
Maaf bestie....
Lama up nya, maklum libur natal ada saja yang dikerjakan
Selamat Natal untuk teman-teman yang merayakan 😘😘
Oke.... Lanjutttt....
......................
Bimo diam memperhatikan wajah Dina yang tampak murung. Ia benar-benar penasaran dan sedih melihat Dina murung seperti itu. Di hari valentine yang seharusnya dirayakan dengan penuh kebahagiaan, justru Dina tampak murung.
"kalau tidak ada masalah kenapa murung?" tanya Bimo
Dina menghela nafasnya "benar mas....aku tidak apa-apa" ucap Dina memaksakan senyumnya.
Bibir Bimo sudah gatal, ingin bertanya lebih jauh lagi, tapi ia juga teringat Dina tak suka jika ada yang ikut campur dengan masalahnya. Dina tak akan mau dipaksa untuk bercerita apa yang menjadi masalahnya. Ia takut Dina akan marah padanya lagi.
"ini hari valentine, jangan bersedih...." hibur Bimo dengan nada lembut
"valentine dan hari yang lain sama saja mas..." ucap Dina kesal
"ayolah....sehari ini saja....jangan cemberut" ucap Bimo dengan kedua sudut bibir terangkat
Dina menghela nafasnya, kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi "menurut mas... Jika ada cewek yang agresif bagaimana pandangan seorang cowok?"
"tergantung Din....agresif seperti apa dulu..." Bimo serius menanggapi ucapan Dina
"oh begitu ya...."
"ada cowok yang risih jika bertemu cewek agresif, ada yang malah suka" ucap Bimo tersenyum
"memangnya siapa yang agresif?" tanya Bimo mulai penasaran
"hanya tanya mas...." Dina terkekeh "jangan dianggap serius, katanya ini hari valentine tidak boleh cemberut"
"oh...aku kira..." ucap Bimo sedikit kesal
"kira apa mas? Aku agresif begitu?" Dina terkekeh "mas sendiri tahu aku bagaimana"
Makananan yang dipesan Bimo sudah datang. Dina takjub, dulu Bimo tak pernah bersikap lembut bahkan romantis seperti sekarang, yang ada dulu Bimo sesuka hatinya memaksakan apa yang ia inginkan.
__ADS_1
Dina sangat menikmati makanannya, Dina tidak tahu mengapa Bimo sekarang bisa hidup begitu mewah, yang dia ingat dulu keluarag Bimo bukan termasuk keluarga kaya raya, hanya memang papanya Bimo bekerja di sebuah perusahaan besar dan menjadi kepercayaan bosnya.
Sewaktu mereka sedang asyik makan, pelayan datang menghampiri mereka berdua.
"maaf mengganggu, apakah dessertnya bisa dikeluarkan sekarang?" tanya pelayan itu
"ah...iya boleh..boleh...ucap Bimo" dengan nada antusias
Pelayan itu pun meninggalkan Dina dan Bimo. Dan tak lama kemudian membawa piring yang berisikan sepotong cake cokelat dihiasi dengan krim berwarna pink dan terdapat tulisan di pinggir piringnya 'happy valentine Dina sayang'
Pelayan tersebut meletakkan piring tersebut di hadapan Dina. Dengan mata berbinar Dina tak henti-hentinya menatap kue yang menurutnya sangat indah.
"ayo dimakan, jangan dilihat saja" ucap Bimo dengan senyum mengembang
"tapi ini terlalu cantik untuk dimakan mas..." ucap Dina
"lebih cantik yang memakan daripada kuenya" Bimo terkekeh
Dina mulai menyuapkan cake ke dalam mulutnya "ini enak mas....kenapa mas sekarang jadi penuh kejutan?" tanya Dina dengan senyum mengembang
"syukurlah kamu menyukainya" ucap Bimo menarik kedua sudut bibirnya "ini untukmu..." Bimo menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna merah
"bukalah..." ucap Bimo lembut dengan nada tegas
Dina membuka kotak beludru berwarna merah itu. Dina terkejut, kemudian ia menutup lagi kotak itu dan mendorong kembali ke arah Bimo.
"kenapa?" Bimo mengerutkan dahinya
"maaf mas....aku tidak bisa menerimanya" ucap Dina lirih takut menyinggung Bimo
"kenapa tidak bisa?" Bimo mulai marah
"ini semua terlalu berlebihan untukku mas, aku bukan siapa-siapa, kita tidak punya hubungan apapun" Dina mencoba berhati-hati menanggapi ucapan Bimo
"bagiku kamu itu calon istriku Din...aku yakin suatu saat kamu akan menjadi istriku" ucap Bimo nadanya mulai meninggi
"mas..! Hari ini aku sudah cukup lelah menghadapi masalahku, jika kamu mengajakku hanya untuk berdebat lebih baik aku pulang" Dina kesal dan hendak beranjak dari duduknya
"Din...maaf....tolong duduk lagi ya...." Bimo memohon, memelas, menyadari jika ia terlalu memaksa Dina. Dina duduk kembali di kursinya dengan perasaan kesal.
"tolong terima ini ya...aku tidak akan mengungkit-ungkit lagi masalah pernikahan" ucap Bimo mengiba
__ADS_1
"tapi aku tidak bisa menerimanya mas, ini terlalu berlebihan untukku" ucap Dina dengan nada sedikit kesal
"tolong ya Din.... Sudah lama aku ingin memberikan ini padamu tapi tak ada kesempatan" Bimo memohon
Dina menghela nafasnya "baiklah...tapi aku tidak mau terikat dengan semua pemberian yang mas berikan"
"anggap saja pemberian dari pengagummu" ucap Bimo dengan nada penuh permohonan
"baiklah..." Dina menghembuskan nafasnya kasar
"aku pakaikan ya..." ucap Bimo dengan tatapan penuh harap
Dina mengangguk menyetujui permintaan Bimo. Bimo bangkit berdiri memakaikan kalung dengan liontin inisial nama Dina dan bertahtakan beberapa butir berlian kecil yang terlihat sangat indah. Bimo telah lama menyimpannya, ia ingin memberikan kalung tersebut ke Dina.
"cantik, secantik yang memakainya" Bimo tersenyum puas.
"terima kasih" ucap Dina datar
Bimo kembali duduk di haadapan Dina, ia menatap puas dengan apa yang ia beli untuk Dina.
Dina kembali diam, ia menyesali keputusannya untuk ikut dengan Bimo. Ia pikir Bimo tidak akan mengungkit masalah pasangan hidup, tapi nyatanya Dina salah.
Bimo masih saja berharap padanya. Padahal sudah berkali-kali Dina menegaskan jika dirinya sudah memiliki tambatan hati, dan sudah menetapkan pilihannya pada Dendy.
Bimo seolah-olah menulikan telinganya saat Dina membahas masalah Dendy, masalah perasaannya dan juga keinginannya. Dina ingin menghindar dari Bimo, tapi ia merasa semua usahanya akan sia-sia selama mereka berkuliah di gedung yang sama.
.
.
.
B e r s a m b u n g
Dukung terus karya ini ya bestie
Please like votw dan komenny ya
Terima kasih sekebon...
Dan selamaat menyongsong tahun baru 2023 🎉🎉🎉
__ADS_1