
Tak mudah melupakan begitu saja peristiwa yang menorehkan luka begitu dalam. Terlebih karena rasa cinta yang besar membuat rasa sakit itu semakin dalam.
Cinta, harapan, kerinduan musnah begitu saja hanya karena satu telepon berganti dengan derai air mata tiada henti. Semakin mencoba meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja semakin sesak pula hati Dina.
Dina terus menangis dalam dekapan Bimo, hatinya hancur berkeping-keping mendengar suara seseorang yang asing sedang bersama dengan orang yang dicintainya.
Terlepas siapakah cewek itu, apakah benar ia memiliki hubungan khusus dengan Dendy tapi yang ia pahami Dendy tak peduli padanya saat mengatakan ia sedang sakit.
Berharap semua ini adalah mimpi, ketika bangun semua akan baik-baik saja dan kembali seperti apa yang ia harapkan tapi nyatanya semua ini kenyataan yang harus ia hadapi.
"menangislah jika itu membuat perasaanmu lebih baik" ucap Bimo mendekap tubuh Dina yang semakin hari tampak semakin kurus
Dina terisak, ia tak sanggup menahan tangisnya lagi. Berhari-hari ia mencoba untuk berusaha tetap kuat dan terlihat baik-baik saja nyatanya setiap ia sedang sendiri suara cewek yang bernama Ita selalu terngiang-ngiang di kepalanya.
"Din...masih banyak orang yang menyayangimu, jangan berlarut-larut dalam kesedihan, kamu harus tetap melanjutkan hidupmu" ucap Bimo lembut
Dina melepaskan pelukan Bimo, ia mengusap air matanya "tak seharusnya mas melihatku seperti ini"
"memangnya ada apa? Aku pernah berjanji padamu, aku akan selalu ada setiap kamu butuh teman"
Dina tak menjawab, ia menyadari saat ini ia membutuhkan teman yang mau mendengar keluh kesahnya, tapi ia juga masih bisa berpikir tak mungkin ia harus menceritakannya pada Bimo.
"beberapa hari ke depan biar aku yang mengantar jemput kamu" ucap Bimo lembut
"tidak perlu mas..."
"setidaknya sampai kakimu sembuh, lukamu sekarang infeksi, jadi jangan banyak bergerak" ucap Bimo lembut
.
__ADS_1
Sesuai janji Bimo, setiap pagi ia datang ke kos Dina meskipun Dina tidak kuliah. Bimo mengantar makanan untuk Dina, dan kadang ketika ia sedang senggang tidak ada pekerjaan yang harus ia kerjakan ia menemani Dina.
Dina masih tetap sama, ia masih sering melamun dengan tatapan kosong. Ia masih bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi. Dendy tiba-tiba menghilang dan tak ada komunikasi di antara mereka.
Beberapa kali Dina jatuh sakit karena terlalu memikirkan Dendy. Ia tak lagi semangat untuk pulang setiap minggu. Ia pulang dua minggu sekali itu pun karena adik-adiknya yang memintanya untuk pulang.
Hari-hari Dina lalui hanya dengan melamun, dan lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar kosnya. Ia hanya keluar kos untuk kuliah atau membeli makan sisanya ia hanya melamun di dalam kamarnya.
Sampailah pengumuman tes masuk perguruan tinggi negeri, Dina tak lolos lagi. Cita-citanya untuk menjadi seorang dokter tak bisa terwujud. Ia harus menyelesaikan apa yang ia mulai yaitu kuliah di kampusnya sekarang.
Tahun ajaran baru dimulai, Dina tak lagi semangat untuk segera menyelesaikan kuliahnya. Jadwal kuliahnya kali ini tidak banyak yang pagi, hanya dua hari ia kuliah pagi sisanya ia kuliah di siang hari.
Hari pertama masuk kuliah di semester tiga, seperti biasa Dina berjalan ke kampusnya. Melewati lorong fakultas ekonomi menuju ruang kuliahnya yang terletak di bagian belakan gedung.
Dina tak menyadari, sepasang mata sedang memperhatikannya dari ia masuk kampus sampai melewati fakultas ekonomi. Setiap Dina melalui deretan ruang-ruang kuliah fakultas ekonomi ia tak pernah melirik atau menghiraukan siapa saja yang sedang duduk-duduk di depan ruang kuliah itu.
Sepasang mata itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah dalam hatinya, tapi ia bisa melihat Dina meski tak bisa menyapanya sudah membuat rasa rindunya terobati.
Hampir setiap hari ia menatap Dina dari jauh, memperhatikannya tapi tak bisa menyapanya. Ia memperhatikan Dina tak seperti yang ia kenal, selalu ceria dan ramah.
Beberapa kali ia melihat Dina diantar jemput kuliah oleh seorang cowok, ia merasa cemburu marah dan ingin sekali memaki cowok yang berani mendekati Dina tapi ia tak bisa.
Sekali lagi ia hanya bisa melihat Dina dari jauh, tak bisa mendekatinya. Ia harus berpuas diri dengan keadaan itu. Sudah jalan yang ia pilih, ia tak mungkin bisa kembali lagi.
Yang bisa lakukan hanya berharap, kelak ketika ia lulus kuliah, belum terlambat untuk memperbaiki keadaan. Ia hanya bisa bersabar dan menahan sesak, ketika tak sengaja melihat Dina berjalan bersama cowok lain.
.
"Din...sudah tiga bulan lebih, tapi kamu masih tampak murung...dan lihat badanmu sudah seperti mayat hidup" ucap Berta
__ADS_1
"lalu aku harus bagaimana Ta?"
"lupakan Dendy, buka hatimu untuk orang lain" ucap Ratna
"bagaimana aku melupakannya, dan bagaiman aku membuka hatiku untuk orang lain, sementara aku belum putus dengannya" ucap Dina menahan sesak di dadanya
"jadi sampai sekarang kalian belum putus?" ucap Caca dengan tatapan polosnya. Dina hanya mengangguk membenarkan ucapan Caca
"wah...benar-benar kelewatan itu bocah...seenaknya saja menggantung status temanku ini" ucap Ratna kesal
"bener, dia pikir dia siapa...enggak tahu kalau banyak yang mengantre menjadi pacar Dina..." ucap Caca
"justru karena ia tahu Dina gampang cari pacar makanya ia gantung status mereka" ucap Berta
"sudahlah...nanti kupikirkan lagi, aku enggak tahu dia dimana, aku juga tidak tahu nomor ponselnya" ucap Dina sendu
"sudah...sudah...ayo kita makan di kantin saja...ucap Berta"
Mereka berempat berjalan menunu kantin kampus mereka. Mereka masih tidak menyadari ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka
"kamu tega membuat Dina seperti itu..." ucap salah satu dari mereka
"aku harus bagaimana, aku tak mungkin mengatakan keberadaanku..."
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m bu n g