Pacarku Adik Kelasku

Pacarku Adik Kelasku
Part 119 Kegundahan hati Dina


__ADS_3

Dendy hanya memperhatikan Dina yang sibuk mengamati sekeliling. Dalam hatinya ia bersyukur telah membuang benda-benda masa lalunya yang seharusnya sudah ia buang sejak lama. Baru kali ini ia menjadi cowok yang pemikir, yang mau mengakui jika ia salah.


Bahkan berusaha mempertahankan apa yang ia miliki sekarang. Dengan Dina, ia benar-benar berubah, dulu ia selalu acuh jika pacarnya merajuk atau marah, ia tidak pernah berusaha mencari letak kesalahannya. Ia akan membiarkan pacarnya yang berusaha memperbaiki hubungan mereka.


"kamu sudah makan belum?" tanya Dendy


"sudah tadi, waktu mamamu belum berangkat" jawab Dina "kamu sudah makan belum?


"belum....nanti sajalah aku belum lapar" ucap Dendy sambil membereskan baju-baju kotornya


"tunggu sebentar ya..." ucap Dendy keluar dari kamarnya membawa baju-baju kotor miliknya


Dina merasa capek, kemudian ia merebahkan dirinya di kasur di kamar Dendy.


"ah...nyaman sekali..." gumam Dina sambil menatap keluar jendela


"lhoh kamu kenapa?" Dendy masuk ke kamarnya dan melihat Dina sedang berbaring di kasurnya


"aku hanya capek, boleh aku tidur di sini?" tanya Dina


"tidur saja...aku temani kamu" Dendy juga ikut merebahkan dirinya di sebelah Dina kemudian memeluk Dina


"seminggu ini kamu kemana saja Din?" tanya Dendy lembut


"seperti biasa...cuma di studio" jawab Dina


"kalau kamu berada di studio kenapa kamu tidak mampir ke rumah Din?" tanya Deny menatap Dina dari samping


"aku sudah bilang, aku tidak ingin mengganggu waktu kamu, agar kamu lebih fokus belajarnya" ucap Dina kemudian ia memiringkan tubuhnya menghadap Dendy dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dendy. Tak berapa lama kemudian terdengar suara dengkuran halus, ternyata Dina sudah tertidur.


Dendy menatap dan membelai wajah Dina yang tidur terlelap. Dendy memberanikan diri mengecup kening kemudian pipi kemudian berakhir di bibir. Ia sedikit ******* bibir Dina, ia tahu jika Dina mengetahui kalau ia telah menciumnya pasti akan marah.


Dendy tersenyum, ia benar-benar beruntung memiliki Dina, Dina tidak pernah meminta hal-hal yang di luar kemampuannya, bahkan bisa dihitung dengan jari Dina mengutarakan apa maunya. Dina selalu memaafkan apapun kesalahannya, bahkan selalu memberikan kesempatan untuknya memperbaiki diri.


Ia malu, Dina begitu baik begitu pemaaf sedangkan dia selalu saja berbuat salah. Benar apa yang dikatakan oleh Gilang, Dina tidak akan meminta putus kalau ia tidak keterlaluan.


Lama ia menatap wajah Dina, ia akhirnya ikut tertidur sambil memeluk Dina. Mereka berdua terlelap, di kasur yang sama. Sebenarnya memang Dina sengaja, ia ingin menukar semua waktu yang telah mereka lewatkan pada hari-hari yang lalu. Dina juga ingin meninggalkan kesan sebelum ia harus kuliah di luar kota.

__ADS_1


Setiap melihat Dendy, tekad Dina untuk kuliah di luar kota goyah. Tapi kalau ia tidak keluar dari rumah, selamanya ia akan terjebak dengan aturan yang membuat ia tidak tahu dunia luar.


Sejam berlalu, Dendy mulai membuka matanya, ia tersadar kalau ia juga telah ikut tertidur. Melihat Dina masih tidur dengan nyenyak, ia merapatkan tubuhnya dan memeluk Dina dengan erat seolah-olah Dina akan pergi jauh.


Dendy memikirkan, bagaimana hari-harinya kelak, kalau Dina jadi kuliah di luar kota. Apakah ia akan sanggup tidak bertemu dengan Dina, apakah Dina tetap akan mempertahankan hubungan mereka. Dendy benar-benar bingung harus bagaimana. Di satu sisi ia ingin melihat Dina mengejar cita-citanya di sisi lain ia ingin setiap hari bisa menghabiskan waktu bersama Dina.


