Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 96


__ADS_3

Dendy masih memikirkan, kira-kira siapa yang memberi Dina sebuah gitar. Mendadak ia merasa cemburu dengan apa yang ada di pikirannya. Ya begitulah Dendy selalu menyimpulkan sendiri apa yang ia pikirkan, padahal Dina belum menjawabnya tapi ia sudah berpikiran macam-macam.


Dina yang melihat Dendy tiba-tiba melamun menjadi heran. Baru saja Dendy bercanda dengannya kenapa tiba-tiba terdiam.


"ada apa Den?" tanya Dina menepuk bahu Dendy


"tidak ada apa-apa Din, memangnya kamu tadi bicara apa?" tanya Dendy menatap Dina


"aku tidak bicara apa-apa" ucap Dina menarik tangannya dari bahu Dendy "kita tadi sedang membahas gitar, kamu malah tiba-tiba diam" lanjutnya


"oh..iya...memangnya siapa yang memberimu kado gitar Din?" pikiran Dendy berkecamuk memikirkan semua kemungkinan


"memangnya siapa lagi yang kasih aku gitar kalau bukan papaku" ucap Dina datar


"oh...papamu ya..." ucap Dendy menghembuskan nafasnya lega


Melihat Dendy membuang nafasnya dan terlihat sedikit lega, Dina tersenyum "memangnya apa yang kamu pikirkan? Mantanku yang kasih kado?" tanya Dina menggoda Dendy.


"ah...tidak...tidak memikirkan apa-apa" kilah Dendy


Dina tergelak " Dendy... Dendy... Memangnya kenapa kalau mantanku yang kasih kado? Kamu cemburu?"


"tidak boleh aku cemburu?" tanya Dendy mengerucutkan bibirnya


"kamu masih menyimpan surat-surat dari mantanmu saja aku tidak begitu marah" Dina mencebik


"aku belum sempat membuangnya Din..." kilah Dendy padahal ia memang masih menyimpannya bukannya belum sempat membuangnya


"terserah kamu Den.... yang jelas aku tidak mau diduakan" ucap Dina dengan sorot mata tajam


"iya...iya...besok aku buang semuanya"


Dina hanya diam saja. Meskipun ia merasa cemburu, tapi ia tidak mau terbakar api cemburu, ia ingin memberi kepercayaan kepada Dendy. Terlalu mencemburui pacar juga tidak baik pikirnya. Salah-salah pacarnya malah menjauh dan mencari kenyamanan dengan orang lain.


"selesai ujian, kamu di rumah saja Din?" tanya Dendy mengalihkan topik


"tidak, setiap hari aku ada di studio" ucap Dina


"kenapa tidak mampir ke rumah?" tanya Dendy


"aku mampir ke rumah kamu, nanti kamu malah pergi sama cewek lain" ucap Dina menyindir Dendy


"tidak Din... kalau kamu ke rumah aku pasti di rumah" Dendy meyakinkan Dina, takut Dina akan mendiamkannya lagi.


"yakin...kamu pasti di rumah?" Dina menggoda Dendy


"yakin Din...yakin..." ucap Dendy mantap menyakinkan Dina


"baiklah besok aku mampir ke rumah " ucap Dina


Tidak terasa matahari mulai condong ke arah barat. Dina mengajak Dendy untuk pulang. Dengan berat hati Dendy menuruti Dina, ia masih ingin berlama-lama menghabiskan waktu dengan Dina setelah dua minggu tidak bertemu dengan Dina.

__ADS_1


Dendy melajukan motornya dengan pelan, tak ingin waktu cepat berlalu. Dina memeluk Dendy erat dari belakang, ia sebenarnya masih merasa kecewa dengan Dendy, tapi rasa sayangnya ke Dendy melebihi rasa kecewanya. Dina memaafkan dan memberikan kesempatan lagi untuk Dendy.


Biarlah Dina dibilang bodoh, karena sudah memaafkan Dendy yang dengan sadar sudah menduakannya. Itulah Dina, selalu memaafkan meskipun ia berkali-kali dikecewakan.


Berdua dengan Dendy waktu terasa berlalu dengan cepat. Mereka sudah sampai di rumah Dina. Dendy memarkirkan motornya di halaman rumah Dina. Dina masuk ke dalam rumah meletakkan helm dan melepas jaketnya.


Dendy duduk di teras rumah Dina, menunggu Dina keluar dari rumahnya.


