuni. Yuni menjadi datang lebih pagi dan sikapnya lebih baik ke Dina. Saat pelajaran berlangsung pun juga ia tidak lagi pindah tempat duduk. Biasanya dia akan berpindah tempat duduk ketika pelajaran dimulai.


Dia duduk dengan siapa tergantung mata pelajaran apa yang sedang berlangsung. Tapi kali ini dia bisa duduk dengan tenang bersama Dina. Bahkan ketika ada tugas berkelompok Yuni masih setia dengan Dina.


Tak terasa istirahat pergantian jam sore telah tiba. Dina keluar kelasnya ingin pergi ke rumah budenya yang terletak tidak jauh dari sekolah yang kebetulan juga bertetangga dengan Toni. Dina memilih untuk jalan kaki entah kenapa dia baru ingin sedikit terlambat masuk kelas nanti.


Dina keluar gerbang sekolah, berjalan meyusuri trotoar. Dia merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Dan benar ketika dia menengok ke belakang tampaklah Dendy yang sedang mengendari motor pelan-pelan mengekorinya dari belakang.


"kamu mau kemana Din?" tanya Dendy mendekat ke arah Dina


"mau ke rumah budeku Den, aku sedang malas istirahat di kantin" jawab Dina


"ikut saja yuk..."


"kemana?" Dina mengerutkan dahinya


"terserah kamu mau aku antar ke tempat budemu atau ikut aku" ucap Dendy lembut dengan sorot mata teduh


"aku ikut kamu saja" ucap Dina tersenyum


" ambil helm kamu ya" ucap Dendy sambil menepuk-nepuk jok belakangnya


Dina naik ke boncengannya motor Dendy kembali ke sekolah untuk mengambil helmnya padahal dia baru berjalan sepuluh meter dari gerbang sekolahnya, tapi Dendy tidak membiarkannya jalan kaki.


Dina mengambil helmnya dan kembali keluar gerbang menghampiri Dendy. Di situ dia kaget sduah ada Krisna, Gilang dan satu temannya lagi yang Dina belum kenal.


"Kita mau kemana Den? Kok ada mereka?" tanya Dina lirih sambil naik ke bocengan motornya Dendy.


"kenapa kamu enggak mau ada mereka?"


"bukan begitu, aku kira kita cuma berdua "


"mau makan di restoran yang dekat taman kota" ucap Dendy menyalakan motornya "pegangan Din " lanjutnya sambil menarik tangan kanan Dina dan melingkarkannya di pinggangnya.


Mereka berlima naik motor beriringan menuju restoran yang ada di dekat taman kota. Tidak ada pembicaraan di antara Dendy dan Dina hingga mereka telah sampai di restoran yang ada di dekat taman kota.


Dina turun dan membuka helmnya begitu juga dengan Dendy. Mereka berjalan masuk ke dalam resto meninggalkan Gilang dan teman-teman yang mengikutinya.

__ADS_1


"yang sedang jatuh cinta ini ya...tidak menganggap temannya di belakang mengikutinya" ucap Krisna agak sedikit kencang dengan nada menyindir "Dunia serasa milik berdua" lanjutnya


Dendy tidak menghiraukan karena dia sudah biasa dengan tabiat Krisna yang kadang asal bicara berbeda dengan Dina, dia tersipu malu dan lebih memilih diam dan menunduk.


Dendy menarik kursi untuk Dina duduk, sedang ketiga orang yang mengikuti mereka kompak mencebik, mereka merasa itu terlalu berlebihan. Mereka bertiga duduk di kursi yang berhadapan dengan Dendy dan Dina.


