Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 193 Haruskah berkorban?


__ADS_3

Pagi-pagi Dina dikejutkan oleh gedoran pintu kamarnya. Dengan mata masih sedikit terpejam Dina membuka pintu kamarnya.


"apa sih Ya?" ucap Dina sambil menguap


"ini jam berapa? Kamu tidak kuliah?" ucap Tia


"kuliah memang ini jam berapa?" ucap Dina yang masih belum sepenuhnya sadar


"baru jam setengah tujuh sih...tapi...." Tia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal


"tapi apa?" tanya Dina


"itu...." Tia menunjuk ke arah luar "dari aku bangun tadi jam enam, dia sudah di situ...katanya kamu sakit, dia telepon kamu bolak-balik tapi ponselmu mati" ucap Tia ragu


"oh...aku sudah lebih baik, meski masih sedikit pusing" ucap Dina "aku mandi dulu mau berangkat kuliah" Dina menutup pintunya kemudian mandi.


Lima belas menit kemudian ia sudah siap berangkat kuliah. Dina keluar dari kosnya berjalan kaki, namun baru beberapa langkah ada yang mencekal tangannya.


Dina kaget ia reflek menarik tangannya. Ternyata Bimo yang mencekal tangannya.


"aku kawatir, aku telepon kamu tapi ponselmu mati, sampai larut malam aku di sini tapi kamu tidak mau menemuiku, pagi-pagi aku sudah datang kamu abaikan" ucap Bimo dengan nada kawatir bercampus kesal


"aku baik-baik saja mas" ucap Dina datar


"ayo berangkat denganku, pagi ini kuliah kita sama kan?" ucap Bimo. Dina mengalah, jika ia menolak pasti akan ada perdebatan lagi dan mereka akan terlambat kuliah.


"mas...tolong jauhi aku...aku tidak mau peristiwa kemarin terulang lagi..." ucap Dina ketika di dalam mobil


"tapi kenapa Din...? Aku hanya ingin dekat denganmu tidak lebih"


"justru itu yang membuat aku takut...aku mohon mas...aku hanya ingin kuliah dengan tenang" ucap Dina dengan tatapan memohon


"baiklah...aku akan berusaha menjauh darimu, tapi jangan meminta aku mengabaikan kamu" ucap Bimo tercekat ia tahu Dina tak mau lagi berhubungan dengannya.


Sesampainya di kampus mereka berjalan sendiri-sendiri. Dina jalan lebih dulu dan Bimo beberapa meter di belakangnya. Dina masig trauma, ia tak mau dipermalukan lagi, meski itu bukan sepenuhnya kesalahan dia.


Bahkan saat di kelas pun duduk mereka berjauhan. Dina sedikit lega, setidaknya Bimo mau menjaga jarak dengannya. Meski Dina sudah terbiasa dengan kehadiran Bimo, ia melakukannya demi kebaikan mereka berdua.


Dina hanya ingin memulihkan nama baiknya di kampus yang sempat menjadi perbincangan di kampusnya. Dina ingin membuktikan jika bukan dirinyalah yang merebut Bimo dari Riri tapi Bimo sendirilah yang mendekatinya.

__ADS_1


Dina cewek yang mandiri, meski sedikit sulit karena ia telah terbiasa dengan kehadiran Bimo yang selalu menemani dan mengantarnya kemana-mana, Dina bisa melalui semuanya.


Hubungan Dina dengan Dendy lebih renggang dari biasanya. Biasa Dendy bisa menelponnya berjam-jam di malam hari, kini dia menelpon hanya sebentar bahkan paling lama setengah jam.


Dendy lebih sering mengirimi pesan singkat. Dina merasa ada yang berbeda dari Dendy meski di setiap mereka berbicara tak ada yang berubah, Dendy masih tetap sama lembut kepadanya.


Dina juga masih setiap seminggu sekali pulang untuk menemui Dendy, setelah beberapa minggu ia menunggu Dendy di rumahnya tapi Dendy hanya mampir sebentar akhirnya Dina mengalah.


Dina kembali ke kebiasaannya mendatangi rumah Dendy. Sambutan mamanya Dendy masih tetap hangat dan tak berubah. Tak ada yang berubah hanya Dendy yang mulai mengurangi lama waktu menelponnya.


"Yang...minggu depan kamu ulang tahun, aku tidak bisa pulang karena itu di tengah-tengah minggu meskipun hari itu kuliahku libur tapi ada tugas-tugas yang harus aku selesaikan" ucap Dina dengan nada sendu


"enggak apa-apa, yang penting doanya saja" ucap Dendy lembut menatap Dina


"semoga saja hari jumat kuliahku kosong jadi aku bisa pulang lebih awal"


"kalau enggak bisa jangan dipaksakan, dan satu lagi jangan bolos kuliah hanya untuk ulang tahunku" ucap Dendy penuh penekanan di akhir ucapannya.


"iya...iya..." Dina menyunggingkan senyumnya


"ingat jangan pernah mengorbankan kuliahmu demi aku" ucap Dendy dengan wajah serius.


Ucapan Dendy seperti menyiratkan sesuatu tapi Dina tak tahu itu apa. Dina tak ingin terlalu memikirkannya, ia pikir mungkin Dendy terlalu stress menghadapi ujian akhirnya.


.


"bagaimana? Kamu jadi kuliah dimana?" tanya papanya Dendy tegas


"universitas yang sama dengan Dina pa..." ucap Dendy tegas


"berarti kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan" ucap papanya Dendy kemudian ia meninggalkan ruang keluarga


"ma...." rengek Dendy


"mama tidak tahu kenapa papa menjadi seperti itu Den..." ucap mama Tari lembut


"tapi ini tidak adil untukku ma..." Dendy menjadi sosok yang berbeda sejak papanya menyuruh dirinya putus dengan Dina "tolong ma, bujuk papa"


"mama tidak bisa Den...mama tidak mungkin melawan papamu" ucap mamanya Dendy

__ADS_1


"ma....baru kali ini aku memiliki pacar yang benar-benar tulus" ucap Dendy


"mama juga menyayangi Dina tapi mungkin kalian berpisah sementara waktu adalah keputusan yang tepat, kalian bisa fokus kuliah kalian masing-masing" ucap mama Tari lembut


Dendy marah, ia mengambil kunci motornya kemudian pergi meninggalkan rumah. Mamanya Dendy hanya bisa menghela nafasnya, melihat anak sulungnya kembali menjadi anak yang tak mau peduli dengan dirinya atau keluarganya.


.


Seperti biasa Dendy menelepon Dina malam-malam. Kali ini hampir setiap hari Dendy meneleponnya seperti dulu yang sering ia lakukan.


^^^☎️ minggu depan aku ke kota J^^^


"mau apa Yang?"


^^^☎️ hanya jalan-jalan saja ^^^


"kamu tidak sekolah?"


^^^☎️ ya sekolah ^^^


"lalu?"


^^^☎️ sudah tenang saja, ^^^


^^^ada rapat yayasan semua siswa diliburkan di hari itu^^^


"oh...aku kira kamu bolos"


^^^☎️ enggak lah...kalau aku bolos kamu pasti akan marah^^^


"jadi cuma takut aku marah? Enggak takut kalau mamamu marah?


^^^☎️ biarkan saja^^^


Mereka berdua mengobrol tak ingat waktu, saling bertukar cerita apa saja yang terjadi ketika mereka tak bertemu. Saling jujur dan terbuka meski hanya melalui telepon sudah membuat mereka sama-sama bahagia.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2