Lama Dendy termenung, tidak meyadari kalau Dina sudah bangun. Dina membuka matanya, dan menyadari Dendy memeluknya erat, ia pun akhirnya juga membalas pelukan Dendy dengan erat. Ia juga berpikiran, bagaimana kelak kalau mereka berjauhan, apakah ia sanggup menjalani hubungan jarak jauh.


Karena sebenarnya Dina sama sekali tidak bisa menjalin hubungan jarak jauh. Ia tidak bisa seharipun tanpa mendengar atau melihat orang yang sangat ia sayangi.


"kamu sudah bangun?" tanya Dendy yang sudah merasakan pergerakan bulu mata Dina di dadanya


"baru saja" ucap Dina dengan suara seraknya


"pengumuman tes kapan Din?" tanya Dendy


"minggu depan" jawab Dina


"seandainya kamu tidak lolos, apa rencana kamu?" tanya Dendy


"memangnya kamu sudah memikirkan, kamu ingin kuliah di mana kalau ini tidak lolos?" tanya Dendy lembut sambil mengusap-usap rambut Dina


"sebenarnya aku sudah memikirkan jika aku tidak lolos, aku akan mendaftar di Universitas A di kota J juga" hawab Dina


"bukankah itu kampus swasta ya...?" tanya Dendy


"iya... Saudara-saudaraku ada beberapa yang kuliah di sana, tapi aku bingung" ucap Dina


"kamu bingung kenapa hemm?" tanya Dendy lembut


"aku bingung...aku mau ambil jurusan apa... Sedangkan di sana tidak ada fakultas kedokteran" jawab Dina mengendurkan pelukannya dan menatap wajah Dendy


"kamu ambil jurusan sesuai kemampuan kamu saja..." jawab Dendy


"ya itu yang aku bingung...mau kuliah di ekonomi, aku lemah dalam hafal mengahafal...kuliah di teknik sipil aku paling ga bisa menghitung yang rumit-rumit, informatika paling lemah dengan yang namanya komputer, paling yang masuk akal cuma teknik industri, tapi...entahlah aku bingung" jawab Dina mengeratkan pelukannya lagi


"Aku tidak tahu harus memberi saran apa kepadamu, aku hanya ingin yang terbaik untukmu, aku akan selalu mendukungmu" Dendy membelai punggung Dina

__ADS_1


"sayang....kalau kita berjauhan, kira-kira kita akan bisa bertahan tidak?" tanya Dina menyembunyikan wajahnya di dada Dendy


"aku tidak tahu sayang, tapi aku akan berusaha...memangnya ada apa?" tanya Dendy


"jujur aku sebenarnya tidak bisa kalau harus jauh dari kamu" ucap Dina air matanya mulai keluar. Membayangkan bagaiman hari-harinya ia lalui tanpa ada Dendy yang berada di dekatnya.


"aku juga sama, tapi sebisa mungkin aku berusaha untuk bertahan, lagipula jarak kota J dari sini paling lama dua jam" jawab Dendy yang mulai merasakan dadanya basah


"kalau kangen, kamu bisa pulang atau aku yang mengunjungimu di sana" ucapnya menenangkan Dina


Dina makin terisak, ia tak kuasa menahan perasaannya lagi. Ia sedih, tapi ia juga ingin sekali jauh dari rumah. Andaikan orang tuanya dari dulu memberinya kebebasan untuk melihat dunia luar ia pasti tidak akan seperti ini.


"hei...kamu kenapa menangis?" Dendy menjauhkan dadanya dan melihat Dina yang terisak


"aku hanya sedih..." ucap Dina terisak


"sudahlah... Kita pasti bisa melewati semuanya" ucap Dendy membelai punggung Dina menenangkan Dina


Dalam pikirannya, tahun depan ia juga akan kuliah di kota yang sama dengan Dina agar mereka bisa selalu bersama-sama.


.


.


.


B E R S A M B U N G


.


.


Yuk bestie...jangan lupa ritualnya ya


Please like vote dan komennya ya...


Terima kasih sekebon bestie...

__ADS_1


__ADS_2