"kamu tidak dicari mamamu, pergi seharian seperti ini?" tanya Dina berjalan menghampiri Dendy yang duduk di teras rumah Dina


"tadi aku pamit mama ke sini" ucap Dendy


"oh...aku kira kamu tidak pamit" Dina duduk di sebelah Dendy


"besok kamu ke studio jam berapa?" tanya Dendy


"belum tahu, besok aku ada janji sama Anto dan Widi mau daftar les di jalan XX" ucap Dina


"sudah selesai ujian masih mau les Din?" tanya Dendy


"iya, persiapan tes masuk perguruan tinggi negeri" jawab Dina


"oh...jadi ambil kedokteran?" tanya Dendy


"jadi...aku mau ambil kedokteran dan ilmu kesehatan masyarakat" jawab Dina


"semoga lolos ya Din" ucap Dendy tersenyum, meskipun berat hati karena kalau Dina lolos pasti mereka akan berjauhan


"aku pulang dulu ya... Sudah sore " ucap Dendy


"iya hati-hati di jalan ya...salam buat mama" ucap Dina dengan senyum mengembang


"iya sayang...tolong pamitkan ke mama papamu ya " ucap Dendy menarik kedua sudut bibirnya ke atas


Dendy beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah motornya. Dendy memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya. Sebelum melajukan motornya Dendy melambaikan tangannya dan dibalas lambaian tangan oleh Dina.


Dina masuk ke dalam rumah, bertepatan denga telepon rumahnya yang berbunyi. Dina berjalan ke meja telepon dan mengangkat teleponnya. Ternyata Widi yang menelponnya dan memberitahukan kalau besok ada yang harus ia perbaiki di studio jadi mendaftar lesnya ditunda saja.


Setelah selesai menerima telepon, Dina bergegas mandi karena hari sudah sore dan badannya terasa lengket karena seharian tadi ia berada di luar rumah.


.


.


Dendy sampai di rumahnya menjelang petang. Dendy memarkirkan motornya di teras. Dendy masuk ke dalam rumah dan di ruang tengah depan televisi sudah ada papa, mama, adiknya serta Gilang yang duduk-duduk menonton tv.


"dari mana saja seharian?" tanya papanya Dendy


"pergi dengan Dina pa"


"sudah lama Dina tidak main ke sini" ucap mamanya Dendy

__ADS_1


"kak Dina marah sama kak Dendy ma..." ucap Rio mengadu ke mamanya


"marah...marah kenapa? Pantas saja saja sudah lama tidak kesini padahal sudah selesai ujian " ucap mama Tari


"itu ma.... Waktu kak Dina yang siang-siang itu... yang waktu mama pergi, kak Dina temani Rio di rumah sendiri sambil menunggu kak Dendy, tapi kak Dendy tidak pulang-pulang...ya kak Dina pulang karena sudah menunggu lama, eee.... Pulang-pulang kak Dendy bawa cewek" adu Rio


"Rio...!" Dendy menatap adiknya dengan tatapan tajam, Rio beringsut sembunyi di belakang punggung mamanya


"oh...jadi punya pacar dua?" papanya Dendy mengangguk-angguk sambil tersenyum


"siapa yang punya pacar dua...." gerutu Dendy sambil berjalan ke arah dapur


Sedangkan papa mamanya yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


.


.


Keesokan paginya Dendy sudah berpakaian rapi memakai seragamnya. Dendy sudah hendak berangkat Gilang menghampirinya.


"rabu aku masuk mau mengembalikan buku-buku, aku berangkat bareng kamu ya?"


"pagi mas?" tanya Dendy


"iya..."


"Dina juga masuk?" tanya Dendy


"iya semua anak-anak kelas tiga masuk mengembalikan buku" jawab Gilang


"lama tidak mas?" tanya Dendy


"mungkin....soalnya sebelumnya sepertinya ada pengarahan dulu di kelas masing-masing" jawab Gilang


"oh..baiklah...aku antar jemput kalau begitu " ucap Dendy menyalakan mesin motornya.


Dendy berangkat dengan hati gembira, semua masalah dengan Dina sudah bisa terselesaikan. Sekarang tinggal menyiapkan hatinya, karena kemungkinan setelah ini mereka harus berhubungan terpisah jarak dan waktu.


.


.


.


.


B E R S A M B U N G


dukung terus karya ini ya bestie


Please like, komen dan votenya ya...

__ADS_1


Terima kasih sekebon bestie


__ADS_2