Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 74


__ADS_3

Setelah perdebatan yang terjadi di studio baik Dina dan Anto tidak saling tegur sapa, meski mereka sekelas. Dina masih merasa kesal dengan Anto yang notabene kru baru sudah berani melangkahi dalam mengambil keputusan.


Tapi dengan adanya Putra yang kini menjadi teman sebangkunya perlahan dia melupakan kekesalannya karena Putra yang suka membuat lelucon sepanjang hari.


"Din, besok hari valentine lho...." ucap Putra berbisik karena masih jam pelajaran


"terus kenapa?" ucap Dina sambil menulis apa yang dijelaskan oleh gurunya


"kamu mau kasih aku kado apa?" tanya Putra berbisik


"hah?" Dina menatap teman sebangkunya dengan tatapan heran


"hehehe" Putra tersenyum menampilkan dua baris giginya sambil melipat jarinya membentuk huruf V


"memangnya siapa kamu minta kado sama aku?"


"aku 'kan si Putra, cowok paling tampan di kelas ini, yang baik, tidak sombong dan rajin menabung" ucap Putra masih memamerkan dua baris giginya


Dina memutar bola matanya malas, kembali fokus memperhatikan gurunya yang memberi penjelasan di depan papan tulis. Putra masih berusaha menyenggol Dina dengan sikunya mencari perhatian Dina.


"iya...iya...besok aku kasih kado" ucap Dina kesal


"yesss...." Putra bersorak kegirangan sampai guru yang menjelaskan di depan menengok ke arahnya. Sontak Putra pura-pura sedang menulis.


.


.


Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi, Dina tidak terlalu terburu-buru pulang, dia masih membereskan barang-barangnya sebelum pulang. Sekilas dia melihat Yuni yang menatapnya dengan pandangan sinis.


'masih saja merasa dia paling benar' gerutu Dina dalam hati.


Dina melajukan motornya dengan kecepatan sedang, sambil menikmati pemandangan sore hari di sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Sesampainya di rumah Dina meletakkan tasnya di dalam kamar dan keluar lagi untuk ke kamar mandi.


"kak...tadi ada telepon" ucap Alan adik Dina setengah berteriak karena dia sedang asyik menonton kartun kesukaannya.


"dari siapa?" tanya Dina


"entah tadi yang terima telepon Nino" jawab Alan


Dina masuk ke kamar mandi, tidak mempedulikan lagi siapa yang telah menelponnya. Kalau penting paling nanti juga telepon lagi pikirnya. selesai mandi Dina membereskan buku-buku yang belum sempat ia bereskan tadi pagi.


"kak...telepon" teriak Alan adik Dina


"dari siapa?" Dina membuka pintu kamarnya


"aku tidak tanya dari siapa, cuma tanya kak Dina sudah pulang apa belum" ucap Alan masih memperhatikan acara televisinya


"terus...?" Dina berjalan mengahampiri adiknya yang masih asyik menonton kartun


"ya.... itu teleponnya masih belum ditutup"


Dina berjalan menuju meja telepon, dia mengangkat gagang telepon dan menempelkannya di telinga kirinya


"halo"

__ADS_1


^^^☎️halo Dina^^^


"oh...ada apa Den?"


^^^☎️ Din maaf ya beberapa hari ini aku agak sibuk^^^


"iya"


^^^☎️ besok sabtu aku jemput seperti biasa ya^^^


"iya"


^^^☎️ ya sudah aku tutup teleponnya ya^^^


"iya"


Dina menutup teleponnya, ada sedikit rasa kesal di hatinya. Beberapa hari ini Dendy tidak menjemputnya seperti biasa, bahkan telepon saja tidak. Sekalinya telepon hanya mengatakan kalau dia sibuk.


Untuk meredam rasa kesalnya, Dina memilih menyibukkan dirinya dengan belajar sambil mendengarkan radio. Ujian Akhir yang tinggal menghitung bulan membuatnya harus mempersiapkannya dengan baik.


.


.


Keesokan harinya, hari Jumat sesuai jadwal pelajarannya jam pertama adalah jam pelajaran olah raga. Jadwal pelajaran olah raganya berbarengan dengan kelasnya Toni, lagi-lagi guru olahraga Toni tidak hadir, maka pelajaran olahraga kelas Dina digabung dengan kelasnya Toni.


Kali ini Dina tidak lagi enggan jika harus berinteraksi dengan Toni. Toni sudah tidak lagi terlihat berusaha mendekatinya. Dina merasa tidak ada lagi yang harus ia hindari.


Tapi Toni masih tampak curi-curi pandang ke Dina, menurutnya Dina semakin cantik ketika berolahraga. Toni hanya bisa memandangnya dan curi-curi pandang, ia tidak berani mendekat seperti sebelum-sebelumnya. Ia takut Dina marah dan enggan berbicara lagi dengannya jika tidak sengaja bertemu.


