Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 111 Kedatangan Dendy


__ADS_3

Dendy mengendarai motornya sudah seperti orang yang kesetanan. Antara marah dan cemas itu yang ia rasakan. Tak butuh waktu lama Dendy sudah sampai di rumah Dina.


Dendy memarkirkan motor miliknya di halaman rumah Dina. Baru saja ia akan berjalan untuk mengetuk pintu. Adiknya Dina yang paling kecil masuk ke halaman rumah, tampaknya ia baru pulang sekolah karena masih memakai seragam dan membawa tasnya.


"cari siapa kak?" tanya Nino


"kak Dina di rumah?" tanya Dendy berusaha tersenyum seramah mungkin


"oh...kak Dina sudah tiga hari di rumah sakit" jawab Nino


"siapa yang sakit?" tanya Dendy penasaran


"kak Dina" jawab Nino membuat Dendy membulatkan matanya. Ia terkejut ternyata Dina dirawat di rumah sakit dan ia tidak tahu


"rumah sakit mana?" tanya Dendy dengan wajah panik


"rumah sakit XXX" jawab Nino


"baik terima kasih ya..." Dendy segera bergegas pergi


Pikirannya campur aduk, ia merasa bersalah. Dina sudah tiga hari di rumah sakit, berarti setelah pertengkaran mereka itu Dina masuk rumah sakit.


Dan selama tiga hari ia tidak tahu apa-apa tentang Dina. Sungguh pacar yang bodoh selalu terlambat mengetahui segala sesuatu tentang Dina. Dan ini untuk yang kesekian kalinya ia berbuat bodoh mengabaikan Dina.


Padahal seharusnya kemarin ia bisa langsung mendatangi Dina, tapi ia masih mementingkan egonya yang menganggap Dina sudah membohonginya.


Dalam waktu sepuluh menit Dendy sudah sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan motornya, ia dengan tergesa-gesa menuju ruang informasi untuk menanyakan ruang rawat Dina. Setelah mengetahui ruang rawat Dina ia berjalan dengan langkah lebar menuju ruang rawat Dina.


Setelah sampai di depan ruang rawat Dina, ia mencoba menetralkan nafasnya yang tersengal-sengal karena dari rumah ia sudah seperti orang yang kesetanan. Ia mengetuk pintu pelan kemudian ia membuka pintu dan menemukan pemandangan yang membuat dadanya begitu sesak. Ia melihat Toni sedang menyuapi Dina.


Pikirannya berkecamuk, mengingat kemarin ia bertemu Toni di pintu keluar rumah sakit, apakah sejak kemarin Toni yang menemani Dina. Dendy berjalan mendekati brankar Dina.


"biar aku yang menyuapi Dina" ucap Dendy dingin


"tanggung, biar aku selesaikan tinggal sedikit lagi" ucap Toni tak kalah dingginnya.


Dina hanya diam menatap datar ke arah mereka berdua yang memperebutkan siapa yang mau menyuapinya.


"sudah Ton, aku sudah kenyang" ucap Dina mendorong piring yang dipegang oleh Toni.

__ADS_1


"ayo dihabiskan Din, biar kamu bisa cepat pulang" ucap Toni dengan nada lembut


Dendy mengepalkan kedua tangannya, melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya.


"lebih baik kamu pulang saja, jangan membuat Dina semakin sakit" ucap Toni datar sambil menyuapi Dina


"apa hak kamu di sini?! Aku pacarnya aku yang lebih berhak!" ucap Dendy mulai tersulut emosinya


"pacar yang telah membuat Dina masuk rumah sakit, pacar macam apa itu?!" ucap Toni sinis "lagipula mamanya meminta aku menjaganya sampai papanya datang" lanjutnya


"kau....!" ucap Dendy menarik baju yang dipakai Toni


"sudah....sudah..!! kalau kalian di sini hanya mau membuat keributan sebaiknya pulang saja" ucap Dina datar


"aku akan tetap di sini sampai papamu datang Din" ucap Toni lembut


Dendy hanya bisa mengepalkan tangannya. Ia tidak mau kalah dari mantan pacar Dina.


Dina sudah menghabiskan makanannya, Toni tersenyum puas melihat wajah Dendy yang sedang menahan emosinya. Ia berbangga hati, karena bisa menyuapi Dina hingga makanannya habis.


Ceklek...


