
Dendy benar-benar merasa bersalah atas perbuatannya. Dendy pasrah setelah ini hubungannya dengan Dina akan seperti apa. Meskipun Dina sudah mengatakan kalau ia tidak meminta untuk memutuskan hubungan mereka. Tapi tetap saja ia belum bisa merasa lega sebelum Dina kembali seperti dulu.
Dina 'pun juga sama perasaannya campur aduk. Di satu sisi ia sudah telanjur sayang dengan Dendy di sisi lain ia juga merasa sangat kecewa dengan perbuatan Dendy. Ia juga merasa bersalah karena memang beberapa hari terakhir ia menghindari Dendy. Hanya ingin melihat seberapa keseriusan Dendy.
Bagaimana cara Dendy untuk menjelaskan dan meminta maaf padanya. Selain itu ia juga butuh waktu menenangkan hati dan pikirannya setelah apa yang ia lihat sewaktu pulang dari rumah Dendy.
Dendy melihat Dina melamun, diam pandangannya 'pun kosong menerawang jauh. Tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Dina. Selama ia mengenal Dina, belum pernah ia melihat Dina seperti itu. Mungkin pernah sesekali ia melihat Dina melamun tapi tidak sekosong itu pandangannya.
Ia melihat Dina seolah-olah sedang menanggung beban berat. Dendy berpikir apakah karena dia Dina menjadi seperti itu. Sedalam itukah ia melukai Dina, kalau benar berarti memang dia benar-benar cowok yang bodoh.
'apa yang sedang Dina pikirkan? Apakah memikirkan masalah ini? Ataukah ada masalah lain? Tidak pernah aku melihatnya seperti ini. Ingin bertanya aku takut tapi kalau tidak bertanya pasti akan disebut malu bertanya jadi bodoh' Dendy berbicara dalam hatinya
"Din... Ada apa?" Dendy memberanikan diri untuk bertanya
"hah...?" Dina terkesiap menatap Dendy
"apa karena aku kamu melamun?" Dendy merasa bersalah sedangkan Dina hanya menggelengkan kepalanya.
"kamu ada masalah? Cerita sama aku kalau kamu ada masalah" ucap Dendy sambil membelai rambut Dina
"aku tidak apa-apa Den" ucap Dina memaksakan senyumnya
"mulutmu boleh berkata tidak ada apa-apa, tapi matamu tidak" ucap Dendy lembut
"memang ada apa di mataku?" Dina menatap Dendy
"sebentar....sebentar....aku lihat dulu" Dendy menangkup kedua pipi Dina dan menatap dalam-dalam mata Dina "hmmm...ada aku di matamu" ucap Dendy tersenyum merekah
"haish....kamu itu..." Dina memukul-mukul dada Dendy
"aduh...aduh...sakit Din" Dendy mengaduh sambil tertawa "ini baru Dina yang aku kenal" ucap Dendy lembut
"apa yang sedang kamu pikirkan Din? Masalah aku lagi?"
__ADS_1
"tidak Den... Aku memang kecewa dengan kamu, tapi aku juga menyadari aku juga salah karena sempat mengabaikan kamu" ucap Dina menerawang jauh ke depan
"tidak Din...aku yang salah karena aku yang tidak bisa mengerti kamu" ucap Dendy menggenggam erat tangan Dina
"sudah Den...tidak usah bahas siapa yang salah siapa yang benar, aku hanya berharap kedepannya semua bisa dibicarakan baik-baik, apalagi kalau aku jauh dari kamu" ucap Dina
"memangnya kamu mau kemana Din?" tanya Dendy
"aku tidak kemana-mana Den" ucap Dina sambil tersenyum menatap Dendy. Tapi Dendy melihat ada sesuatu yang mengganjal pikiran Dina, senyum Dina tidak selepas biasanya.
"kamu yang bilang kalau ada apa-apa kita bicarakan bersama-sama, tapi kenapa kamu tidak mau membagi masalahmu denganku Din?"
"huh... mungkin benar katamu aku harus menceritakannya kepadamu" ucap Dina
Dina mulai menceritakan apa yang menjadi pikirannya selama ini. Mendekati pengumuman kelulusan Dina semakin takut. Bukan takut tidak lulus tapi takut mengecewakan kedua orang tuanya. Keluarga dari papanya dari dulu memandang sebelah mata terhadap papanya.