Bel istirahat telah berbunyi, Dina yang sudah menyelesaikan ulangannya meminta ijin kepada gurunya untuk beristirahat. Mendadak Dina merindukan nasi soto kantin Pak Jo. Dina berjalan terburu-buru karena dia merasa tenaganya terkuras setelah olahraga belum sempat istirahat sudah dihadapkan dengan ulangan Fisika.


Widi yang sudah berada di kantin pak Jo, melihat Dina yang berjalan menuju ke kantin buru-buru memesankan nasi soto seperti yang biasa Dina pesan. Nasi soto tanpa taoge dan pakai irisan tomat rebus yang dimasukkan dalam kuah soto itu yang menjadi favorit Dina.


"Din... sudah aku pesankan seperti biasa" ucap Widi ketika Dina masuk ke kantin


"eh...terima kasih Wid" ucap Dina tersenyum lebar ke Widi yang berdiri di depannya


"kamu duduk saja di tempat biasa" ucap Widi berjalan meninggalkan Dina untuk mengambil pesanannya untuk Dina


Widi sudah membawa semangkok nasi soto dan segelas jeruk hangat untuk Dina. Dia meletakkannya di meja tempat Dina duduk.


"ini Din" Widi ikut duduk di hadapan Dina "ayo cepat dimakan mumpung belum dingin"


"iya terima kasih, kamu tidak makan?" tanya Dina sambil menuang sambal ke mangkok sotonya


"nanti saja Din, belum lapar" ucap Widi sambil memperhatikan Dina yang sibuk mengaduk-aduk sotonya.


"aku makan dulu ya Wid, lapar....habis olahraga belum sempat makan" ucap Dina sembari tersenyum dan dijawab dengan anggukan oleh Widi


"Din, kamu beneran pacaran sama adiknya Gilang?" tanya Widi


"he em..."jawab Dina sambil mengunyah nasinya


"oh..." Widi memperhatikan Dina yang sedang makan, ada rasa sesak di dadanya, untuk kesekian kalinya Dina berpacaran, tapi itu juga kesalahannya karena dia tidak berani mengungkapkan perasaannya.

__ADS_1


Widi mengambil sebuah bungkusan dari saku celananya


"ini Din buat kamu" Widi memberikan bungkusan itu kepada Dina


Dina berhenti menyuapkan nasinya dan memandang ke arah Widi.


"apa ini Wid?" Dina mengerutkan dahinya menatap Widi dan mengambil bungkusan yang diberikan oleh Widi


"Happy Valentine Din" ucap Widi dengan senyum dipaksakan


"oh...terima kasih" ucap Dina tersenyum lebar


"yang masalah kemarin sudah aku selesaikan Din" ucap Widi


"masalah apa?" Tanya Dina masih mengunyah makanannya


"masalah kru baru" ucap Widi maasih menatap Dina yang asyik menikmati nasi sotonya


"itu Anto yang bawa, sudah aku katakan ke Dia untuk tidak membawa kru baru lagi sampai ada rapat bersama-sama"


"aku bukannya tidak setuju ada kru baru lagi, kalau memang kalian perlu ya silahkan, tapi harus dibicarakan dulu dengan semua tim dan pak Har, bukan tiba-tiba diajak ke studio" Dina meletakkan sendoknya dia sudah selesai makan


"semua peralatan yang ada di studio itu hasil kerja kerasmu kalau sembarangan ambil kru takutnya mereka malah membuat rusak semua hasil kerja kerasmu" terang Dina


"iya Din, aku mengerti aku tahu maksud kamu, kita dari awal yang membangun itu semua, dari dulunya hanya sebuah gudang tidak terurus sekarang bisa menjadi sebuah studio, semua tenaga dan pikiran kita ada di situ"


"ya sudah...kalau kamu mengerti, kita ini tim jadi semua harus dibicarakan bersama-sama" Dina bangkit berdiri dan menepuk bahu Widi.


Dina berjalan ke arah ibu Jo untuk membayar makanannya


"sudah dibayar mas Widi mbak" ucap Ibu Jo


"oh..terima kasih bu" ucap Dina tersenyum


Dina berjalan keluar kantin, ia sudah tidak mendapati Widi duduk di tempatnya tadi.


Dina hanya ingin yang terbaik. Menjaga semua hasil kerja keras mereka, tidak ingin sembarang orang bisa masuk ke studio apalagi ruang siar. Tidak sedikit uang yang telah dihabiskan oleh mereka demi studio itu.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


.


Yuk bestie...jangan lupa ritualnya, tinggalkan jejak like komen dan votenya ya


Jangan lupa juga kirim-kirim bunga atau kopi


Terima kasih sekebon bestie

__ADS_1


__ADS_2