Terdengar pintu dibuka, dan masuklah dokter muda yang merawat Dina. Dokter tersebut memeriksa Dina dengan teliti.


"masih sering sakit dok, apalagi kalau makan, terlalu lama berdiri dan ketika berbicara" ucap Dina


"hmm...berarti belum boleh pulang ya...tapi makannya bagaimana? Aku lihat piringnya kosong" ucap dokter itu tersenyum


"siang ini habis dok" ucap Toni


"ya harus habis...biar bisa cepat pulang, apalagi dari kemarin yang menunggu pacar pasti cepat sembuh" ucap dokter muda itu


Seketika wajah Toni memerah, dokternya Dina menganggap ia sebagai pacarnya Dina. Orang lain saja bisa melihat bagaimana pengorbanan Toni. Sedangkan Dina hanya bersikap biasa saja, ucapan dokter itu tidak berarti apa-apa.


"kalau siang ini makannya sudah habis, besok bisa makan yang lebih keras lagi, nasi tim misalnya ya sust..." ucap Dokter itu sambil menulis sesuatu dalam buku rekam medis Dina


"baik dok...nanti saya pesan ke bagian dapur" ucap perawat yang mendapingi dokter itu


"baik....kalau besok lulus makan nasi tim mungkin lusa bisa pulang" ucap dokter muda tersenyum ramah. Kemudian dokter dan perawat itu berjalan meninggalkan ruang rawat Dina.

__ADS_1


Dendy yang sejak tadi mendengarkan percakapan antara dokter, Dina dan Toni merasa semakin sesak di dadanya. Bingung antara rasa kecewa, sakit, cemburu, kawatir dan lega jadi satu.


Ia merasa menjadi pacar yang tak berguna, Dina sakit tapi ia malah menambahi beban pikiran Dina. Tapi melihat Toni yang berada di ruang rawat Dina, ia menjadi yakin kalau memang selama ini Dina masih berhubungan dengan Toni.


Dina berusaha turun dari tempat tidurnya, ia ingin pergi ke toliet. Dendy melihat itu hanya diam saja, sedangkan Toni yang melihat Dina berusaha turun dari tempat tidur dengan sigap menghampiri dan membantu Dina.


"mau ke toilet?" tanya Toni


"iya" jawan Dina datar


Dendy terperangah, melihat Dina yang berjalan dipegangi oleh Toni. Ia tidak tahu kalau Dina ingin ke toilet


"biar aku saja" ucap Dendy merebut kantong infus yang dipegang Toni. Toni hanya tidak mau berdebat, apalagi Dina masih dalam kondisi lemah, ia membiarkan saja Dendy membantu Dina. Sedangkan Dina hanya diam saja tak berkomentar.


Setelah memastikan Dina masuk toilet dan menutup pintu toilet rapat-rapat Dendy menghampiri Toni.


"jangan berani dekat-dekat dengan Dina" ucap Dendy dingin


"lucu....aku tahu apa yang kamu lakukan terhadap Dina" ucap Toni dengan tatapan sinis


"aku melihat kemarin kamu berbuat kasar ke Dina, aku tidak tahu apa masalah kalian, tapi yang perlu kamu ingat Dina tidak akan jatuh sakit kalau ia tidak stres berat"


"tahu apa kamu tentang kami?" ucap Dendy mulai terpancing emosinya dan menarik baju Toni lagi


"aku memamg tidak tahu apa-apa, yang aku tahu, Dina sedang stres jangan menambahi beban pikirannya" ucap Toni penuh penekanan "aku akan merebut Dina dari kamu"


"kau...." Dendy mengangkata tangannya yang terkepal hendak memukul Toni, tapi tidak berhasil pintu toilet terbuka dan terlihat Dina berjalan dengan lunglai sambil memegang kantong infus.


Dendy berlari menghampiri Dina dan membantunya untuk kembali ke brankar. Dendy berusaha menepis perasaan marahnya kepada Dina. Masih ada rasa sayang dan cinta yang begitu besar di hatinya untuk Dina. Ia tidak ingin menyakiti Dina tapi ia sendiri yang menyebabkan Dina semakin sakit.


.


.


.


B E R S A M B U N G


Jangan lupa ritualnya ya bestie

__ADS_1


Like, komen dan votenya ya


Terima kasih bestie 😘😘


__ADS_2