"eh...kita belum kenalan ya..." ucap Adi mengulurkan tangannya ke Dina


"Dina" dengan senyum manisnya mengulurkan tangannya ke Adi membalas jabat tangannya


"aku Adi" wajah adi sungguh sumringah "jadi ini yang selama berbulan-bulan jadi topik pembahasan, sampai-sampai aku bingung yang dimaksud itu siapa, setiap aku tanya mereka jawabnya selalu nanti ada saatnnya berkenalan" cerocos Adi


"sudah! lepas itu tangannya Dina" ucap Dendy ketus


"ya ampun Den.. Cuma begini saja marah, aku enggak akan bawa lari Dina " Adi mencebik


"ya tetep saja...Dina itu pacarku "ucap Dendy ketus


"sudah....sudah...lepasin Di, daripada ribut di sini enggak jadi makan" ucap Gilang menengahi


"belum jadi pacar saja sudah uring-uringan waktu lihat Dina boncengan sama cowok lain" ucap Krisna


Seketika mata Dina membulat menatap Dendy seolah-olah meminta penjelasan


"sudah...ini jadi makan tidak?" Gilang mulai kehilangan kesabaran


"sudah cepat kalian mau pesan apa? kalau tidak bayar sendiri-sendiri" ucap Dendy kesal


Dina sejak tadi hanya memperhatikan mereka yang berdebat karena masalah sepele. Hanya soal berjabat tangan saja ribut.


"kamu pesan apa Din?" tanya Dendy lembut sedangkan ketiga orang yang duduk di depan mereka memutar bola matanya malas


"hmm....apa ya...." Dina membolak-balik buku menu yang dia baca "apa saja deh"


"mau yang mana sayang?" tanya Dendy menunjuk beberapa menu pilihan dia


"Dunia milik berdua yang lain ngontrak!!" ucap Krisna asal dengan suara lantang


"iri bilang... " Dendy mencebik

__ADS_1


"samakan punyamu saja Den, aku bingung milihnya kayaknya semuanya enak" ucap Dina pasrah


"apa mau pesan semua?" tanya Dendy lembut


"ya ampun perutku enggak bakal muat Den" ucap Dina memukul pelan lengan Dendy sedang yang dipukul hanya terkekeh


Akhirnya mereka memesan menu yang mereka sukai yang ada di restoran tersebut.


"Din, rumahmu dekat sama rumah saudaraku lho" ucap Adi


"oh..ya...?" ucap Dina sumringah


"iya itu di belakang minimarket dekat rumahmu itu" ucap Adi yang mendapat tatapan tajam dari Dendy


"oh... Yang punya banyak anjing itu ya?" Dina masih belum menyadari Dendy yang tidak suka dia terlalu akrab dengan temannya. Bukannya tidak suka tetapi dia cemburu melihat interaksi Dina dengan Adi


"kamu kenapa mau jadi pacarnya Dendy?" tanya Adi yang memang polos masih belum mengerti arti tatapan Dendy. Gilang dan Krisna yang sudah sejak tadi melihat ekspresi Dendy yang mulai terlihat kesal langsung membekap mulut Adi yang tidak bisa diam.


Dina hanya tertawa melihat tingkah konyol mereka, dia juga belum menyadari kalau Dendy sudah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Makanan yang mereka pesan sudah datang. Krisna dan Gilang yang sudah lapar sejak tadi tanpa aba-aba langsung memakan pesanan mereka. Dendy hanya geleng-geleng kepala kenapa kakak sepupunya itu mendadak jadi rakus seperti sudah berhari-hari tidak makan.


"kamu enggak makan Den? " tanya Dina melihat Dendy yang sedang menatapnya


"iya kamu makan dulu, atau aku suapin?" Tanya Dendy lembut


"aku bisa makan sendiri Den, aku bukan bayi" Dina mencebik


"mungkin saja kamu mau aku suapin" ucap Dendy dengan senyum mengembang.


Mereka berlima makan dalam diam tidak ada yang berbicara. Mereka hanya tidak mau jika mereka tidak jadi ditraktir Dendy yang sedang berbaik hati mentraktir mereka sebagai perayaan hari jadi Dendy dan Dina resmi berpacaran.


.


.


.


.

__ADS_1


.


B E R S A M B U N G


__ADS_2