Sampai mereka dengan terang-terangan mengatakan bahwa papanya tidak akan sanggup menyekolahkan anak-anaknya sampai lulus kuliah. Dina marah mendengar cerita dari mamanya tentang itu semua. Prestasi Dina sejak masih SD sampai dia SMA tidak pernah dianggap oleh keluarga papanya.
Dina merasa terkekang selama ini. Ia merasa iri dengan teman-temannya yang bisa dengan bebas melakukan kegiatan apa saja di luar rumah. Sedangkan Dina hanya boleh ikut kegiatan yang berhubungan dengan sekolah. Bahkan acara camping tahun lalu 'pun sebenarnya Dina pergi tanpa ijin dari papanya.
Dan sekarang dia sudah mau lulus SMA dia berpikir bagaimana caranya bisa lepas dari semua aturan-aturan di rumahnya. Semua ia ceritakan kepada Dendy. Sampai tangis Dina pecah karena ia benar-bemar sudah lelah menjadi anak manis dan anak pintar.
Dendy mendengar semua apa yang dikatan Dina. Dendy menarik Dina dalam pelukannya, mengusap-usap lengan Dina untuk menenangkannya. Dina menyandarkan kepalanya di bahu Dendy. Selama ini ia tidak pernah menceritakan apa yang dirasakannya kepada orang lain.
Dengan Dendy ia bisa bercerita tentang perasaannya selama ini. Dan yang baru Dendy tahu Dina sebenarnya tidak diperbolehkan untuk berpacaran dengan alasan karena hanya akan mengganggu sekolahnya saja.
Tapi diam-diam Dina berpacaran, tidak ada satupun pacar-pacarnya terdahulu yang sering datang ke rumahnya seperti Dendy. Kedua orang tua Dina tidak pernah mengetahui kalau Dina pernah berpacaran karena Dina tidak pernah menceritakan semua apa yang ia alami kepada orang tuanya.
Dina hanya menceritakan prestasinya di sekolah. Menunjukkan kalau ia bisa selalu menempati rangking sepuluh besar di kelasnya sewaktu SMP dan SMA bahkan ia pernah juga menempati rangking satu di kelasnya.
"sekarang apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Dendy lembut masih memeluk Dina dari samping sambil mengusap-usap lengannya.
"entahlah Den... Sebenarnya aku ingin kuliah di luar kota, tapi ada kamu di sini aku bingung Den.." ucap Dina masih terisak.
__ADS_1
"memangnya kamu mau kuliah dimana?" tanya Dendy mencoba membuat Dina lebih tenang
"entahlah Den, kalau tidak di kota 'J' ya kota 'S' " ucap Dina
"hmmm...kamu mantapkan hati kamu ingin kuliah dimana, aku akan mendukung semua keputusan kamu" Dendy masih mengusap-usap lengan Dina.
"terus kamu bagaimana? Kamu bilang tidak bisa kalau harus berhubungan jarak jauh" Dina menegakkan kepalanya dan menatap Dendy
"aku?....aku tetap di sini, aku 'kan masih kelas tiga " Dendy terkekeh
"tidak mungkin 'kan aku harus pindah sekolah menyusul kamu, padahal aku belum lulus" ucap Dendy dengan tatapan teduh.
"sudah tidak usah dipikirkan aku nanti bagaimana, kamu pikirkan dulu kemana tujuan kamu, aku akan selalu ada buat kamu" Dendy menarik Dina kembali ke dalam pelukannya dan mengecup puncak kepala Dina.
Dendy sebenarnya sedih, merasa berat jika harus berhubungan jarak jauh dengan Dina. Tapi melihat Dina begitu sedih karena semua aturan-aturan di rumahnya, Dendy lebih mementingkan perasaan Dina. Mungkin kelak ketika ia sudah lulus ia akan menyusul Dina, ia akan kuliah satu kota dengan Dina kalau bisa satu kampus juga dengannya.
.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
Dukung terus karya ini ya bestie...
Please like komen dan votenya ya
Terima kasih sekebon bestie
__ADS_1